Langsung ke konten utama

Sepenggal Cerita : Lana #3

Dengan modal motor pinjaman rekan kerjaku, aku menyusul Lana yang sedang menemui laki-laki yang sedang ia sukai. Seingatku namanya Bilal, laki-laki yang menjadi rekan kerjanya 1 tahun belakangan ini.

Entah kenapa, aku memiliki firasat buruk atas pertemuan tersebut. Pertama, Lana memiliki masalah tentang mengontrol emosi, aku takut dia hanya akan melakukan hal bodoh di depan umum.

Dan benar dugaanku, dari arah luar aku melihat Lana yang sudah menangis. Aku berjalan masuk dan duduk di kursi terdekat.

"Aku emang bodoh bisa suka sama kamu, tapi semua juga gara-gara kamu. Kamu yang mulai duluan seolah-olah deketin aku..."

"Hah... Itu kamu aja yang kePDan, dari awal aku biasa loh, Lan."

"Terus maksud kamu kirim bunga, ngucapin selamat pagi, kasih semangat setiap berangkat kerja. Kamu juga ngelakuin itu ke semua orang?!"

"Kalau iya kenapa?!"

Lana hanya diam. Masih sempat ia menarik ingusnya dan mengusap kasar air mata yang sudah membasahi wajahnya. Aku menahan tawa melihat wajah Lana tapi tangisnya memang lebih menyedihkan.

"Jangan ganggu aku lagi, apapun alasannya." Ucap Lana kemudian meninggalkan laki-laki itu. 

Aku segera menyusulnya tapi tidak segera menemuinya. Aku sekedar mengikutinya dari belakang. Dia hanya akan berjalan tanpa arah sampai menemukan tempat bersembunyi untuk menumpahkan air matanya. Dan aku tidak berniat untuk mengganggunya.

Hingga lima belas menit dia berdiri di sela-sela bangunan ruko. Aku langsung menemui dan memberikan tisu kepadanya.

"Nggak usah lama-lama nangisin bajingan kayak dia." Ucapku. 

Lana menoleh ke arahku, bukannya mereda, tangisnya justru semakin menjadi sambil memukul lenganku.

"Dia emang bajingan, tolol, nggak tahu diri, nggak punya perasaan!"

"Lo juga tolol,"

"Kok lo ngatain gue sih?"

"Lo udah tahu akhirnya gimana kan?! Lo tahu kalau sama dia juga sama nggak jelasnya sama kayak yang sebelumnya. Gue udah bilang sama lo berkali-lali, tapi lo cuma iya iya doang. Kalau bukan tolol apa coba namany? Goblok?! Buta?! Mati?!"

"Kok... Lo... Aaaa... Benci gue ngelihat lo!!!" Seru Lana kemudian mendorongku. Aku menahannya. 

"Lepasin nggak?!!!"

"Nggak, bahaya. Dengerin gue sekarang, udah tahu dia bajingan, jangan lagi lo pikirin. Jangan lo tangisin lagi, capek, ngabisin tenaga sama waktu lo yang bisa buat istirahat. Hapus nomernya hapus semua soal dia dari HP lo. Kalau perlu ambil jatah cuti lo untuk beberapa hari kedepan. Kalau masih kurang, resign. Lo inget Alex kan? Dia juga butuh orang kayak lo, kalau lo mau gue bisa bantu hubungin dia sekarang."

Lana mulai mereda, ia mengusap sisa air mata yang masih menggantung.

"Sekarang gue anterin pulang." Ucapku kemudian. 

Lana mengangguk dan mengikuti. Selama dalam perjalanan kami tidak berbicara. Ada sedikit penyesalan karena sudah mengatakan hal kasar kepadanya. Tapi untung saja aku juga bisa segera menenangkannya.

Setelah sampai di rumahnya aku menahan Lana sebentar. 

"Maaf kalau kata-kata gue kasar. Lo itu orang yang baik dan tulus tapi selalu jatuh ke orang yang salah. Saking tulusnya lo nggak pernah lihat sisi lain orang lain yang mereka sembunyiin. Nggak semua orang baik di depan lo itu beneran baik. Istirahat dulu sampai lo tenang." Aku melepaskan peganganku dari pundak Lana. Tanpa mengatakan apapun dia berjalan masuk.

Aku menghela napas antara lega dan kesal. Yaa...gaji bulan ini pasti terpotong lagi karena aku bolos dua jam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...