Pukul sebelas malam. Aku baru pulang setelah menyelesaikan shift sore. Aku cukup beruntung karena tidak kehujanan malam ini. Sebuah hal yang tak terduga setelah tiga malam berturut hujan. Selain itu, kedatangan seorang perempuan yang sudah duduk di kursi teras rumah, itu lebih mengejutkan lagi. Siapa lagi kalau bukan Lana.
Aku melemparkan tas kerjaku yang segera ia tangkap dengan sigap. Aku tidak ragu lagi, seorang pecintan basket tentu saja selalu tepat.
"Kenapa nggak masuk?" Tanyaku.
"Ibu udah tidur kayaknya." Jawab Lana dengan suara pelan.
"Lo datang jam berapa?"
"Sepuluh, nggak tahulah, nggak sempet lihat jam."
"Sakit lo? Enak-enak tidur ngapain kelayapan ke rumah orang, laki-laki lagi."
"Tadi ibu nanyain soal pasangan." Ucap Lana.
"Ibu siapa? Gue apa lo?"
"Ibu kita Kartini, ya ibu gue lah!!"
"Terus?"
"Gue lagi nggak punya keinginan buat itu?"
"Buat apa? Anak?"
"Kok lo anjing, sih!!"
"Sttt... Nggak sopan ngomong kasar!"
"Lo yang mulai."
"Lo yang nggak jelas. Gue bukan cowo yang bisa maksud omongan setengah-setengah lo. Gue juga bukan dukun yang bisa nebak maksud tersembunyi dari kalimat lo. Gue juga capek dan males mikir."
Lana hanya mendengus kesal. Dia kembali mengawang sebelum melanjutkan ucapannya.
"Bilal adalah laki-laki terakhir yang gue suka sampai saat ini. Gue udah biasa sama perasaannya, tapi setiap kali gue mau mulai sama orang baru, gue takut kalau ujungnya bakalan sama."
Aku mencoba memberinya kesempatan untuk mengeluarkan semua uneg-uneg dalam pikirannya.
"Seketika gue juga sadar, gue nggak bisa kayak gini terus. Ini udah dua tahun, gue makin tambah usia begitu juga ibu. Mana tinggal gue doang yang belum nikah, pasti ibu berharapnya gue segera punya pasangan."
Aku melirik sekilas ke arah Lana. Dia menangis.
Aku menepuk pelan pundaknya.
"Nggak tahu kenapa, tiba-tiba gue juga mikir, gue nggak pernah ada waktu buat ngobrol sama dia, gua jarang kasih kebahagiaan buat dia. Banyak hal yang gue lakuin... Mungkin nggak bikin dia kecewa atau marah tapi... Gue yakin dia nggak nyaman."
"Nggak papa..." Ucapku sambil terus menepuk pundaknya.
"Apa yang bisa gue lakuin sekarang?" Tanyanya sambil menundukkan kepalanya dalam dalam.
"Tata dulu aja pikiran sama hati lo. Lakuin dari hal kecil, sering di rumah, sering bantuin kerjaan rumah, makan bareng. Gue rasa nyokap lo udah seneng dengan kayak gitu. Kalau soal pasangan, jangan dipaksa. Semuanya ada waktunya masing-masing. Apalagi gue rasa lo belum sepenuhnya selesai dengan Bilal. Nggak baik ketika lo mulai hubungan baru tapi masih ada bayang bayang masa lalu."
Lana masih menangis sesenggukan. Sambil terus menepuk pundaknya, aku baru menyadari satu hal.
"Lo jalan ke sini tadi?" Tanyaku sambil melihat halaman rumah yang hanya terdapat motorku.
Lana mengangguk. Aku menghela napas. Memang perempuan satu ini berbeda. Lama kelamaan aku sendiri juga bingung akan menempatkan dia sebagai apa.
Komentar
Posting Komentar