Kami hanya saling bersitatap kemudian Ibel mengangguk dan berjalan menuju sepeda motor tua miliknya. Aku mengikuti di belakangnya dengan pasrah. Dia galau lagi. “Ya Allah, Ibel. Kapan sih lo baik-baik ajaaaaa?!!!” seruku dalam perjalanan. “Gue capek, Bel jadi sandaran lo terus!!!!” tambahku. Beberapa pengendara yang menyalip kami menoleh heran ke arah kami. “Berisik, malu dilihatin orang!” ucap Ibel sambil mencoba menepuk kakiku. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di sebuah jembatan yang menyuguhkan pemandangan langit sore lengkap dan jelas dengan matahari yang akan berjalan tenggelam di ujung Barat. Ibel masih terdiam. Aku hanya berkali-kali menghela napas. “Bisa nggak sih lo napas tapi nggak bersuara!” ucap Ibel menoleh kesal ke arahku. “Bel, harusnya gue yang marah sama lo. Bisa nggak sih, lo seneng. Lo ikhlasin semuanya termasuk cewek itu! Mau sampai kapan lo kayak gini?” ucapku. “Lo, sih. Nggak pernah pacaran. Nggak tahu kan susahnya ngelupain orang yang pernah sama-sama sama...