"Kopi lagi kopi lagi," Keluh Nasya yang kemudian duduk di sebelah Kana.
"Inget lambung, inget baru seperempat abad. Nggak lucu kalau lo mati gegara asam lambung diusia muda dan belum nikah." Tambahnya sambil merebut kopi dari tangan Kana dan menggantinya dengan air mineral.
Kana hanya membalas dengan lirikan tajam kemudian kembali menatap pemandangan malam di hadapannya.
"Kenapa sekarang? Kerjaan? Anak anjing?" Tanya Nasya, ia meneguk sisa kopi milik Kana, agar tidak ia rebut kembali.
Kana menghela napas kemudian duduk bersila. Ia menoleh ke arah Nasya kemudian berpaling. Ia ragu hendak menceritakan tentang apa yang ia pikirkan saat ini.
"Menurut lo, kalau gue selalu pengen bantuin dia, gue pengen tahu apa yang dia lewatin setiap hari, nggak pengen lihat dia kecewa sedikit pun, nungguin chat dari dia buat minta tolong ke gue, itu wajarkan soal temen?" Tanya Kana.
Nasya memandang tidak paham kepada Kana.
"Iya kan? Lo juga pernah kan kayak gitu?" Tanya Kana sekali lagi.
"Cowok?" Tanya Nasya.
"Ii..ya,"
Nasya menghela napas kemudian kembali meneguk kopi yang ia klaim miliknya. Ia memandang ke arah Kana yang sudah menunggu jawaban dari Nasya.
"Sebelumnya, gue minya maaf. Menurut gue, Itu GO...BLOK!" Ucap Nasya yang membuat Kana merengut.
"Pertama, teman yang lo maksud itu cowok. Kedua, pada dasarnya orang nggak mau direpotin sama masalah orang lain, kecuali...spesial. Kalau lo mau bilang dia itu teman spesial lo, teman baik lo, temen deket lo, gue akan pertanyakan hal apa yang membuat lo menyimpulkan seperti itu. Apa dia udah donor darah, apa dia udah nyelametin hidup lo, sampai-sampai seberarti itu. Gue yang nemenin lo di UGD gara-gara asam lambung aja nggak pernah dapet klaim itu."
Kana menunduk sambil memeluk kedua lututnya.
"Lo suka sama dia. Itu cukup menurut gue untuk menyimpulkannys seperti ini. Cuma...yaa...karena banyak hal yang nggal tepat aja, akhirnya bikin lo ragu dan mempertanyakan itu berkali-kali. Mencoba menyangkal perasaan lo sendiri, mewajar-wajarkan perilaku baik lo itu dengan alasan karena dia temen lo."
"Terus gue harus gimana?" Tanya Kana dengan nada memelas.
"Jangan bikin masalah. Nikmatin aja perasaan yang ada saat ini. Pergunakan waktu yang ada selama lo masih bisa interaksi sama dia. Perasaan lo nggak salah, asalkan lo nggak nekat berbuat yang nggak-nggak. Percaya aja, semua ada masa kadaluwarsanya. Termasuk perasaan lo, bisa aja dengan lo terbiasa dengan pikiran itu perasaan lo juga akan berubah bahwa dia memang teman lo."
"Nggak usah terlalu berusaha buat dia walaupun lo pengen. Cewek disekitar lo bakalan sadar kalau lo lebih condong ke dia. Sebisa mungkin bikin mood lo stabil, jangan over happy apalagi waktu sama dia, begitu juga sebaliknya, jangan tiba-tiba marah."
"Dan kurangin rasa keingintahuan lo soal keseharian dia. Pertama, nambah nambahin pikiran, kedua buang buang waltu, ketiga nguras tenaga, dannn...ketika lo tahu dan itu bikin kecewa. Ujung ujungnya lo rugi banyak, kan?"
Nasya menghela napas kemudian kembali meneguk sisa terakhir kopinya. Ia meremas kaleng tersebut kemudian berdiri.
"Gue yakin itu nggak akan gampang buat lo. Karena lo yang ngerasain perasaan itu dan lo udah suka. Kecuali, lo mau berusaha mempertimbangkan semua hal tadi pake logika lo. Gue masuklah, besok shift pagi." Nasya pergi mendahului. Baru beberapa langkah, ia berbalik badan.
"Lakuin apa yang lo mau, asalkan lo nggak bikin masalah. Contohnya, kalau lo berharap malam ini dia chat lo, tungguin aja sampai lo ketiduran. Buat orang yang jatuh cinta itu wajar, walaupun kedengeran goblok." Ucap Nasya kemudian masuk.
Kana tidak bisa membalas ucapan Nasya, ia lagi-lagi hanya menghela napas berkali-kali, karena semua yang dikatakan Nasya benar menurutnya sendiri.
Komentar
Posting Komentar