Langsung ke konten utama

Sepenggal Cerita : Lana #4

Pukul sebelas malam. Aku baru pulang setelah menyelesaikan shift sore. Aku cukup beruntung karena tidak kehujanan malam ini. Sebuah hal yang tak terduga setelah tiga malam berturut hujan. Selain itu, kedatangan seorang perempuan yang sudah duduk di kursi teras rumah, itu lebih mengejutkan lagi. Siapa lagi kalau bukan Lana.

Aku melemparkan tas kerjaku yang segera ia tangkap dengan sigap. Aku tidak ragu lagi, seorang pecintan basket tentu saja selalu tepat.

"Kenapa nggak masuk?" Tanyaku. 

"Ibu udah tidur kayaknya." Jawab Lana dengan suara pelan.

"Lo datang jam berapa?"

"Sepuluh, nggak tahulah, nggak sempet lihat jam."

"Sakit lo? Enak-enak tidur ngapain kelayapan ke rumah orang, laki-laki lagi."

"Tadi ibu nanyain soal pasangan." Ucap Lana.

"Ibu siapa? Gue apa lo?"

"Ibu kita Kartini, ya ibu gue lah!!"

"Terus?"

"Gue lagi nggak punya keinginan buat itu?"

"Buat apa? Anak?"

"Kok lo anjing, sih!!"

"Sttt... Nggak sopan ngomong kasar!"

"Lo yang mulai."

"Lo yang nggak jelas. Gue bukan cowo yang bisa maksud omongan setengah-setengah lo. Gue juga bukan dukun yang bisa nebak maksud tersembunyi dari kalimat lo. Gue juga capek dan males mikir."

Lana hanya mendengus kesal. Dia kembali mengawang sebelum melanjutkan ucapannya.

"Bilal adalah laki-laki terakhir yang gue suka sampai saat ini. Gue udah biasa sama perasaannya, tapi setiap kali gue mau mulai sama orang baru, gue takut kalau ujungnya bakalan sama."

Aku mencoba memberinya kesempatan untuk mengeluarkan semua uneg-uneg dalam pikirannya.

"Seketika gue juga sadar, gue nggak bisa kayak gini terus. Ini udah dua tahun, gue makin tambah usia begitu juga ibu. Mana tinggal gue doang yang belum nikah, pasti ibu berharapnya gue segera punya pasangan."

Aku melirik sekilas ke arah Lana. Dia menangis.

Aku menepuk pelan pundaknya.

"Nggak tahu kenapa, tiba-tiba gue juga mikir, gue nggak pernah ada waktu buat ngobrol sama dia, gua jarang kasih kebahagiaan buat dia. Banyak hal yang gue lakuin... Mungkin nggak bikin dia kecewa atau marah tapi... Gue yakin dia nggak nyaman."

"Nggak papa..." Ucapku sambil terus menepuk pundaknya.

"Apa yang bisa gue lakuin sekarang?" Tanyanya sambil menundukkan kepalanya dalam dalam.

"Tata dulu aja pikiran sama hati lo. Lakuin dari hal kecil, sering di rumah, sering bantuin kerjaan rumah, makan bareng. Gue rasa nyokap lo udah seneng dengan kayak gitu. Kalau soal pasangan, jangan dipaksa. Semuanya ada waktunya masing-masing. Apalagi gue rasa lo belum sepenuhnya selesai dengan Bilal. Nggak baik ketika lo mulai hubungan baru tapi masih ada bayang bayang masa lalu."

Lana masih menangis sesenggukan. Sambil terus menepuk pundaknya, aku baru menyadari satu hal. 

"Lo jalan ke sini tadi?" Tanyaku sambil melihat halaman rumah yang hanya terdapat motorku.

Lana mengangguk. Aku menghela napas. Memang perempuan satu ini berbeda. Lama kelamaan aku sendiri juga bingung akan menempatkan dia sebagai apa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...