Kami hanya saling bersitatap kemudian Ibel mengangguk dan berjalan menuju sepeda motor tua miliknya. Aku mengikuti di belakangnya dengan pasrah. Dia galau lagi.
“Ya Allah, Ibel. Kapan sih lo baik-baik ajaaaaa?!!!” seruku dalam perjalanan. “Gue capek, Bel jadi sandaran lo terus!!!!” tambahku.
Beberapa pengendara yang menyalip kami menoleh heran ke arah kami.
“Berisik, malu dilihatin orang!” ucap Ibel sambil mencoba menepuk kakiku.
Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di sebuah jembatan yang menyuguhkan pemandangan langit sore lengkap dan jelas dengan matahari yang akan berjalan tenggelam di ujung Barat.
Ibel masih terdiam. Aku hanya berkali-kali menghela napas.
“Bisa nggak sih lo napas tapi nggak bersuara!” ucap Ibel menoleh kesal ke arahku.
“Bel, harusnya gue yang marah sama lo. Bisa nggak sih, lo seneng. Lo ikhlasin semuanya termasuk cewek itu! Mau sampai kapan lo kayak gini?” ucapku.
“Lo, sih. Nggak pernah pacaran. Nggak tahu kan susahnya ngelupain orang yang pernah sama-sama sama lo dalam waktu lama.”
“Iya...si paling pacaran!!! Lo pikir soal ngelupain Cuma ada di kehidupan pacaran. Dalam kehidupan lain juga ada dan gue juga pernah!” ucapku tidak terima.
Kami sama-sama diam, aku kesal dengan Ibel dan mungkin Ibel juga sama, dia kesal dengan masalah hidupnya ditambah dengan ocehanku.
Diam-diam aku melirik ke arahnya. Perihal melupakan paling sulit dalam hidupku adalah tentang Ibel. Melupakan dan mengikhlaskan perasaan suka terhadapnya. Karena kami hanya sebatas teman.
“Bel,” panggilku sambil menatap ke arahnya. Ibel hanya melirik sekilas dengan malas.
“Besok malam minggu ada pasar malam, datang ke sana aja, yuk!” ucapku kemudian.
Tanpa aba-aba, Ibel langsung memukul kepalaku.
“Awwww!! Sakit goblok!”
“Lo yang goblok!”
“Gue harus gimana, sih. Biar lo balik seneng-seneng, bercanda, kayak kemarin?! Harus datengin Karina?! Harus nyuruh dia balikan sama lo?! Bel! Hidup lo itu bukan Cuma soal Karina. Hidup lo nggak akan berhenti Cuma karena lo nggak sama-sama lagi sama Karina. Lo Cuma bisa mati kalau kehilangan napas, udah itu doang!” ucapku menggebu-gebu.
“Lo nggak ngerti....”
Aku langsung menarik tangan Ibel, “Iya!!! Gue nggak pernah ngerti sama kehidupan lo! Tapi gue berusaha untuk ada dan ngerti kondisi lo!” potongku. “Gini, deh.” Jedaku. “Kasih gue kesempatan buat nunjukin versi baik dari kehilangan seseorang.” Lanjutku.
“Gimana?” tanya Ibel dengan wajah penasaran.
“Ya udah, malam minggu kita dateng ke pasar malam. Jemput gue jam 7 malam, kita mulai tournya.” Ucapku.
“Nggak usah bercanda, deh!”
“Siapa yang bercanda? Muka seserius ini masih lo bilang bercanda?!”
“Hahaha, serius apanya! Dasar!!!” Ucap Ibel sambil menyentil dahiku.
“Bisa nggak sih kalau nggak pakai penyiksaan?! Kalau boleh nyekek, udah gue cekek dari tadi! Udah, ayo pulang!” Ajakku sambil memberikan helm miliknya.
***
Seperti yang sudah kami sepakati, Ibel menjemputku pukul 7 malam. Aku sengaja mengenakan sedikit riasan, yaitu lipstick.
