Langsung ke konten utama

WIB : GARA-GARA PERUNGGU

Lama banget gue nggak masuk kolom ini. Bukan karena nggak ada hal yang pengen gue ceritain atau gue bahas. Sebenernya banyak banget hal yang pengen gue ceritakan tapi apadaya, kadang mood yang wora-wiri nggak jelas, waktu yang rasanya adaaa ajaaa yang dikerjain, sampai akhirnya nggak jadi buat nulis.

Nggak Cuma di kolom ini aja sih, kolom lainnya pun juga nggak gue update sesering bulan-bulan sebelumnya. Yaa...inilah yang dinamakan adil.

Sesuai dengan judul WIB kali ini, gara-gara Perunggu, gue nangis. FYI, Perunggu adalah salah satu grup musik asal Indonesia yang dibentuk pada tahun 2019 dan terdiri dari Adam Adenan, Ildo Hasman, dan Maul Ibrahim (Wikipedia). Gue sendiri tahu band ini kalau nggak salah dari playlist Spotify, tapi gue lupa nama playlistnya. Lagu pertama yang gue denger berjudul Pastikan Riuh Akhiri Malammu dari Album Memorandum yang dirilis pada 11 Maret 2022 (Wikipedia).

Awalnya gue pikir ini lagu menceritakan tentang hubungan dua orang laki-laki dan perempuan yang lebih spesifiknya pasangan. Yang mana si lakinya ini mencoba menenangkan si perempuan dengan adanya dirinya dan kesediaannya untuk menemani dalam segala situasi salah satunya (yang gue ambil dari lirik) situasi ketika ia bersedih. Tapi, karena gue ini memang kurang inisiatif, gue nggak kepikiran kalau lagu ini ada video musiknya. Dan baru hari Selasa kemarin, gue nggak sengaja lihat video musiknya.

Rasanya kayak, anjirrrr gue nggak nyangka kalau ceritanya bakalan sedalem ini. Memang benar lagunya menggambarkan hubungan seorang laki-laki dengan perempuan, tapi bukan sebagai pasangan kekasih melainkan hubungan darah ayah dan anak perempuannya. Gue sebagai anak perempuan paling kecil dan kebetulan ditinggal ayah dari kecil, ngerasa ini lagu berhasil banget sih untuk menceritakan tentang kasih sayang seorang ayah kepada anak perempuannya.

Dari video musik yang gue lihat, lagu ini menceritakan tentang sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak perempuan, yang mana keluarga tersebut tidak utuh. Ada satu hal yang terlewat dari gue, tidak utuhnya ini karena ibunya meninggal atau mereka bercerai dan si anak perempuannya ikut dengan si ibu. Ada beberapa adegan dimana si bapak ini seperti tinggal di rumah sendirian, kilas balik kenangannya bersama anak perempuannya ketika melihat anak perempuan di jalanan. Sampai diadegan dimana anak perempuannya bersama pasangannya berkunjung ke rumah bapak. Gue menangkap ada perasaan seperti waspada atas kehadiran pasangan anak perempuannya. Sampai akhirnya ketika mereka berbincang dan si bapak melihat tawa lepas anak perempuannya, ia ikut tersenyum. Mungkin perasaan waspada itu berganti rasa percaya dan lega karena anak perempuannya bahagia dengan pasangannya.

Momen haru menurut gue dalam video musik ini adalah ketika si bapak menikahkan anak perempuannya. Gue yakin sih, orang tua mana yang nggak nangis ketika melepaskan anak yang sangat dicintai kepada orang lain (menikah), apalagi dalam cerita tersebut ada kemungkinan si bapak nggak melihat proses tumbuh anaknya. Karena kilas balik yang ditampilkan hanya momen-momen si bapak dengan anaknya waktu kecil. Ketika selesai menikahkan si bapak juga langsung pergi. Saat itu juga diperlihatkan ada seorang laki-laki (seusia si bapak) menghampirinya dan bersalaman, kemudian disusul seorang perempuan (yang gue duga si ibu) yang menarik laki-laki itu pergi. Adegan akhir musik video lagu ini adalah anak perempuannya berlari sambil memanggil si bapak kemudian memeluknya dan mengucapkan terima kasih.

Gila, sih. Menurut gue ini adalah lagu tentang kasih sayang orang tua kepada anak yang dikemas beda. Gue masih nangis bahkan selama nulis review lagu ini. Nggak tahu kenapa, emosinya bener-bener sampai ke gue. Entah karena gue iba sama diri gue sendiri yang nggak akan mengalami itu, entah gue yang terlalu cengeng, atau karena memang gue bisa merasakan betapa sedihnya dalam posisi itu. Yang jelas, menurut gue Perunggu sukses sih dengan lagu ini.

Nggak Cuma Pastikan Riuh Akhiri Malammu, ada beberapa lagu lain dalam album Memorandum yang nggak kalah bagusnya. Bahkan hampir semua (kurang lebih 16 lagu) dalam Playlist Spotify Perunggu bagus. Gue sarankan bagi kalian yang kebetulan baca tulisan ini untuk coba dengerin lagu mereka.

Link Youtube 

Link Spotify

Semoga kalian menikmatinya dan terima kasih kepada kalian yang sengaja atau tidak sengaja mampir membaca tulisan nggak jelas ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...