Langsung ke konten utama

CHAT : Deep Talk

Udah lama nggak nulis, udah lama nggak nongkrong, banyak hal yang akhirnya gue nggak papa-kan, berusaha untuk baik-baik aja.

Gue ngerasa udah jarang nangis. Sekalinya nangis cuma netes doang dan udah. Tapi justru itu yang buat gue ngerasa nggak lega. Rasanya ada yang ketahan, rasanya makin nyesek, tapi gue juga nggak tahu harus gimana.

Mungkin ada seminggu terakhir ini, gue rutin minum Vitamin B kompleks yang dipercaya bisa nurunin stress. Hampir setiap pagi gue ngerasa nggak beres, mood swing, penat. Makanya gue selalu minum itu.

Dan hari ini, mungkin karena semuanya lagi capek, banyak kerjaan yang bukannya selesai malah nambah terus. Kayaknya ada kalimat gue yang nyakitin perasaan rekan kerja gue dan bikin suasananya jadi canggung. Gue udah minta maaf dan mencoba bercanda, tapi dia cuma diem aja.

Nggak cuma satu orang, ada rekan lain yang gue juga nggak tahu apa gue ada salah bilang ke dia juga. Tapi mendadak nggak enak juga sikapnya ke gue.

Anjing, hahahaha. Selama dikerjaan gue cuma bilang dalam hati, emang gue ini anjing, bangsatlah, udah paling bodoh, paling nggak tahu diri, paling nggak penting. Nggak pernah bersyukur udah dapet temen baik, masih juga disakitin. Padahal kalau ditinggalin juga bakalan nyesel sendiri. Tapi disaat yang sama gue mencoba untuk biasa, gue cuma ambil jarak sama dia karena berkali kali gue mencoba bicara sama dia, nggak direspon. Gue cuma bilang ke diri gue sendiri, emang lo nggak pernah berhak punya orang lain, lo nggak berhak ngerasa seneng dengan sebuah relasi apapun itu, hidup lo cuma sendiri mau seneng atau berantakan sekalipun. Karena keegoisan gue yang membunuh semuanya termasuk diri gue sendiri.

Setiap kali gue nulis, gue juga ngerasa bersalah karena dalam pikiran gue, orang akan menganggap ini pembelaan untuk diri sendiri, ini drama yang lagi-lagi gue buat. Mungkin itu juga yang buat gue nggak bisa nulis secara terang.

Gue akan mengiyakan semua kata mereka yang mengatakan gue nggak jelas, nyusahin orang, apapun itu. Gue akan iyakan, karena gue juga ngerasain itu. Nggak gampang buat bisa tenang kayak orang diluar sana, gue nggak bisa menahan semuanya sendirian. Dan mungkin karena gue memaksakan banyak hal akhir-akhir ini, membuat kekacauan yang ujungnya juga nyakitin diri gue sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...