Langsung ke konten utama

Otem : (Ber)isi(k) Kepala

Gue salah apa sih?
Nggak, lo nggak salah, tapi pikiran lo berlebihan.
Tapi nggak kayak gini kan? Kenapa coba cuma gue yang dibedakan?!
Karena lo nggak dianggap teman sama mereka
Karena lo terlalu serius
Coba deh lihat, lo harus ramah kayak gitu, jangan marah-marah nggak jelas
Harus ya gue jadi kayak gitu biar orang lain juga suka sama gue, mau temenan sama gue
Lo emang salah sih, makanya kerja teliti, orang jadi suka dan percaya sama lo
Saat ini mereka kepepet sih pertahanin lo, mungkin kalau ada yang lebih baik dari lo, akhirnya juga dibuang! 
Mereka cuma nggak tega aja, dan akhirnya pura-pura baik sama lo
Nggak, mereka cuma takut salah bertingkah ke lo, makanya mereka milih diam
Nggak, mereka males ngeladenin lo yang penuh drama
Apa gue salah tempat?
Apa ada yang percaya sama gue? 
Apa gue harus berubah jadi apa yang mereka mau? 
Apa yang mereka mau dari gue? 
Apa masih kurang gue berusaha sampai saat ini? 
Apa mereka tahu gue juga berkali-kali sakit hati? 
Apa mereka peduli? 
Gue ini kenapa? 
Kenapa banyak pertanyaan dan pernyataan
Kenapa gue bener-bener kecil ketika dihadapan mereka? 
Apa yang harus gue lakukan?
-
Itulah kenapa gue lebih banyak diam. Karena dalam kepala gue jauh lebih berisik dari jalan raya samping kantor, lebih berisik dari suara sound system hajatan tetangga, lebih berisik dari kumpulan ibu-ibu komplek, lebih berisik dari barang pecah belah yang berjatuhan.

Itulah kenapa gue diam-diam menangis. Karena nggak tahu harus menutup apa lagi untuk berhenti mendengarkan semua itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...