“Dih, tumben pakai lipstick.” Ucap Ibel sambil memberikan helm.
“Biar nggak pucet, udah berkali-kali gue dikatain kayak orang sakit.” Jawabku sambil memakai helm tersebut.
“Kalau percobaan kali ini nggak berhasil, gimana?”
“Ehh, nggak boleh taruhan ya! Dosa!” ucapku.
“Bukan taruhan, gue nanya!”
“Yeee...belum juga nyoba udah nanya kemungkinan buruk aja. Kalau nggak berhasil, inget kata voucher hadiah. Coba lagi.”
Ibel menatap malas dan langsung menyalakan mesin sepeda motornya.
Sesampainya di sana, kami mengambil tiket masuk dan mengenakan gelang tanda pengunjung.
“Gue tahu lo juga pernah kan ke sini sama si blasteran itu.” Ucapku.
“Hemmm,” respon Ibel dengan malas.
“Dulu gue juga pernah ke sini sama Ayah, umur 5 tahun. Waktu itu gue dibeliin gula kapas.”
Ibel menoleh dengan tatapan tidak enak. Yah, itu tatapannya setiap kali mendengarku membahas soal Ayah.
“Mau beli?” tanyanya kemudian.
“Ayoookk!!!” seruku dan berlari ke arah penjual gula kapas.
“Gue juga sempat malas ke pasar malam setelah Ayah meninggal. Karena gue jadi inget aja sama kenangan itu. Tapi....” aku mengunyah gula kapas lebih dulu. “Lo inget nggak sih, Bel?! Tahun kemarin lo ngajak gue ke sini dan ternyata gue nggak papa.” Lanjutku.
“Terus?” tanya Ibel.
“Gue tahu, semenjak lo putus sama si blasteran itu, lo jadi malas ke tempat-tempat yang biasa lo kunjungin waktu sama dia karena gue yakin lo pasti jadi keinget sama kenangan lo soal dia. Tapi Bel, itu justru bikin lo ngerasa terbatas. Coba rubah aja ingetan lo, lagian lo ke tempat-tempat itu nggak Cuma sama Karina doang kan? Gue pernah lo ajak ke warung Pak Barjo, ke Cafe Manila juga, ke Galeria depan Alpa juga, cukur di tempatnya Pak Mamat, gue juga pernah kepleset pas di resto sederhana, sampai lo malu dan ninggalin gue sendirian di sana. Coba deh, lo puter ingetan lain selain sama Karina. Biasanya nih, pas sama gue banyak kejadian yang bikin lo ketawa tapi gue yang malu.”
“Hahahaha, iya bener.” Ucap Ibel dengan tawanya yang akhirnya pecah.
“Nah, gitu dong! Masa iya, cowok ganteng mukanya dilipet terus.”
“Apa lo bilang?”
“Iya, Bel. Lo ganteng, gue akuin itu.”
“Hahaha, baru kali ini lo bilang gue ganteng.”
“Gue ma jujur, Cuma gengsi aja, bukan sih, Cuma nggak mau lo besar kepala terus sombong nggak tahu diri.”
Kami kembali berjalan memutari area pasar malam.
“Dulu gue juga pernah lo main bianglala.” Ucapku sambil melihat kurungan-kurungan yang menggantung dengan lampu, yang berputar cukup pelan.
“Mau naik?” tanya Ibel.
“Lo, kan takut tinggi!”
“Ya kan lo doang yang naik,”
“Dih, nggak adil!”
“Lo mau?” tanya Ibel sekali lagi.
“Lo mau nggak?” tanyaku kepada Ibel.
“Ya udah, ayo.” Ucapnya pasrah.
Saat masuk kedalam, Ibel terlihat cemas. Tangannya tidak berhenti bergerak dan matanya tidak berhenti beralih pandangan. Aku menepuk punggung tangannya pelan.
