Nggak seperti biasanya, pagi ini cuaca terlihat tidak akan cerah. Mendung yang merata dan sinar matahari yang datang-hilang. Padahal aku sudah menata niat untuk berjemur dan sedikit refleksi diri setelah beberapa hari ini tidak baik-baik saja. Sungguh, ku kira seorang laki-laki tidak akan mengalami masa-masa mellow seperti ini dan ternyata memang semenyebalkan itu.
Walaupun hari ini banyak hal yang akan berubah, ada satu hal yang tetap. Selain aku yang masih bernapas, perempuan itu yang berjalan dengan jaket biru tua, di waktu yang sama dan gaya yang sama. Beberapa hari terakhir aku melihat perempuan itu mengelilingi lapangan bola dekat rumah. Terlihat seperti orang berolah raga tapi pakaian yang ia kenakan sama sekali tidak mencerminkan hal tersebut.
Seperti yang aku bilang, akan ada banyak hal yang berubah hari ini, termasuk niatku untuk pergi bersepeda, yang aku ganti dengan lari keliling lapangan bola, sekaligus mencari tahu siapa perempuan itu.
Baru juga dua kali putaran gerimis menghujani kami. Perempuan itu berteduh lebih dulu sambil mengusap-usap bagian pakaiannya yang terkena basah. Hanya ada kami berdua di emperan GOR lapangan tersebut. Sesekali aku melirik ke arah perempuan tersebut yang terlihat asyik melihat hujan.
“Ehem...” aku berdehem membuka obrolan. “Sendirian aja mbak?” tanyaku kemudian.
Perempuan itu menoleh dengan tatapan was-wasan.
“Bisa kaliii....” ucapku sambil tertawa nyengir.
“EHHH....MASNYA JANGAN MACAM-MACAM YA!” ucap perempuan tersebut sambil menyilangkan kedua tangannya hingga menutupi dadanya.
“Eh...bukan maksudnya, bisa kali kenalan...belum...selesai tadi ngomongnya.” Ucapku menjelaskan.
“Ohhh, gitu. Habisnya...sepotong-sepotong.” Ucap perempuan itu dan kembali duduk seperti semula.
“Kayaknya beberapa hari ini sering lari di sini, mbak.”
“Iya, enak aja tempatnya. Tapi sayangnya, hari ini hujan, jadi nggak kena matahari.”
“Iya, saya tadi juga niatnya mau ketemu matahari.”
Perempuan itu menoleh ke arahku dengan wajah yang heran, “Nggak takut kebakar mas? Panas loh kalau sampai deket.”
Aku menahan tawa, “Lah mbaknya juga nggak takut item, walaupun kenanya dari jauh tetep bisa bikin item loh.”
Perempuan itu tertawa kemudian menyelonjorkan kedua kakinya yang dibalut celana traning panjang berwarna hitam.
“Kalau udah ketawa gini bisa kali kenalannya?” tanyaku lagi.
Perempuan itu menoleh dengan sisa tertawanya, “Saya Ellia,” ucapnya.
“Pas sama artinya, ya.” Ucapku. Ellia memiliki makna anak perempuan yang cantik.
“Terima kasih,” ucapnya. Wajahnya nampak biasa saja, mungkin dia juga sudah sering mendapat pujian seperti itu.
“Nggak penasaran mbak sama nama saya?” tanyaku.
“Namanya siapa?” tanya perempuan itu diiringi tawa kembali.
“Bilal, artinya terpilih.”
“Emang masnya nyaleg?” tanya Ellia.
“Iya, saya masuk partai Matahari, nanti kamu ya wakilnya.”
“Hahahaha,” tawa Ellia kembali meledak hingga wajahnya bersemu merah.
“Emang rumahnya deket sini?” tanyaku setelah tawanya mereda.
“Nggak terlalu sih, kebetulan tempat kerjaku deket sini, makanya kalau berangkat lewat sini.”
“Baru?”
“Semingguan,”
“Pantesan, saya juga baru lihat akhir-akhir ini.”
“Iya, pindahan dari cabang sebelumnya.”
“Saya rumahnya deket, di situ tuh.” Ucapku sambil menunjuk rumah bercat hijau muda. “Makanya saya lihat kamu tiap pagi.”
“Ohhh...ya ya, pantes sampai hafal, hahaha.”
“Tapi kalau nggak salah dua hari yang lalu, saya lihat kamu jongkok di sini sambil nutupin muka. Nahan kentut ya?” tanyaku lagi.
Ellia hanya tersenyum, mungkin kelelahan tertawa. Tapi ada ekspresi yang lain, yang tidak bisa aku jelaskan.
“Bukan...saya nahan boker. Mau pulang nanti terlambat kerja,” ucapnya.
“Emang kenapa mbak? Capek ya?” tanyaku.
“Kayaknya terlalu personal, deh kalau saya cerita ke kamu yang baru saya kenal.”
“Ohhh, tapi udah mendingan sekarang?” tanyaku.
“Lumayan...itu kenapa saya juga sering jalan dan lari dulu di lapangan sebelum kerja.”
“Ritualnya gitu ya?”
“Iya, sambil baca mantra terus ngeludah.”
“Dukun dari mana mbak? Kayaknya mujarab tuh, saya juga pengen.”
“Hahahaha, emang kamu juga ngerasa capek?”
“Iya...nggak tahu sih, capek atau kenapa. Tapi rasanya males ngapa-ngapain, bawaannya murung, nggak berenergi sama sekali.”
“Itu sih bawaan dari lahir kayaknya.”
“Iyaaaa, kebetulan dari lahir saya Cuma nangis, tidur, minum susu, nangis lagi, gitu lagi. Nggak ada kegiatan lain emang.”
“Hahaha, sama sih kalau itu.” Ucapnya.
“Saya baru kali ini ngerasain perasaan kayak gitu. Jadi heran aja, lebih heran lagi saya ini laki-laki loh, tapi kok ngerasa se-mellow ini.”
“Laki-laki juga manusia kali, jadi ya wajar. Emang kamu umur berapa sih?”
“27 tahun,”
“Sama dong. Mungkin emang lagi masanya ngerasain mellownya hidup, capek, bertanya-tanya, nikmatin ajalah.”
Aku mengangguk, mengiyakan.
“Tadi saya niatnya mau berjemur di sini, akhir-akhir ini saya ngerasa lebih nyaman aja kena sinar matahari. Tapi sayangnya malah mendung.” Ucap Ellia.
“Iya, kata google juga gitu sih, sinar matahari bisa memperbaiki suasana hati. Makanya saya tadi juga akhirnya keluar rumah, niatnya mau sepedaan, tapi lihat kamu lari jadi pengen ikutan. Kayak ketarik gitu,”
“Hahaha, padahal saya lupa bawa magnetnya loh, masih aja bisa narik orang.”
“Soalnya kamu bawa tali, nggak sengaja tadi nyantol di depan rumah.”
“Bisa...bisa...”
Kami tertawa sebentar kemudian menghela napas. Hujan masih sama, turun tidak terlalu deras tidak juga sekedar gerimis. Ada jeda beberapa detik di antara kami.
“Patah hati ya?” tanyaku kemudian.
Ellia menoleh ke arahku dan kami bersitatap untuk beberapa detik.
Komentar
Posting Komentar