Lana menyandarkan punggungnya di punggung kursi panjang teras rumahku. “Huh...” ia menghela napas, berlagak seperti orang yang merokok. Kali ini ia menggunakan biskuit stick yang ia beli di mini market. Tidak lupa lengkap dengan segelas kopi hitam buatannya. Ditambah efek asap sisa bakaran sampah sore tadi, membuat kami terlihat seperti dua orang yang sedang putus asa. Sudah beberapa hari ini dia terlihat tidak memiliki semangat hidup. Bahkan pembawaannya yang ceria juga lenyap begitu saja. Tapi aku rasa, dia masih dalam batas aman, karena masih bisa tertawa dan membuat guyonan receh, walaupun mungkin hanya denganku. Sebenarnya akupun juga merasakan hal yang sama, entah karena lelah atau karena hal lain yang belum aku sadari. “Ngerokok enak kali ya, Vin?!” celetuknya. “Kalau lo mau dibantai sama Ibu, nggak papa, sih!” ucapku. Dan lagi-lagi hanya helaan napas yang ia keluarkan. “Apa gue harus ke psikolog lagi ya, Vin?” tanyanya kemudian. “Kalau emang lo ngerasa bakal lebih...