Dengan balutan kaos oversize dan celana kulot, Lana menghampiriku dan duduk pasrah. Ini adalah hari pertamanya datang bulan. Jangan salah paham, kami tidak dalam situasi satu rumah. Hanya saja saking dekatnya kami, hal semacam itu Lana ceritakan kepadaku.
"Jadi cewek emang ribet ya." Keluhnya sambil mengambil gelasnya yang isinya tersisa setengah.
"Emang. Tapi ya nggak papa, udah bagiannya." Ucapku.
"Bisa nggak ya kalau nyalahin kodrat?" Aku mendengus kesal. Selalu saja ia memiliki ide-ide tidak masuk akal.
"Nggak usah gila deh. Lo udah beda dari cewek pada umumnya." Ucapku.
"Apa bedanya?"
"Selera style, lagu, warna, hobi, cara ngomong, cara jalan, milih temen. Beda semua!"
"Ya itu ma wajar, kalau sama semua satu dunia jadi punya baju yang sama, lagu yang sama, pakai warna yang sama, temennya juga sama."
"Kann... Ini juga beda. Gobloknya itu loh!"
"Ihhh sialan. Gue goblok gara-gara main sama lo!"
"Lah siapa suruh, lagian kalau lo tahu gue goblok harusnya nggak usah milih gue jadi temen lo."
"Yaaa... Masalahnya cuma lo yang mau."
"Ya udah, jangan bawa-bawa gue atas kekurangan lo."
"Dihh, sensi amat. Perasaan gue yang PMS."
"Bukannya sensi, Na. Entar lo kebiasaan sama orang lain gitu."
"Tapi mereka santai kok,"
"Yaa mungkin untuk beberapa orang bisa aja santai luarnya, saat itu. Nggak tahu nanti setelah kalian pulang ke rumah masing-masing, dia bisa aja mikir, jangan jangan yang dibilang Lana bener ya, gue bla.. Bla. Bla. Bahaya itu!"
"Iya deh iya, si paling nasehat."
"Lo juga, bukannya biasanya cewek pakai kalender gituan ya biar tahu bentar lagi datang bulan. Itu penting juga biar lo bisa jaga-jaga sama mood lo sendiri, jangan sampai lo akhirnya dikuasai sama mood dan loss control kayak tadi."
"Iya sih, gue sebenernya make, tapi HP gue kan kemarin sempet rusak terus lupa nggak instal lagi."
"Minum penyeimbang mood deh sana, biar nggak bikin orang parno."
"Pesulap itu?"
"Tarno!!!!"
"Hahahaha, hobi banget sih pak ngegas."
Aku melirik jam tangan yang menunjukkan pukul delapan malam.
"Pulang sana, bentar lagi gue kerja."
"Lah, kerja tinggal kerja aja. Gue kan tetep boleh nongkrong di sini."
"Iya deh, si paling seenaknya sendiri."
Lana cemberut dan mencoba melayangkan tinju ke arahku. Aku segera berjalan masuk kantor dan mengabaikan apa yang dia lakukan setelah itu. Walaupun beberapa menit sebelum aku benar-benar bekerja, aku pastikan dia masih sadar.
Komentar
Posting Komentar