Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2023

Sepenggal Cerita : Lana #5

Ini ketika gue masih SMA. Hal yang paling membuat gue semangat datang ke sekolah ada Gladis. Perempuan campuran indo-cina yang memiliki senyum manis. Tentu saja, ia berkulit putih, bermata sipit, memiliki rambut panjang yang selalu ia kuncir setengah. Satu hal yang sangat disayangkan, kami tidak seiman. Selain itu mungkin aku bukan tipe laki-laki yang dia cari. Aku selalu datang lebih awal dan mengambil duduk paling belakang. Karena Gladis sudah pasti duduk di bangku depan nomer dua dari kiri. Ini adalah sudut paling tepat untuk terus melihat senyum Gladis saat jam pelajaran. "Benerin tuh, buku!" Sayangnya, keberadaan Lana ada sejak aku kelas satu. Dia adalah perempuan yang jauh berbeda dengan Gladis. Dia perempuan yang hobi nyari ribut kalau ngelihat temennya nggak fokus, padahal dia sendiri juga nggak fokus. "Cakep ya, Vin?" Tanya Lana ditengah tengah aku memandangi Gladis. "Banget!" "Mantapp!" Seru Lana kemudian berlari ke arah Gladis.  "...

Sepenggal Cerita : Lana #4

Pukul sebelas malam. Aku baru pulang setelah menyelesaikan shift sore. Aku cukup beruntung karena tidak kehujanan malam ini. Sebuah hal yang tak terduga setelah tiga malam berturut hujan. Selain itu, kedatangan seorang perempuan yang sudah duduk di kursi teras rumah, itu lebih mengejutkan lagi. Siapa lagi kalau bukan Lana. Aku melemparkan tas kerjaku yang segera ia tangkap dengan sigap. Aku tidak ragu lagi, seorang pecintan basket tentu saja selalu tepat. "Kenapa nggak masuk?" Tanyaku.  "Ibu udah tidur kayaknya." Jawab Lana dengan suara pelan. "Lo datang jam berapa?" "Sepuluh, nggak tahulah, nggak sempet lihat jam." "Sakit lo? Enak-enak tidur ngapain kelayapan ke rumah orang, laki-laki lagi." "Tadi ibu nanyain soal pasangan." Ucap Lana. "Ibu siapa? Gue apa lo?" "Ibu kita Kartini, ya ibu gue lah!!" "Terus?" "Gue lagi nggak punya keinginan buat itu?" "Buat apa? Anak?" "Kok l...

OTEM : KEMBALI PULANG

Gue nggak tahu ini karena periode bulanan atau memang ada hal lain yang bikin gue kembali nggak nyaman. Yang jelas, perasaan itu bikin gue lebih banyak minum kopi dan bau obat. Gue rasa, gue pulang ke dasar diri gue yang sangat lemah mentalnya. Kerja lebih sering ngeluh capek, padahal pekerjaannya juga masih seperti biasanya. Lebih sering ngerasa nggak nyaman, lebih sering ngerasa rendah diri, bedanya gue masih bisa mengontrol itu dan nggak bikin kacau situasi di tempat kerja. Gue masih bisa haha hihi dan sedikit sabar dihadapan pelanggan walaupun aslinya pengen marah. Cuma pengen bilang ke diri gue sendiri, ini Cuma capek seperti biasanya, tapi emang lebih capek dikit. Bertahan ya, jangan sampai lewat batas. Tetap ketawa tetap sabar dan ngertiin situasi disekitar lo. Walaupun itu bikin makin capek, tapi lebih capek lagi kalau lo bikin sekitar lo nggak enak. Inget, masih ada orang yang percaya sama lo, masih ada orang yang mau bikin lo tertawa, masih ada orang yang berharap lo ceri...

Sepenggal Cerita : Lana #3

Dengan modal motor pinjaman rekan kerjaku, aku menyusul Lana yang sedang menemui laki-laki yang sedang ia sukai. Seingatku namanya Bilal, laki-laki yang menjadi rekan kerjanya 1 tahun belakangan ini. Entah kenapa, aku memiliki firasat buruk atas pertemuan tersebut. Pertama, Lana memiliki masalah tentang mengontrol emosi, aku takut dia hanya akan melakukan hal bodoh di depan umum. Dan benar dugaanku, dari arah luar aku melihat Lana yang sudah menangis. Aku berjalan masuk dan duduk di kursi terdekat. "Aku emang bodoh bisa suka sama kamu, tapi semua juga gara-gara kamu. Kamu yang mulai duluan seolah-olah deketin aku..." "Hah... Itu kamu aja yang kePDan, dari awal aku biasa loh, Lan." "Terus maksud kamu kirim bunga, ngucapin selamat pagi, kasih semangat setiap berangkat kerja. Kamu juga ngelakuin itu ke semua orang?!" "Kalau iya kenapa?!" Lana hanya diam. Masih sempat ia menarik ingusnya dan mengusap kasar air mata yang sudah membasahi wajahnya. Aku ...

Sepenggal Cerita : Lana #2

Dengan balutan kaos oversize dan celana kulot, Lana menghampiriku dan duduk pasrah. Ini adalah hari pertamanya datang bulan. Jangan salah paham, kami tidak dalam situasi satu rumah. Hanya saja saking dekatnya kami, hal semacam itu Lana ceritakan kepadaku. "Jadi cewek emang ribet ya." Keluhnya sambil mengambil gelasnya yang isinya tersisa setengah. "Emang. Tapi ya nggak papa, udah bagiannya." Ucapku.  "Bisa nggak ya kalau nyalahin kodrat?" Aku mendengus kesal. Selalu saja ia memiliki ide-ide tidak masuk akal.  "Nggak usah gila deh. Lo udah beda dari cewek pada umumnya." Ucapku.  "Apa bedanya?" "Selera style, lagu, warna, hobi, cara ngomong, cara jalan, milih temen. Beda semua!" "Ya itu ma wajar, kalau sama semua satu dunia jadi punya baju yang sama, lagu yang sama, pakai warna yang sama, temennya juga sama." "Kann... Ini juga beda. Gobloknya itu loh!" "Ihhh sialan. Gue goblok gara-gara main sama lo!...