“Tenang, Bel. Kita bukan lagi naik roket yang sekalinya jalan langsung kecepatan angin.” Ucapku.
“Dulu gue juga takut, Bel. Tapi Ayah bilang, tutup mata kamu dulu pas bianglalanya naik, setelah 10 detik kamu buka mata terus lihat ke luar jendela. Dari ketinggian, kita bisa lihat sesuatu yang indah dan jarang orang lihat. Bahkan, kalau kamu beruntung Cuma kamu yang bisa lihat itu. Contohnya, orang di samping lo.” Ucapku berakhir dengan tawa.
“Basi, lo!!” ucap Ibel sambil menyenggol bahuku. Ia tertawa sebal.
“Kan...baik-baik aja kan?! Lihat deh, lo bisa lihat Tugu Perahu dari sini, lo bisa lihat lampu-lampu gedung mirip kayak di gambar-gambar itu.” Ucapku.
Ibel hanya menoleh ke arahku singkat dan mengangguk. Ia kembali menatap ke luar jendela.
Setelah selesai bermain Bianglala, kami istirahat sejenak memakan sosis bakar dan cumi.
“Habis ini, foto yuk!” ajak Ibel.
“Dih, tumben! Aaaaa....takut kangen sama gue ya?!” godaku.
“Najis!!!” serunya.
“Bel, jadi orang jangan berlebihan. Kalau lo sampai suka sama gue, repot nanti.”
“Gini, ya. Gue Cuma menghargai pertemanan kita yang udah bertahun-tahun ini. Dari awal kita yang nggak bisa akur sampai akhirnya akur kayak gini.”
“Itu masalahnya di lo sih, Bel. Lo yang emosian dan mancing emosi orang.”
“Kita itu sama aja!!”
“Ya udah, foto itu sesi terakhir aja.”
“Terus habis ini ngapain?” tanya Ibel.
“Emmmm....” aku melihat ke sekeliling. “Kita masuk ke galeri itu aja!” ucapku sambil menunjuk galeri lukisan yang tidak terlalu ramai pengunjung.
“Bokap lo juga ngajak ke sana?”
“Nggak, dulu belum ada.”
Aku berjalan sambil melihat lukisan-lukisan yang dipajang di sana. Selain itu ada juga tempat untuk para pengunjung melukis. Banyak anak-anak yang bermain di area tersebut termasuk aku yang tertarik untuk mencoba melukis. Sedangkan Ibel hanya melihat dan mengganggu.
“Buat lo!” ucapku sambil memberikan lukisan berbentuk hati dengan bermacam-macam warna.
“Apa ini? Lo nembak gue?”
“Dih! Tolol! Nanti gue jelasin sambil keluar.” Ucapku sambil mengelapkan sisa cat air ke tangan Ibel.
“Lo!!! Emang dasar!” ucapannya tertahan, dia tidak mungkin mengatakan sumpah serapah di depan anak-anak kecil.
“Ayah pernah bilang, cinta itu bermacam-macam bentuknya. Cara orang menunjukkan cinta beda-beda. Cinta itu bisa kadaluarsa. Tapi walaupun bisa kadaluarsa, cinta itu tetap ada bekasnya.” Ucapku sambil memberikan es krim kepada Ibel.
