Aku berjalan mendekati Lana sambil membuka bungkusan coklat kemudian aku berikan kepadanya. Setiap kali dia datang dengan wajah kusam memberengut itu, hanya satu obatnya, coklat.
"Kenapa?" Tanyaku kemudian.
"Nggak tahu, capek aja." Jawabnya dengan nada kesal, seolah-olah aku juga penyebabnya. Aku hanya menghela napas. Memang harus sabar menghadapi sahabatku ini.
"Berantem lagi sama Bagas?" Tanyaku kemudian.
"Dia duluan, gue nggak tahu apa-apa tiba-tiba didiemin. Terus sekarang tiba-tiba sok sokan kayak nggak ada apa-apa. Nggak jelas. Ya udah gue bales aja, gue diemin." Terangnya dengan mulut penuh kunyahan coklat.
"Ya terus mau sampai kapan? Besok lo biasa, dianya bete, gitu aja terus sampai ayam bokap gue beranak dinosaurus." Ucapku.
"Hahaha, sampai balik ke purba kala dong."
Kami sama sama menghela napas. Sore itu, Lana yang baru pulang kerja dan aku yang baru akan bekerja. Kami duduk di teras depan rumahku sambil menatap langit yang akan berubah menjadi gelap. Cukup romantis tapi bukan untuk kami.
"Jatuh cinta itu serumit ini ya? Apalagi sama orang yang nggak jelas." Ucap Lana, ia menyangga tubuhnya dengan kedua tangan ke belakang.
"Apapun yang pakai hati pasti rumit." Ucapku.
"Temenan sama gue rumit nggak?" Tanya Lana kemudian.
"Lumayan, mungkin kalau Disa masih di sini, gue nggak terlalu ngerasa."
"Capek juga ya?" Tanya Lana.
Aku menoleh ke arahnya sambil menerka nerka, apa dia menganggap serius ucapanku.
"Bercanda kali, lo serius amat sih."
"Gue lagi mikir beneran, apa iya ya sebenernya semua kerumitan ini gue sendiri yang buat."
"Yaaa... Iya sih. Maksud gue, kalau lo bisa lebih santai lagi mikirnya, lebih sederhana dan apa adanya, gue rasa masalah nggak akan sepanjang kereta api Swiss."
"Terus gue harus gimanaaaa?" Tanya Lana pasrah. Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan menutupinya.
"Ya udah biasa aja, emang nggak gampang sih. Tapi cukup sewajarnya, kalau situasinya mendukung bercanda ya bercanda kayak lo sama temen yang lain. Kalau emang nggak ada keperluan ya nggak usah bertegur sapa. Kalau dia mulai mancing mancing ribut tanyain aja ada hal apa yang salah dari lo, bilang juga semua bisa dibicarain baik-baik, termasuk kalau dia kangen sama lo."
"Kenapa malah kangen?"
"Yaaa... Siapa tahu, ide ngajak ribut itu usaha dia karena kangen sama lo. Walaupun biasanya cewek yang kayak gitu."
"Cowok juga bisa?"
"Mungkin, namanya juga usaha. Usaha nyari perhatian."
Lana mengangguk angguk. Kemudian melihatku meneliti dari atas hingga bawah.
"Lo, rapi amat. Mau kencan?" Kemudian mengendus pakaianku. "Wangi lagi, fiks kencan. Kok nggak cerita sih!!!" Serunya.
"Kerja bego!" Ucapku kemudian berdiri mengambil tas.
"Oh iya, lupa. Maaf." Lana menyusul berdiri dan membersihkan celananya yang sedikit kotor.
"Makanya, jangan Bagas mulu yang dipikirin. Mulai deh mikirin diri lo sendiri. Gimana caranya bisa hidup tenang walaupun banyak masalah."
"Iya iya, maklumlah."
"Mau sampai kapan dimaklumin. Mandiri udah segede torent masih aja minta dimaklumin. Udah gue berangkat kerja dulu." Ucapku sambil memberikan tanganku untuk bersalaman dan bodohnya Lana menyambut itu seolah-olah seorang bapak pamit kepada anaknya.
"Hahaha, nurut banget. Pantesan banyak yang suka sama lo, gampang banget sih dikibulin." Ucapku.
"Eh, iya juga ya. Ih sialan lo, Vin!!!"
Aku mulai menyalakan sepeda motorku.
"Nebeng ya, sampai depan." Ucap Lana.
"Hemmm, gue anterin aja. Jam masuknya juga masih nanti."
"Asyikkk!!!"
Aku hanya menghela napas. Walaupun hal ini terjadi sudah berkali-kali, aku masih saja heran dengan Lana. Memang bahaya kalau lama-lama seperti ini, ada sisi menggemaskan dari Lana yang mungkin untuk beberapa laki-laki jadi tersentuh.
Assalamualaikum wr wb. Ariska masih inget nggak?
BalasHapus