Anya mendekati bibir pantai. Matanya mulai berkaca-kaca, raut wajahnya nampak merah padam. Terlihat seperti detik-detik bom yang akan meledak.
Ia mempercepat langkahnya kemudian berteriak, "Anjinggg looo!!!!" Bersamaan dengan itu air matanya mulai pecah. Ia membiarkan ombak menyapu kedua kakinya. Dengan kuat ia memegangi kedua lututnya. Setelah ombak kembali ke pantai ia terduduk dan menutupi wajahnya.
Sedangkan Davin, laki-laki yang berteman baik dengan Anya, yang sedaritadi membututi langkah sahabatnya ini, hanya menghela napas. Setengah hati, Davin marah dengan Anya yang tidak mendengarkan ucapannya sejak awal, tapi setengah lainnya ia mengasihani. Davin cukup tahu, perkara ini memang tidak mudah untuk Anya yang memiliki masalah dalam emosinya.
Perlahan Davin mendekati Anya. Ia membantunya untuk bangun dan menepi. Anya masih menangis sesenggukan. Davin mencoba menenangkan Anya dengan menepuk pelan pundaknya. Setelah suara tangis Anya mereda, Davin mulai berbicara.
"Lo tahu, gue udah kehabisan cara buat ngasih tau lo. Gue nggak tahu ini terdengar kasar atau nggak. Lo harus tahu kalau Lo juga sama anjingnya kayak dia. Cuma beda jenis. " Ucap Davin yang terus menepuk pundak Anya.
"Terus gue harus gimana?" Tanya Anya dengan sisa tenaganya.
"Apa lo masih butuh jawaban dari gue?" Davin membalas bertanya.
Anya tidak menjawabnya. Ia kembali menangis.
"Nya, nggak semua orang itu wajib di dunia lo. Mereka bisa masuk, otomatis mereka juga bisa keluar. Gampang atau sulitnya itu tergantung lo. Gue udah bilang kan dari awal, anjing liar kayak dia itu jangan dikasihani. Mungkin awalnya kelihatan baik, itu karena dia tahu kelemahan lo. Lo juga sama anjingnya, lo tahukan semua hal ini bakalan terjadi. Tapi lo tetep ngelakuin semuanya bahkan benar-benar izinin dia masuk ke kamar lo, main di sana, bikin berantakan, dan lo sendiri yang akhirnya repot. Sedangkan dia cuma lari keluar tanpa ngerasa salah." Davin berhenti sejenak, ia merubah posisi duduknya dengan menghadap Anya.
"Sekali lagi," Ucapnya sambil memegang kedua pundak Anya, menguatkan hati sahabatnya. "Gue minta lo, jangan berpikir dia baik sama lo. Jangan pernah berpikir dia beneran suka sama lo. Jangan pernah berpikir dia bakalan suka sama lo setelah perlakuan lo ke dia. Anjing liar cuma bisa jinak kalau dipegang sama orang yang tepat. Kalau kondisinya kayak gini, berarti bukan lo, Nya. Dan anjing kayak lo, juga bukan dia pemiliknya. Mulai sekarang pikirin diri lo sendiri. Perkara dia, perkara orang lain, lo nggak usah ikut campur." Davin mengakhiri ucapannya dengan mengajak Anya berdiri.
"Mungkin gue juga sama anjingnya. Tapi gue tahu tempat gue dimana. Gue juga pernah tersesat kayak lo, tapi gue tahu kalau jalan keluarnya cuma keberanian lo untuk tidak mendengarkan kekhawatiran lo sendiri. Asalkan lo tetap baik, percaya! Nggak ada yang bakalan ninggalin lo. Pelan-pelan, lo kenali diri lo dulu, biar lo juga lebih bisa ngendaliin diri. Gue yakin, sama seperti lo yang yakin sama feeling lo, bahwa seorang Anya nggak akan bodoh dan tersesat kayak gini lagi."
Anya mengusap wajahnya dan menatap ke arah Davin. Dengan perlahan ia mengangguk.
"Kalau gue bisa lolos, apa gue juga masih anjing?" Tanya Anya dengan wajah memelas.
"Ya teteplah, kan kita ibaratkan semua orang di bumi ini anjing. Cuma, kelasnya beda-beda." Jawab Davin dengan tawa.
"Gue yakin sih, dia emang anjing liar." Ucap Anya.
"Anjing liar yang sebenarnya punya tuan, tapi masih ngerasa kurang. Terus berusaha nyari hal yang kurang itu dari orang lain. Emang anjinggg banget sih!"
"Hahahaha, makasih ya, Vin. Lo masih sabar nemenin gue."
"Yaaa... Gimanapun juga gue sahabat lo satu-satunya. Dahlah, pulang. Bentar lagi malem." Ajak Davin yang berjalan lebih dulu.
Anya masih terpaku memandang lepas pantai. Entah apa yang ia pikirkan, beberapa detik kemudian ia tersenyum dan mengusap wajahnya kembali sebelum berlari menyusul Davin.
Komentar
Posting Komentar