“Kita nggak pernah tahu apa alasan sebenarnya orang jatuh cinta ke kita, begitu juga kita ke orang. Cara mikir kita beda-beda. Ada orang yang kalau jatuh cinta jadi goblok, ada orang yang kalau jatuh cinta itu jadi babu, ada juga orang kalau jatuh cinta dia malah jadi orang paling care se-jagat raya. Ada juga orang yang saking cintanya jadi psikopat. Ada orang yang rela ganti pekerjaan biar bisa sama orang yang dia cinta, ada orang yang rela, orang yang dia cinta sama orang lain karena dia lebih seneng lihat orang itu bahagia. Nah, ketika cinta itu kadaluarsa, orang yang nggak sabar biasanya langsung buang cintanya, ganti cinta yang lain. Tapi orang yang tahu makna cinta sebenarnya, lebih memilih memproduksi cinta lagi dengan orang yang sama. Misalnya dengan cara, jalan bareng, makan bareng, ngobrol dari hati ke hati. Itu Cuma bagi orang yang tulus-tulus dan serius. Termasuk lo, buktinya, ketika jelas-jelas cinta Karina ke lo udah kadaluarsa, lo berusaha untuk buat Karina jatuh cinta lagi. Walaupun ternyata belum berhasil sampai sekarang. Lo harusnya sadar, kalau cinta yang lo punya itu berharga dan berarti bukan Karina orang yang berhak dapetin cinta tulus dari lo.” Terangku panjang lebar. Aku mengambil jeda sebentar sebelum melanjutkannya.
“Lo pernah mikir nggak sih, kalau cinta itu bisa ngomong?” tanyaku kemudian.
“Dia bakalan bilang ke Rangga kan?” jawab Ibel.
“Bukan AADC, bego!” seruku sambil menyenggol bahunya.
“Yaa...terus?”
“Cinta yang lo punya bakalan nangis sekenceng-kencengnya karena terhina!”
“Katanya bisa ngomong, kenapa nangis?”
“Yaaa...dia nangis dulu, baru ngomong gini, lupain dia, kita berhenti dulu buat seneng-seneng bareng. Karena pada dasarnya lo sendiri perlu dicintai lebih dulu sama diri lo sebelum lo bagi cinta itu ke orang lain.”
Ibel memandangku tidak paham.
“Gini loh, Bel. Lo harus bisa bahagia dengan diri lo sendiri, terima kekurangan lo tanpa berharap ada orang lain yang bisa ngelengkapin itu. Lo cari kelebihan lo sendiri buat ngisi kekurangan itu biar jadi Ibel yang utuh. Contohnya, lo suka mancing, ya udah tiap kali lo penat lo mancing. Kalau nggak, lo kan hobi fotografi, tiap kali lo banyak pikiran coba aja jalan-jalan hunting foto. Lakuin hal-hal kecil yang bisa bikin lo seneng lagi. Lo yakinin diri lo, bisa baik-baik aja walaupun lo sendirian.”
“Nggak gampang, Ra.”
“Iya...gue tahu itu nggak gampang. Tapi bukan berarti nggak bisa, kan?!”
“Iya, sih.”
“Gini deh, mungkin awalnya lo bakalan kesulitan. Tapi kalau lo nyoba dari hal kecil dan mau rutin, gue yakin lo bisa. Sama satu lagi, tanam dalam-dalam di pikiran lo, yakinin hal itu.”
Ibel mengangguk-angguk walaupun wajahnya masih terlihat ragu.
“Udahlah, terakhir. Kita foto.” Ucapku kemudian berjalan menuju photo booth.
“Kameranya di sebelah sini ya, kak. Hanya 1 kali pencet untuk 4 gaya. Ada jeda 5 detik untuk setiap ganti gaya.” Arahan dari penjaga booth.
“Lo deh yang mencet,” ucap Ibel.
“Elahh, yang ngajak pertama kali siapa?”
“Ya gue, sih.”
“Kita pikirin aja dulu gayanya mau gimana.”
Aku dan Ibel terdiam sejenak.
“Oke, gue udah.” Ucap Ibel.
“Oke, gue juga. Sekarang persiapan, lo yang mencet.”
Ibel menghela napas pasrah.
“Ini hasilnya, kak. Terima kasih atas kunjungannya. Untuk file fotonya nanti kami kirim melalui nomor yang sudah kakak daftarkan ya.”
“Makasih, kak.” Ucapku. “Kita suit dulu, yang menang boleh milih fotonya duluan.” Ucapku kemudian kepada Ibel.
