Langsung ke konten utama

Sepenggal Cerita : Lana #1

Aku berjalan mendekati Lana sambil membuka bungkusan coklat kemudian aku berikan kepadanya. Setiap kali dia datang dengan wajah kusam memberengut itu, hanya satu obatnya, coklat. 

"Kenapa?" Tanyaku kemudian. 

"Nggak tahu, capek aja." Jawabnya dengan nada kesal, seolah-olah aku juga penyebabnya. Aku hanya menghela napas. Memang harus sabar menghadapi sahabatku ini. 

"Berantem lagi sama Bagas?" Tanyaku kemudian. 

"Dia duluan, gue nggak tahu apa-apa tiba-tiba didiemin. Terus sekarang tiba-tiba sok sokan kayak nggak ada apa-apa. Nggak jelas. Ya udah gue bales aja, gue diemin." Terangnya dengan mulut penuh kunyahan coklat. 

"Ya terus mau sampai kapan? Besok lo biasa, dianya bete, gitu aja terus sampai ayam bokap gue beranak dinosaurus." Ucapku. 

"Hahaha, sampai balik ke purba kala dong."

Kami sama sama menghela napas. Sore itu, Lana yang baru pulang kerja dan aku yang baru akan bekerja. Kami duduk di teras depan rumahku sambil menatap langit yang akan berubah menjadi gelap. Cukup romantis tapi bukan untuk kami.

"Jatuh cinta itu serumit ini ya? Apalagi sama orang yang nggak jelas." Ucap Lana, ia menyangga tubuhnya dengan kedua tangan ke belakang. 

"Apapun yang pakai hati pasti rumit." Ucapku.

"Temenan sama gue rumit nggak?" Tanya Lana kemudian. 

"Lumayan, mungkin kalau Disa masih di sini, gue nggak terlalu ngerasa."

"Capek juga ya?" Tanya Lana. 

Aku menoleh ke arahnya sambil menerka nerka, apa dia menganggap serius ucapanku. 

"Bercanda kali, lo serius amat sih."

"Gue lagi mikir beneran, apa iya ya sebenernya semua kerumitan ini gue sendiri yang buat."

"Yaaa... Iya sih. Maksud gue, kalau lo bisa lebih santai lagi mikirnya, lebih sederhana dan apa adanya, gue rasa masalah nggak akan sepanjang kereta api Swiss."

"Terus gue harus gimanaaaa?" Tanya Lana pasrah. Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan menutupinya.

"Ya udah biasa aja, emang nggak gampang sih. Tapi cukup sewajarnya, kalau situasinya mendukung bercanda ya bercanda kayak lo sama temen yang lain. Kalau emang nggak ada keperluan ya nggak usah bertegur sapa. Kalau dia mulai mancing mancing ribut tanyain aja ada hal apa yang salah dari lo, bilang juga semua bisa dibicarain baik-baik, termasuk kalau dia kangen sama lo."

"Kenapa malah kangen?"

"Yaaa... Siapa tahu, ide ngajak ribut itu usaha dia karena kangen sama lo. Walaupun biasanya cewek yang kayak gitu."

"Cowok juga bisa?"

"Mungkin, namanya juga usaha. Usaha nyari perhatian."

Lana mengangguk angguk. Kemudian melihatku meneliti dari atas hingga bawah. 

"Lo, rapi amat. Mau kencan?" Kemudian mengendus pakaianku. "Wangi lagi, fiks kencan. Kok nggak cerita sih!!!" Serunya. 

"Kerja bego!" Ucapku kemudian berdiri mengambil tas.

"Oh iya, lupa. Maaf." Lana menyusul berdiri dan membersihkan celananya yang sedikit kotor.

"Makanya, jangan Bagas mulu yang dipikirin. Mulai deh mikirin diri lo sendiri. Gimana caranya bisa hidup tenang walaupun banyak masalah."

"Iya iya, maklumlah."

"Mau sampai kapan dimaklumin. Mandiri udah segede torent masih aja minta dimaklumin. Udah gue berangkat kerja dulu." Ucapku sambil memberikan tanganku untuk bersalaman dan bodohnya Lana menyambut itu seolah-olah seorang bapak pamit kepada anaknya.

"Hahaha, nurut banget. Pantesan banyak yang suka sama lo, gampang banget sih dikibulin." Ucapku. 

"Eh, iya juga ya. Ih sialan lo, Vin!!!"

Aku mulai menyalakan sepeda motorku.

"Nebeng ya, sampai depan." Ucap Lana.

"Hemmm, gue anterin aja. Jam masuknya juga masih nanti."

"Asyikkk!!!"

Aku hanya menghela napas. Walaupun hal ini terjadi sudah berkali-kali, aku masih saja heran dengan Lana. Memang bahaya kalau lama-lama seperti ini, ada sisi menggemaskan dari Lana yang mungkin untuk beberapa laki-laki jadi tersentuh.

Komentar

  1. Assalamualaikum wr wb. Ariska masih inget nggak?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...