Aku berjalan mendekati Lana sambil membuka bungkusan coklat kemudian aku berikan kepadanya. Setiap kali dia datang dengan wajah kusam memberengut itu, hanya satu obatnya, coklat. "Kenapa?" Tanyaku kemudian. "Nggak tahu, capek aja." Jawabnya dengan nada kesal, seolah-olah aku juga penyebabnya. Aku hanya menghela napas. Memang harus sabar menghadapi sahabatku ini. "Berantem lagi sama Bagas?" Tanyaku kemudian. "Dia duluan, gue nggak tahu apa-apa tiba-tiba didiemin. Terus sekarang tiba-tiba sok sokan kayak nggak ada apa-apa. Nggak jelas. Ya udah gue bales aja, gue diemin." Terangnya dengan mulut penuh kunyahan coklat. "Ya terus mau sampai kapan? Besok lo biasa, dianya bete, gitu aja terus sampai ayam bokap gue beranak dinosaurus." Ucapku. "Hahaha, sampai balik ke purba kala dong." Kami sama sama menghela napas. Sore itu, Lana yang baru pulang kerja dan aku yang baru akan bekerja. Kami duduk di teras depan rumahku sambil mena...