Ini ketika gue masih SMA. Hal yang paling membuat gue semangat datang ke sekolah ada Gladis. Perempuan campuran indo-cina yang memiliki senyum manis. Tentu saja, ia berkulit putih, bermata sipit, memiliki rambut panjang yang selalu ia kuncir setengah. Satu hal yang sangat disayangkan, kami tidak seiman. Selain itu mungkin aku bukan tipe laki-laki yang dia cari.
Aku selalu datang lebih awal dan mengambil duduk paling belakang. Karena Gladis sudah pasti duduk di bangku depan nomer dua dari kiri. Ini adalah sudut paling tepat untuk terus melihat senyum Gladis saat jam pelajaran.
"Benerin tuh, buku!"
Sayangnya, keberadaan Lana ada sejak aku kelas satu. Dia adalah perempuan yang jauh berbeda dengan Gladis. Dia perempuan yang hobi nyari ribut kalau ngelihat temennya nggak fokus, padahal dia sendiri juga nggak fokus.
"Cakep ya, Vin?" Tanya Lana ditengah tengah aku memandangi Gladis.
"Banget!"
"Mantapp!" Seru Lana kemudian berlari ke arah Gladis.
"Dis, Dis, dengerin deh!" Lana memberikan ponselnya. Ternyata dia merekam suaraku.
Walaupun memalukan, sejak kejadian itu aku dan Gladis sedikit lebih dekat. Kadang kita satu kelompok belajar. Kadang karena ulah Lana yang usil Gladis jadi menghampiriku atau sebaliknya. Tapi tetap saja, kami hanya teman sekelas biasa.
"Vin, nggak mau coba bilang suka sama Gladis?" Tanya Lana ketika acara pesta perpisahan kelas 3.
"Dia udah tahu kali, kan lo yang bikin semua jadi ketahuan."
"Yang lebih resmilah, siapa tahu dia nunggu ungkapan perasaan lo."
"Nggak, beda Allah, nggak boleh."
"Foto bareng deh,"
"Lo kenapa juga sih ribet, kalau pengen foto bareng sana."
"Yaa... Nawarin doang sih, takutnya lo nyesel aja. 3 tahun bareng nggak ada kenangannya."
"Nggak, gue bisa ngelihat dia katawa dari sini aja, udah seneng."
"Emang ngenes sih."
Aku membiarkan Lana pergi. Keaktifannya ini yang kadang membuatku kesal bahkan setelah kami sudah dewasa.
Entah apa yang dikatakan Lana. Beberapa menit kemudian Gladis menemuiku.
"Vin," Panggilnya dengan suara lembut.
"Ya?" Tanyaku.
"Makasih ya, coklatnya." Ucap Gladis.
Aku melihat Lana memberi kode, bahwa itu rencanannya.
"Oh, iya Dis. Maaf nggak ngasih langsung. Malu soalnya, cuma coklat." Ucapku.
"Gue suka kok, Vin sama coklat. Apalagi yang varian ini."
"Ba..gus deh kalau gitu, hehehe."
"Lo nggak mau ngomong sesuatu?"
Aku kembali melihat belakang Gladis, Lana masih berdiri di sana berjaga-jaga.
"Maaf si Lana suka cari ribut. Ganggu belajar lo."
"Hahahha, kalau nggak karena Lana gue juga nggak akan tahu kalau lo suka sama gue."
"Aaa... Itu, kagum sih. Ya gimana juga lo cantik, pasti banyak yang suka."
"Tapi lo paling lucu sih. Gue suka cara lo."
"Makasih," Ucapku dengan canggung.
"Foto yuk, biar gue punya kenang kenangan dari lo." Ajak Gladis.
"Sini sini gue fotoin," Seru Lana yang berlari.
Gladis tertawa melihat ke arahku dan aku hanya bisa ikut tertawa canggung.
"Siap ya, 1...2....3," Seru Lana memberi aba-aba.
Dan jadilah, fotoku dan Gladis yang memang sengaja masih ku simpan. Siapa tahu, akan berguna nantinya.
Komentar
Posting Komentar