Langsung ke konten utama

Sepenggal Cerita : 0309

Kami sudah duduk selama 5 menit di teras cafe tempat biasa kami bertemu. Baik aku ataupun Lukman, tidak ada yang berbicara. Mungkin karena dia juga sadar bahwa aku sudah mengetahui kebenarannya.

“Permisi, ini pesanannya ya, Ice Americano dan Hot Chocolate,” ucap seorang pelayan.

“Terima kasih,” balasku.

“Diminum dulu,” ucapku kepada Lukman. Dia mengangguk dan mengambil gelasnya.

“Nggak nyangka kita udah setahun ya,” ucapku.

“Iya,” balasnya dengan senyum yang dibuat-buat.

“Maaf kalau aku tiba-tiba ngajak ketemu, padahal kamu agak sibuk.” Ucapku lagi.

“Nggak papa, kok. Masih aman. Lagian hari ini kan, aku libur.” Balasnya. “Kerjaan gimana?” tanya Lukman.

“Aman juga kok. Kemarin aku sempat coba resep baru, tapi ada miss sedikit jadinya nggak terlalu bagus.” Jawabku.

Lukman tersenyum, “Tapi masih bisa dimanakan, kan?” tanyamu.

“Masih, sih. Tapi jadi nggak sesuai ekspektasi aja.” Jawabku.

“Nggak papa, masih bisa coba lagi.” Ucap Lukman dengan senyum yang lebih lepas dari sebelumnya.

“Kalau hubungan kita?” tanyaku. Aku menelan ludah, belum apa-apa aku rasanya sudah ingin menangis.

“Kenapa hubungan kita?” tanya Lukman terlihat bingung.

“Kamu masih terpaksa?” tanyaku memberanikan menatapnya.

Lukman terdiam dengan tetap menatapku untuk beberapa detik, kemudian ia mengalihkan pandangannya.

“Bukannya kita baik-baik aja, ya?” tanya Lukman.

“Iya, kelihatannya.” Jawabku. “Tapi aku nggak pernah tahu sebenarnya.” Tambahku.

“Emang ada apa sampai kamu mikir kalau apa yang sama-sama kita lihat ini bukan sebenarnya?” tanya Lukman.

“Aku Cuma nanya, selagi hubungan kita masih awal. Aku nggak mau kalau Cuma jatuh cinta sendirian.” Jawabku.

“Aku juga nggak pernah mau maksa kamu kalau sampai 1 tahun ini kamu masih keberatan.” Tambahku.

“Terus mau kamu apa?” tanya Lukman. “Aku tahu, kamu tahu sesuatu sampai akhirnya bahas soal ini. Kalau kamu nggak keberatan, kamu bilang apa itu? Biar aku lurusin kalau itu nggak bener.”

“Aku nggak pernah lihat kamu ngelihat orang lain sedalam kamu lihat Tania. Aku nggak pernah lihat kamu murung semurung kamu lihat Tania sama orang lain. Aku juga nggak pernah lihat bahkan denger ketawa kamu selepas kamu ketawa sama Tania.” Jawabku. “Kalau emang kamu masih suka sama dia, kamu bilang. Aku nggak mau suatu hari nanti, sakit yang aku rasain itu lebih dari ini. Kamu bisa selesain dulu masa lalu kamu. Dan kalau kamu minta aku nunggu, aku bakalan nunggu.” Imbuhku.

“Maaf, ya.” Ucap Lukman. Aku langsung tertunduk, tangisku pecah.

“Kita berhenti aja.” Ucapku kemudian. “Aku nggak mau kamu ngerasa berat karena perasaanku dan aku juga nggak mau sakit karena kamu.”

Lukman hanya diam. “Kamu yakin?” tanyanya kemudian.

“Iya. Walaupun aku nggak tahu setelahnya bakalan gimana.” Jawabku.

“Kita bisa coba sekali lagi.” Ucap Lukman.

“Aku nggak yakin bisa nahan sakit lebih dari ini.” Ucapku.

Lukman kembali menatapku. Kali ini ia menatap lebih lama. Begitu juga denganku.

“Aku nggak akan minta kamu nunggu. Kalau suatu saat kamu ketemu sama orang yang bisa bikin kamu bahagia, silakan. Maaf kalau selama setahun ini aku nggak pernah bikin kamu bahagia.” Ucapnya kemudian.

“Maaf karena udah nyita waktu kamu.” Ucapku. Aku mengusap air mata yang sudah membanjiri wajahku. “Semoga kamu bahagia.” Imbuhku.

“Kamu juga.”

Aku mengangguk kemudian mengambil tas dan pergi. Aku tidak bisa mengatakan apapun lagi. Rasanya juga sudah hancur dan sangat sakit. 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...