Langsung ke konten utama

Sepenggal Cerita : Lana #5

Ini ketika gue masih SMA. Hal yang paling membuat gue semangat datang ke sekolah ada Gladis. Perempuan campuran indo-cina yang memiliki senyum manis. Tentu saja, ia berkulit putih, bermata sipit, memiliki rambut panjang yang selalu ia kuncir setengah. Satu hal yang sangat disayangkan, kami tidak seiman. Selain itu mungkin aku bukan tipe laki-laki yang dia cari.

Aku selalu datang lebih awal dan mengambil duduk paling belakang. Karena Gladis sudah pasti duduk di bangku depan nomer dua dari kiri. Ini adalah sudut paling tepat untuk terus melihat senyum Gladis saat jam pelajaran.

"Benerin tuh, buku!"

Sayangnya, keberadaan Lana ada sejak aku kelas satu. Dia adalah perempuan yang jauh berbeda dengan Gladis. Dia perempuan yang hobi nyari ribut kalau ngelihat temennya nggak fokus, padahal dia sendiri juga nggak fokus.

"Cakep ya, Vin?" Tanya Lana ditengah tengah aku memandangi Gladis.

"Banget!"

"Mantapp!" Seru Lana kemudian berlari ke arah Gladis. 

"Dis, Dis, dengerin deh!" Lana memberikan ponselnya. Ternyata dia merekam suaraku.

Walaupun memalukan, sejak kejadian itu aku dan Gladis sedikit lebih dekat. Kadang kita satu kelompok belajar. Kadang karena ulah Lana yang usil Gladis jadi menghampiriku atau sebaliknya. Tapi tetap saja, kami hanya teman sekelas biasa.

"Vin, nggak mau coba bilang suka sama Gladis?" Tanya Lana ketika acara pesta perpisahan kelas 3.

"Dia udah tahu kali, kan lo yang bikin semua jadi ketahuan."

"Yang lebih resmilah, siapa tahu dia nunggu ungkapan perasaan lo."

"Nggak, beda Allah, nggak boleh."

"Foto bareng deh,"

"Lo kenapa juga sih ribet, kalau pengen foto bareng sana."

"Yaa... Nawarin doang sih, takutnya lo nyesel aja. 3 tahun bareng nggak ada kenangannya."

"Nggak, gue bisa ngelihat dia katawa dari sini aja, udah seneng."

"Emang ngenes sih."

Aku membiarkan Lana pergi. Keaktifannya ini yang kadang membuatku kesal bahkan setelah kami sudah dewasa.

Entah apa yang dikatakan Lana. Beberapa menit kemudian Gladis menemuiku.

"Vin," Panggilnya dengan suara lembut.

"Ya?" Tanyaku.

"Makasih ya, coklatnya." Ucap Gladis.

Aku melihat Lana memberi kode, bahwa itu rencanannya.

"Oh, iya Dis. Maaf nggak ngasih langsung. Malu soalnya, cuma coklat." Ucapku.

"Gue suka kok, Vin sama coklat. Apalagi yang varian ini."

"Ba..gus deh kalau gitu, hehehe."

"Lo nggak mau ngomong sesuatu?"

Aku kembali melihat belakang Gladis, Lana masih berdiri di sana berjaga-jaga.

"Maaf si Lana suka cari ribut. Ganggu belajar lo."

"Hahahha, kalau nggak karena Lana gue juga nggak akan tahu kalau lo suka sama gue."

"Aaa... Itu, kagum sih. Ya gimana juga lo cantik, pasti banyak yang suka."

"Tapi lo paling lucu sih. Gue suka cara lo."

"Makasih," Ucapku dengan canggung.

"Foto yuk, biar gue punya kenang kenangan dari lo." Ajak Gladis.

"Sini sini gue fotoin," Seru Lana yang berlari.

Gladis tertawa melihat ke arahku dan aku hanya bisa ikut tertawa canggung.

"Siap ya, 1...2....3," Seru Lana memberi aba-aba. 

Dan jadilah, fotoku dan Gladis yang memang sengaja masih ku simpan. Siapa tahu, akan berguna nantinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...