Dengan modal motor pinjaman rekan kerjaku, aku menyusul Lana yang sedang menemui laki-laki yang sedang ia sukai. Seingatku namanya Bilal, laki-laki yang menjadi rekan kerjanya 1 tahun belakangan ini.
Entah kenapa, aku memiliki firasat buruk atas pertemuan tersebut. Pertama, Lana memiliki masalah tentang mengontrol emosi, aku takut dia hanya akan melakukan hal bodoh di depan umum.
Dan benar dugaanku, dari arah luar aku melihat Lana yang sudah menangis. Aku berjalan masuk dan duduk di kursi terdekat.
"Aku emang bodoh bisa suka sama kamu, tapi semua juga gara-gara kamu. Kamu yang mulai duluan seolah-olah deketin aku..."
"Hah... Itu kamu aja yang kePDan, dari awal aku biasa loh, Lan."
"Terus maksud kamu kirim bunga, ngucapin selamat pagi, kasih semangat setiap berangkat kerja. Kamu juga ngelakuin itu ke semua orang?!"
"Kalau iya kenapa?!"
Lana hanya diam. Masih sempat ia menarik ingusnya dan mengusap kasar air mata yang sudah membasahi wajahnya. Aku menahan tawa melihat wajah Lana tapi tangisnya memang lebih menyedihkan.
"Jangan ganggu aku lagi, apapun alasannya." Ucap Lana kemudian meninggalkan laki-laki itu.
Aku segera menyusulnya tapi tidak segera menemuinya. Aku sekedar mengikutinya dari belakang. Dia hanya akan berjalan tanpa arah sampai menemukan tempat bersembunyi untuk menumpahkan air matanya. Dan aku tidak berniat untuk mengganggunya.
Hingga lima belas menit dia berdiri di sela-sela bangunan ruko. Aku langsung menemui dan memberikan tisu kepadanya.
"Nggak usah lama-lama nangisin bajingan kayak dia." Ucapku.
Lana menoleh ke arahku, bukannya mereda, tangisnya justru semakin menjadi sambil memukul lenganku.
"Dia emang bajingan, tolol, nggak tahu diri, nggak punya perasaan!"
"Lo juga tolol,"
"Kok lo ngatain gue sih?"
"Lo udah tahu akhirnya gimana kan?! Lo tahu kalau sama dia juga sama nggak jelasnya sama kayak yang sebelumnya. Gue udah bilang sama lo berkali-lali, tapi lo cuma iya iya doang. Kalau bukan tolol apa coba namany? Goblok?! Buta?! Mati?!"
"Kok... Lo... Aaaa... Benci gue ngelihat lo!!!" Seru Lana kemudian mendorongku. Aku menahannya.
"Lepasin nggak?!!!"
"Nggak, bahaya. Dengerin gue sekarang, udah tahu dia bajingan, jangan lagi lo pikirin. Jangan lo tangisin lagi, capek, ngabisin tenaga sama waktu lo yang bisa buat istirahat. Hapus nomernya hapus semua soal dia dari HP lo. Kalau perlu ambil jatah cuti lo untuk beberapa hari kedepan. Kalau masih kurang, resign. Lo inget Alex kan? Dia juga butuh orang kayak lo, kalau lo mau gue bisa bantu hubungin dia sekarang."
Lana mulai mereda, ia mengusap sisa air mata yang masih menggantung.
"Sekarang gue anterin pulang." Ucapku kemudian.
Lana mengangguk dan mengikuti. Selama dalam perjalanan kami tidak berbicara. Ada sedikit penyesalan karena sudah mengatakan hal kasar kepadanya. Tapi untung saja aku juga bisa segera menenangkannya.
Setelah sampai di rumahnya aku menahan Lana sebentar.
"Maaf kalau kata-kata gue kasar. Lo itu orang yang baik dan tulus tapi selalu jatuh ke orang yang salah. Saking tulusnya lo nggak pernah lihat sisi lain orang lain yang mereka sembunyiin. Nggak semua orang baik di depan lo itu beneran baik. Istirahat dulu sampai lo tenang." Aku melepaskan peganganku dari pundak Lana. Tanpa mengatakan apapun dia berjalan masuk.
Aku menghela napas antara lega dan kesal. Yaa...gaji bulan ini pasti terpotong lagi karena aku bolos dua jam.
Komentar
Posting Komentar