Langsung ke konten utama

Sepenggal Cerita : Lana #2

Dengan balutan kaos oversize dan celana kulot, Lana menghampiriku dan duduk pasrah. Ini adalah hari pertamanya datang bulan. Jangan salah paham, kami tidak dalam situasi satu rumah. Hanya saja saking dekatnya kami, hal semacam itu Lana ceritakan kepadaku.

"Jadi cewek emang ribet ya." Keluhnya sambil mengambil gelasnya yang isinya tersisa setengah.

"Emang. Tapi ya nggak papa, udah bagiannya." Ucapku. 

"Bisa nggak ya kalau nyalahin kodrat?" Aku mendengus kesal. Selalu saja ia memiliki ide-ide tidak masuk akal. 

"Nggak usah gila deh. Lo udah beda dari cewek pada umumnya." Ucapku. 

"Apa bedanya?"

"Selera style, lagu, warna, hobi, cara ngomong, cara jalan, milih temen. Beda semua!"

"Ya itu ma wajar, kalau sama semua satu dunia jadi punya baju yang sama, lagu yang sama, pakai warna yang sama, temennya juga sama."

"Kann... Ini juga beda. Gobloknya itu loh!"

"Ihhh sialan. Gue goblok gara-gara main sama lo!"

"Lah siapa suruh, lagian kalau lo tahu gue goblok harusnya nggak usah milih gue jadi temen lo."

"Yaaa... Masalahnya cuma lo yang mau."

"Ya udah, jangan bawa-bawa gue atas kekurangan lo."

"Dihh, sensi amat. Perasaan gue yang PMS."

"Bukannya sensi, Na. Entar lo kebiasaan sama orang lain gitu."

"Tapi mereka santai kok,"

"Yaa mungkin untuk beberapa orang bisa aja santai luarnya, saat itu. Nggak tahu nanti setelah kalian pulang ke rumah masing-masing, dia bisa aja mikir, jangan jangan yang dibilang Lana bener ya, gue bla.. Bla. Bla. Bahaya itu!"

"Iya deh iya, si paling nasehat."

"Lo juga, bukannya biasanya cewek pakai kalender gituan ya biar tahu bentar lagi datang bulan. Itu penting juga biar lo bisa jaga-jaga sama mood lo sendiri, jangan sampai lo akhirnya dikuasai sama mood dan loss control kayak tadi."

"Iya sih, gue sebenernya make, tapi HP gue kan kemarin sempet rusak terus lupa nggak instal lagi."

"Minum penyeimbang mood deh sana, biar nggak bikin orang parno."

"Pesulap itu?"

"Tarno!!!!"

"Hahahaha, hobi banget sih pak ngegas."

Aku melirik jam tangan yang menunjukkan pukul delapan malam.

"Pulang sana, bentar lagi gue kerja."

"Lah, kerja tinggal kerja aja. Gue kan tetep boleh nongkrong di sini."

"Iya deh, si paling seenaknya sendiri."

Lana cemberut dan mencoba melayangkan tinju ke arahku. Aku segera berjalan masuk kantor dan mengabaikan apa yang dia lakukan setelah itu. Walaupun beberapa menit sebelum aku benar-benar bekerja, aku pastikan dia masih sadar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...