Kami sudah duduk selama 5 menit di teras cafe tempat biasa kami bertemu. Baik aku ataupun Lukman, tidak ada yang berbicara. Mungkin karena dia juga sadar bahwa aku sudah mengetahui kebenarannya.
“Permisi, ini pesanannya ya, Ice Americano dan Hot Chocolate,” ucap seorang pelayan.
“Terima kasih,” balasku.
“Diminum dulu,” ucapku kepada Lukman. Dia mengangguk dan mengambil gelasnya.
“Nggak nyangka kita udah setahun ya,” ucapku.
“Iya,” balasnya dengan senyum yang dibuat-buat.
“Maaf kalau aku tiba-tiba ngajak ketemu, padahal kamu agak sibuk.” Ucapku lagi.
“Nggak papa, kok. Masih aman. Lagian hari ini kan, aku libur.” Balasnya. “Kerjaan gimana?” tanya Lukman.
“Aman juga kok. Kemarin aku sempat coba resep baru, tapi ada miss sedikit jadinya nggak terlalu bagus.” Jawabku.
Lukman tersenyum, “Tapi masih bisa dimanakan, kan?” tanyamu.
“Masih, sih. Tapi jadi nggak sesuai ekspektasi aja.” Jawabku.
“Nggak papa, masih bisa coba lagi.” Ucap Lukman dengan senyum yang lebih lepas dari sebelumnya.
“Kalau hubungan kita?” tanyaku. Aku menelan ludah, belum apa-apa aku rasanya sudah ingin menangis.
“Kenapa hubungan kita?” tanya Lukman terlihat bingung.
“Kamu masih terpaksa?” tanyaku memberanikan menatapnya.
Lukman terdiam dengan tetap menatapku untuk beberapa detik, kemudian ia mengalihkan pandangannya.
“Bukannya kita baik-baik aja, ya?” tanya Lukman.
“Iya, kelihatannya.” Jawabku. “Tapi aku nggak pernah tahu sebenarnya.” Tambahku.
“Emang ada apa sampai kamu mikir kalau apa yang sama-sama kita lihat ini bukan sebenarnya?” tanya Lukman.
“Aku Cuma nanya, selagi hubungan kita masih awal. Aku nggak mau kalau Cuma jatuh cinta sendirian.” Jawabku.
“Aku juga nggak pernah mau maksa kamu kalau sampai 1 tahun ini kamu masih keberatan.” Tambahku.
“Terus mau kamu apa?” tanya Lukman. “Aku tahu, kamu tahu sesuatu sampai akhirnya bahas soal ini. Kalau kamu nggak keberatan, kamu bilang apa itu? Biar aku lurusin kalau itu nggak bener.”
“Aku nggak pernah lihat kamu ngelihat orang lain sedalam kamu lihat Tania. Aku nggak pernah lihat kamu murung semurung kamu lihat Tania sama orang lain. Aku juga nggak pernah lihat bahkan denger ketawa kamu selepas kamu ketawa sama Tania.” Jawabku. “Kalau emang kamu masih suka sama dia, kamu bilang. Aku nggak mau suatu hari nanti, sakit yang aku rasain itu lebih dari ini. Kamu bisa selesain dulu masa lalu kamu. Dan kalau kamu minta aku nunggu, aku bakalan nunggu.” Imbuhku.
“Maaf, ya.” Ucap Lukman. Aku langsung tertunduk, tangisku pecah.
“Kita berhenti aja.” Ucapku kemudian. “Aku nggak mau kamu ngerasa berat karena perasaanku dan aku juga nggak mau sakit karena kamu.”
Lukman hanya diam. “Kamu yakin?” tanyanya kemudian.
“Iya. Walaupun aku nggak tahu setelahnya bakalan gimana.” Jawabku.
“Kita bisa coba sekali lagi.” Ucap Lukman.
“Aku nggak yakin bisa nahan sakit lebih dari ini.” Ucapku.
Lukman kembali menatapku. Kali ini ia menatap lebih lama. Begitu juga denganku.
“Aku nggak akan minta kamu nunggu. Kalau suatu saat kamu ketemu sama orang yang bisa bikin kamu bahagia, silakan. Maaf kalau selama setahun ini aku nggak pernah bikin kamu bahagia.” Ucapnya kemudian.
“Maaf karena udah nyita waktu kamu.” Ucapku. Aku mengusap air mata yang sudah membanjiri wajahku. “Semoga kamu bahagia.” Imbuhku.
“Kamu juga.”
Aku mengangguk kemudian mengambil tas dan pergi. Aku tidak bisa mengatakan apapun lagi. Rasanya juga sudah hancur dan sangat sakit.
Komentar
Posting Komentar