Langsung ke konten utama

Sepenggal cerita : Ragu

"Kopi lagi kopi lagi," Keluh Nasya yang kemudian duduk di sebelah Kana.

"Inget lambung, inget baru seperempat abad. Nggak lucu kalau lo mati gegara asam lambung diusia muda dan belum nikah." Tambahnya sambil merebut kopi dari tangan Kana dan menggantinya dengan air mineral.

Kana hanya membalas dengan lirikan tajam kemudian kembali menatap pemandangan malam di hadapannya.

"Kenapa sekarang? Kerjaan? Anak anjing?" Tanya Nasya, ia meneguk sisa kopi milik Kana, agar tidak ia rebut kembali.

Kana menghela napas kemudian duduk bersila. Ia menoleh ke arah Nasya kemudian berpaling. Ia ragu hendak menceritakan tentang apa yang ia pikirkan saat ini.

"Menurut lo, kalau gue selalu pengen bantuin dia, gue pengen tahu apa yang dia lewatin setiap hari, nggak pengen lihat dia kecewa sedikit pun, nungguin chat dari dia buat minta tolong ke gue, itu wajarkan soal temen?" Tanya Kana.

Nasya memandang tidak paham kepada Kana.

"Iya kan? Lo juga pernah kan kayak gitu?" Tanya Kana sekali lagi.

"Cowok?" Tanya Nasya.

"Ii..ya,"

Nasya menghela napas kemudian kembali meneguk kopi yang ia klaim miliknya. Ia memandang ke arah Kana yang sudah menunggu jawaban dari Nasya.

"Sebelumnya, gue minya maaf. Menurut gue, Itu GO...BLOK!" Ucap Nasya yang membuat Kana merengut.

"Pertama, teman yang lo maksud itu cowok. Kedua, pada dasarnya orang nggak mau direpotin sama masalah orang lain, kecuali...spesial. Kalau lo mau bilang dia itu teman spesial lo, teman baik lo, temen deket lo, gue akan pertanyakan hal apa yang membuat lo menyimpulkan seperti itu. Apa dia udah donor darah, apa dia udah nyelametin hidup lo, sampai-sampai seberarti itu. Gue yang nemenin lo di UGD gara-gara asam lambung aja nggak pernah dapet klaim itu."

Kana menunduk sambil memeluk kedua lututnya.

"Lo suka sama dia. Itu cukup menurut gue untuk menyimpulkannys seperti ini. Cuma...yaa...karena banyak hal yang nggal tepat aja, akhirnya bikin lo ragu dan mempertanyakan itu berkali-kali. Mencoba menyangkal perasaan lo sendiri, mewajar-wajarkan perilaku baik lo itu dengan alasan karena dia temen lo."

"Terus gue harus gimana?" Tanya Kana dengan nada memelas.

"Jangan bikin masalah. Nikmatin aja perasaan yang ada saat ini. Pergunakan waktu yang ada selama lo masih bisa interaksi sama dia. Perasaan lo nggak salah, asalkan lo nggak nekat berbuat yang nggak-nggak. Percaya aja, semua ada masa kadaluwarsanya. Termasuk perasaan lo, bisa aja dengan lo terbiasa dengan pikiran itu perasaan lo juga akan berubah bahwa dia memang teman lo."

"Nggak usah terlalu berusaha buat dia walaupun lo pengen. Cewek disekitar lo bakalan sadar kalau lo lebih condong ke dia. Sebisa mungkin bikin mood lo stabil, jangan over happy apalagi waktu sama dia, begitu juga sebaliknya, jangan tiba-tiba marah."

"Dan kurangin rasa keingintahuan lo soal keseharian dia. Pertama, nambah nambahin pikiran, kedua buang buang waltu, ketiga nguras tenaga, dannn...ketika lo tahu dan itu bikin kecewa. Ujung ujungnya lo rugi banyak, kan?"

Nasya menghela napas kemudian kembali meneguk sisa terakhir kopinya. Ia meremas kaleng tersebut kemudian berdiri.

"Gue yakin itu nggak akan gampang buat lo. Karena lo yang ngerasain perasaan itu dan lo udah suka. Kecuali, lo mau berusaha mempertimbangkan semua hal tadi pake logika lo. Gue masuklah, besok shift pagi." Nasya pergi mendahului. Baru beberapa langkah, ia berbalik badan.

"Lakuin apa yang lo mau, asalkan lo nggak bikin masalah. Contohnya, kalau lo berharap malam ini dia chat lo, tungguin aja sampai lo ketiduran. Buat orang yang jatuh cinta itu wajar, walaupun kedengeran goblok." Ucap Nasya kemudian masuk.

Kana tidak bisa membalas ucapan Nasya, ia lagi-lagi hanya menghela napas berkali-kali, karena semua yang dikatakan Nasya benar menurutnya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...