Langsung ke konten utama

Sepenggal Cerita : Tentang Dia #2 Ellia

“Baru sadar aja kalau dari awal saya yang salah, karena tetap suka sama orang yang nggak bisa dimilikin.” Ucapku kemudian merubah posisi duduk bersila.

Sebenarnya aku enggan menceritakan hal itu, tapi laki-laki yang baru aku temui bernama Bilal ini, selalu bisa memecahkan pertahananku.

“Biasanya emang gitu, nyadarnya telat. Nggak seru kali kalau hal-hal nyakitin tapi sadar di awal.”

“Nanti nggak ada efek kejutnya ya?!!! Hahahaha,”

“Tapi kalau pengen ngerasain efek kejut yang mantep, itu pinjem alat kejut dokter aja, lumayan tuh kalau pakai tegangan tinggi.”

“Orang sadar bisa langsung pingsan ya,”

“Hahahaha...emang beda dunia sampai nggak bisa dimilikin?”

“Beda waktu sih, di sini malam di sana pagi.”

“Ohhh...yang sini udah sayang tapi yang sana malah pergi?”

“Hahahaha, nggak kepikiran loh sampai situ....”

“Berapa lama emangnya?”

Aku diam dan mencoba mengingat-ingat, “lumayan, dua tahun mungkin.”

“Udah ngapain aja sampai baru sadar? Hahaha”

Aku melirik ke arahnya, agar tidak berpikir macam-macam. Bilal hanya tertawa dan mencoba meluruskan kalimatnya.

“Emang kenapa sampai bikin kamu suka dan lupa kalau dia itu orang yang nggak bisa dimiliki?” terangnya.

“Mungkin karena sering diperhatiin. Kayak diingetin makan kalau saya terlalu banyak kerja, dikasih saran obat kalau saya sakit, dijailin kalau saya terlalu serius. Dunia saya sebelum kenal sama dia itu serius banget, tapi setelah kenal sama dia saya bisa ngerasain santai.”

“Sialan emang!” seru Bilal dengan wajah tidak terima. “Kalau udah sampai bisa ngerubah hidup itu, emang kurang ajar sih kalau sampai nggak jadi.” Lanjutnya.

“Yaa...tapi mau gimana lagi?! Ternyata dia udah punya pilihan sendiri, dan bukan saya.”

Bilal memandang lurus ke depan, “Karena udah kejadian, kita Cuma bisa nerima aja nggak sih?!” ucapnya kemudian menoleh ke arahku. “Saya pernah denger, perasaan itu ibarat musim, jadi pasti bakalan berganti.” Lanjutnya.

Aku tersenyum dan mengangguk setuju.

“Sedih nggak papa, wajar namanya juga orang yang...spesial...tapi jangan sampai kelamaan. Takutnya lapangan saya banjir.” Ucap Bilal.

Aku tersenyum masam, “Iya ya...mana saya pendatang baru, nanti pasti di demo sama warga sini.”

Bilal mengangguk angguk, “Kan masih banyak orang yang nunggu senyum dari kamu, nungguin suara sapaan dari kamu, butuh bantuan kamu, itu harusnya cukup sih buat nutupin satu orang bangsat yang tega bikin kamu sedih.”

“Bentar deh, kamu ini dulunya playboy ya? Manis banget kalau ngomong, hahaha.”

“Kebetulan saya anak pujangga. Jadi bisa aja berkata-kata.”

Aku hanya tertawa.

“Tapi yang saya bilang bener. Gini deh, kamu hidup di dunia ini kan nggak Cuma sama dia, ya walaupun dia sangat mengganggu hidup kamu, tapi masih ada banyak alasan yang bisa bikin kamu jadi bertahan dan senyum lagi. Misal nih, ketemu saya lagi, olahraga bareng, sarapan bareng mungkin, bisa kok.”

“Hahahha, tetep aja ya ujung-ujungnya gombal.”

“Namanya juga usaha, usaha bikin ketawa, siapa tahu bisa cinta.”

“Emmm...naik level jadi buaya deh pasti.”

“Bukan, pelatihnya.”

“hahahahaha”

Kami kembali diam, tanpa disadari hujan mulai mereda.

“Nggak papalah ya kita nggak ketemu matahari hari ini,” ucap Bilal kemudian.

“Apa? Yang penting kita ketemu?” tanyaku dengan tertawa.

“Nah, itu tau...berkat kamu saya juga bisa ngerasa lebih baik kok. Mungkin kalau saya nggak ngikutin tadi saya masih ngurung di kamar dan makin sedih lagi.”

“Yayaya....saling menguntungkan ya.”

“Semoga lain kali bisa ketemu lagi dalam keadaan baik-baik saja.”

“Semoga.”

Kami sama-sama berdiri dan berjalan keluar. Kami berjalan bersama dan melanjutkan obrolan tidak jelas itu sampai di depan rumah Bilal. Dia berpamitan dan aku melanjutkan pulang. Sebuah hari yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Termasuk keberadaan Bilal sendiri yang tidak pernah aku duga sebelumnya.

Sebenarnya ini bukan pertemuan pertamaku dengan Bilal, aku pernah bertemu dengannya di mini market dekat tempat kerjaku, aku juga pernah melihatnya bermain bola di lapangan itu, bermain basket di area indoor, dan melihatnya melamun di pinggir lapangan. Itu juga yang membuatku sedikit heran, ternyata seorang laki-laki juga bisa merasakan pilu hingga kebosanan dalam hidupnya.

“Ell...” panggil Bilal setelah aku berjalan beberapa meter dari rumahnya.

“Lewat sini terus ya, biar bisa lihat, hahaha.”

Aku menghela napas sambil tersenyum ke arahnya. Aku hanya mengangguk sambil melambaikan tangan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...