“Udah, lo dulu aja.”
“Nggak seru, Bel.”
“Halahhh, ya udah,”
Kami melakukan suit 3 kali dan semua dimenangkan oleh Ibel.
“Hahaha, gue yang menang.” Ucapnya kegirangan.
“Ya udah, pilih!” seruku.
Ibel mulai berpikir dan memilih 2 foto. Setelah itu kami memutuskan untuk pulang.
“Kalau lo bilang gue nggak pernah ngerasain kehilangan orang karena nggak pacaran itu salah. Meninggalnya ayah, itu kehilangan terbesar gue, Bel. Kita udah sama-sama 9 tahun, gue lagi seneng-senengnya main sama bokap. Gue rasa, saat itu bokap juga lagi bangga-bangganya punya anak cantik kayak gue. Gue selalu penuh kesedihan selama 2 tahun setelah itu. Tapi hal yang bikin gue mikir adalah kondisi nyokap gue yang selalu tegar dan baik-baik aja.”
“Ibu bilang, ketika kita kehilangan sesuatu, itu berarti ada perubahan dalam hidup kita, bukan kita kehilangan hidup kita. Nyokap gue masih bisa napas walaupun bokap nggak ada. Beliau masih bisa ketawa pas nonton lenong, beliau juga nggak lupa sama resep masakan andalannya. Justru dari kehilangan itu, nyokap jadi punya banyak pengalaman. Dulu pas ada bokap beliau Cuma ngerjain tugas rumah, tapi setelah bokap nggak ada, nyokap jadi belajar banyak hal dan akhrinya bisa bikin toko kue. Ketika gue yang terbiasa dimanja bokap, akhirnya bisa berangkat sekolah sendiri naik bus. Main sama temen-temen komplek, belajar naik sepeda sama mereka. Kalau bokap gue masih ada, sampai gede gini mungkin gue masih antar jemput, jadi anak ansos, mainnya di rumah.” Aku mengambil jeda karena kami sudah sampai di tempat parkir.
Ibel memberikan helm kepadaku. Dia duduk di atas jok motor sambil melihat ke arahku, menunggu kelanjutannya.
“Begitu juga soal lo yang kehilangan Karina. Lo sekarang bisa bebas ngapain aja, tanpa harus pamit, tanpa harus minta pertimbangan ke Karina. Lo pernah bilang kan kalau Karina ngelarang lo makan malem-malem, sekarang kalau lo mau bisa. Lo juga pernah bilang kalau dia ngelarang lo main sama perokok, sekarang bisa, asal lo mau dan betah aja nggak kegoda. Ada banyak hal yang bisa lo lakuin tanpa harus minta persetujuan dari orang lain, selama lo bisa bertanggung jawab atas hal itu. Termasuk sama gue, dia paling bencikan lihat gue deket sama lo.”
“Iya juga sih,”
“Semuanya itu lebih mudah kalau lo mau coba lihat dari sisi lain.”
Ibel mengangguk mantap. Ia langsung mengenakan helm dan bersiap untuk pulang.
“Gimana? Gue berhasil nggak?”
“Iyaaa...lumayan sih,”
“Ibel....jatah makan siang!!!” ucapku.
“Katanya taruhan dosa! Lagian kita nggak ada kesepakatan di awal!”
“Lah, gue minta upah anjir!!! Lo pikir gratis!”
“Yeeee!!! Sama temen perhitungan!”
“Hahahaha, ngambeg lagi!!! Udahlah, lo bisa balik kayak biasanya aja gue udah bersyukur!”
“Makasih, ya.” Ucap Ibel sambil melihatku dari kaca spionnya. Aku tersenyum ke arahnya dan mengangguk.
“Jangan sedih lagi ya, Bel. Gue capek!” ucapku sambil menepuk pelan helmnya.
Komentar
Posting Komentar