Langsung ke konten utama

OTEM : PERAYAAN MELEPASKAN

Aku kira perjalanan melepaskanmu kali ini akan sama sulitnya dengan pengalamanku sebelumnya. Tapi, ternyata aku merasa ini lebih mudah. Bahkan sangat mudah.
Satu-dua hari, masih sering teringat tentang dirimu, padahal tidak banyak hal yang aku ketahui tentangmu. Selain ucapanmu ketika awal kita berkirim pesan dan wajahmu yang sampai sekarang masih aku abadikan dalam foto digital.
Aku yakin kau lebih lega daripada denganku. Aku yakin hari-harimu setelah keputusanku itu berubah menjadi menyenangkan, bahkan sangat-sangat menyenangkan. 
Aku membayangkan, senyumu yang jarang aku lihat itu mendadak bermekaran setiap waktu. Nafasmu aku jamin lancar. Jam istirahat tanpa teror pesan yang tidak kau harapkan. Juga anganmu yang tidak lagi bertanya-tanya, "apa dia sudah lupa?" Jika memang kau sempat menanyakan hal itu, maka jawabku tentu saja tidak lupa. Ketahuilah, walaupun mungkin tidak perlu, aku memang pengingat yang payah. Kejadian 2-3 jam yang lalu saja aku bisa lupa. Aku tidak terlalu paham, tapi setahuku, otakku cukup pemilih dalam hal mengingat. Hanya hal-hal tertentu yang bisa tersimpan cukup lama dalam ingatanmu. Yang sialnya, hampir semua pilihannya tidak penting. Termasuk masa laluku. Termasuk kau. Tapi sekali lagi, bukan berarti aku gagal melupakanmu atau aku belum ikhlas melepasmu. Hanya saja, tentangmu tidak akan hilang begitu saja. Karena tidak bisa ku pungkiri, kau berhasil mendapatkan tempat spesial dalam hidupku.
Huh, aku menghela napas lega. Mari kita kembali menata hidup masing-masing. Aku doakan kau baik-baik saja di sana. Jaga kesehatanmu, jaga juga sikapmu. Jangan terlalu dingin, perempuan akan takut mendekatimu. Jangan lupa untuk bercerita dan keluar sebentar untuk bersantai. Aku tahu, menjadi anak pertama yang diandalkan diusia ini pasti sangat berat.
Terus-teruslah menghela napas, jika itu akan membuatmu lebih ringan. Terus-teruslah berpura-pura, jika itu membuatmu lebih tenang. Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan. Semua akan berjalan dengan baik. Percayalah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...