Aku kira perjalanan melepaskanmu kali ini akan sama sulitnya dengan pengalamanku sebelumnya. Tapi, ternyata aku merasa ini lebih mudah. Bahkan sangat mudah.
Satu-dua hari, masih sering teringat tentang dirimu, padahal tidak banyak hal yang aku ketahui tentangmu. Selain ucapanmu ketika awal kita berkirim pesan dan wajahmu yang sampai sekarang masih aku abadikan dalam foto digital.
Aku yakin kau lebih lega daripada denganku. Aku yakin hari-harimu setelah keputusanku itu berubah menjadi menyenangkan, bahkan sangat-sangat menyenangkan.
Aku membayangkan, senyumu yang jarang aku lihat itu mendadak bermekaran setiap waktu. Nafasmu aku jamin lancar. Jam istirahat tanpa teror pesan yang tidak kau harapkan. Juga anganmu yang tidak lagi bertanya-tanya, "apa dia sudah lupa?" Jika memang kau sempat menanyakan hal itu, maka jawabku tentu saja tidak lupa. Ketahuilah, walaupun mungkin tidak perlu, aku memang pengingat yang payah. Kejadian 2-3 jam yang lalu saja aku bisa lupa. Aku tidak terlalu paham, tapi setahuku, otakku cukup pemilih dalam hal mengingat. Hanya hal-hal tertentu yang bisa tersimpan cukup lama dalam ingatanmu. Yang sialnya, hampir semua pilihannya tidak penting. Termasuk masa laluku. Termasuk kau. Tapi sekali lagi, bukan berarti aku gagal melupakanmu atau aku belum ikhlas melepasmu. Hanya saja, tentangmu tidak akan hilang begitu saja. Karena tidak bisa ku pungkiri, kau berhasil mendapatkan tempat spesial dalam hidupku.
Huh, aku menghela napas lega. Mari kita kembali menata hidup masing-masing. Aku doakan kau baik-baik saja di sana. Jaga kesehatanmu, jaga juga sikapmu. Jangan terlalu dingin, perempuan akan takut mendekatimu. Jangan lupa untuk bercerita dan keluar sebentar untuk bersantai. Aku tahu, menjadi anak pertama yang diandalkan diusia ini pasti sangat berat.
Terus-teruslah menghela napas, jika itu akan membuatmu lebih ringan. Terus-teruslah berpura-pura, jika itu membuatmu lebih tenang. Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan. Semua akan berjalan dengan baik. Percayalah.
Komentar
Posting Komentar