Kami sudah duduk selama 5 menit di teras cafe tempat biasa kami bertemu. Baik aku ataupun Lukman, tidak ada yang berbicara. Mungkin karena dia juga sadar bahwa aku sudah mengetahui kebenarannya. “Permisi, ini pesanannya ya, Ice Americano dan Hot Chocolate,” ucap seorang pelayan. “Terima kasih,” balasku. “Diminum dulu,” ucapku kepada Lukman. Dia mengangguk dan mengambil gelasnya. “Nggak nyangka kita udah setahun ya,” ucapku. “Iya,” balasnya dengan senyum yang dibuat-buat. “Maaf kalau aku tiba-tiba ngajak ketemu, padahal kamu agak sibuk.” Ucapku lagi. “Nggak papa, kok. Masih aman. Lagian hari ini kan, aku libur.” Balasnya. “Kerjaan gimana?” tanya Lukman. “Aman juga kok. Kemarin aku sempat coba resep baru, tapi ada miss sedikit jadinya nggak terlalu bagus.” Jawabku. Lukman tersenyum, “Tapi masih bisa dimanakan, kan?” tanyamu. “Masih, sih. Tapi jadi nggak sesuai ekspektasi aja.” Jawabku. “Nggak papa, masih bisa coba lagi.” Ucap Lukman dengan senyum yang lebih lepas dari sebelumnya. “Kalau ...