Lana menyandarkan punggungnya di punggung kursi panjang teras rumahku.
“Huh...” ia menghela napas, berlagak seperti orang yang merokok. Kali ini
ia menggunakan biskuit stick yang ia beli di mini market. Tidak lupa lengkap
dengan segelas kopi hitam buatannya. Ditambah efek asap sisa bakaran sampah
sore tadi, membuat kami terlihat seperti dua orang yang sedang putus asa.
Sudah beberapa hari ini dia terlihat tidak memiliki semangat hidup. Bahkan pembawaannya
yang ceria juga lenyap begitu saja. Tapi aku rasa, dia masih dalam batas aman,
karena masih bisa tertawa dan membuat guyonan receh, walaupun mungkin hanya
denganku. Sebenarnya akupun juga merasakan hal yang sama, entah karena lelah
atau karena hal lain yang belum aku sadari.
“Ngerokok enak kali ya, Vin?!” celetuknya.
“Kalau lo mau dibantai sama Ibu, nggak papa, sih!” ucapku.
Dan lagi-lagi hanya helaan napas yang ia keluarkan.
“Apa gue harus ke psikolog lagi ya, Vin?” tanyanya kemudian.
“Kalau emang lo ngerasa bakal lebih mendingan setelah ke sana, nggak ada
salahnya dicoba.” Jawabku.
“Rasanya capek aja sih, Vin. Tapi gue nggak tahu kenapa.”
“Sama,” ucapku.
Lana kembali menghela napas. Aku cukup mengenal Lana, dia adalah orang yang
menurutku paling cepat berkembang dalam hidupnya. Dia lebih cepat menyadari
apabila ada yang tidak beres dalam dirinya dan sekitarnya. Dia selalu paham
batasan dirinya sendiri. Termasuk tentang kopi. Dia tidak akan minum kopi
apabila kepalanya tidak terasa ingin meledak. Dia juga tidak akan betah diam
dalam waktu yang lama ketika kami bertemu apabila kepalanya sedang banyak
bicara. Aku melirik gelas miliknya, kopinya tersisa sekitar 1 cm.
“Lo udah ngopi berapa kali minggu ini?” tanyaku kemudian.
Lana menggeleng, “lupa,” jawabnya.
“Vitamin lo?” tanyaku lagi.
“Masih aman,” jawabnya.
“Mas Adam kemarin bilang ke gue, katanya lo beli vitamin lagi, padahal baru
2 minggu yang lalu lo beli.” Ucapku.
“Dihhh, Mas Adam tukang ngadu!!!” ucapnya
“Lo mau dengerin lagi apa lo berhenti?” tanyaku.
“Gue pengen dengerin lagi,” jawabnya.
“Gue nggak tahu sepecah apa hidup lo, gue juga nggak tahu rasa sakit yang
lo rasain. Tapi gue paham itu berat buat lo. Lo udah jalan sangat jauh, bisa
aja besok lo udah selesai sama misi kali ini. Jadi, jangan ngelakuin hal bodoh
yang bikin lo gagal berhasil jalanin misi kali ini. Gue nggak ngelarang lo
ngopi, tapi lo harus sadar kalau setelah ini lo ngopi lagi, lo ngelewatin
batas. Gue juga nggak ngelarang lo minum vitamin itu berapa kali, tapi kalau
sampai lo ngabisin 30 butir selama seminggu atau bahkan nggak nyampek seminggu,
itu lo gila! Coba pikirin aja, mungkin lo butuh waktu untuk berhenti sebentar
dari rutinitas lo. Kalau memungkinkan, mendingan lo istirahat dulu. Kalau nggak,
tetap jangan dipaksa, ambil jeda setiap kali lo ngerasa udah capek.”
Lana tersenyum, ia mengambil gelasnya berniat untuk menghabiskan sisa kopi
miliknya. Sekilas aku melihat matanya berkaca-kaca.
“Gue yakin, apapun masalahnya, sekacau apapun itu, lo masih bisa lewatin
ini.” Tambahku.
Lana lagi-lagi tersenyum kemudian mengusap matanya yang sudah sedikit
basah.
“Makasih ya, Vin. Udah nemenin gue sampai sini.” Ucapnya. “Terharu gue.” Tambahnya
kemudian.
“Yaa...nggak ada yang gratis sih di dunia ini.” Ucapku.
“Halahhh, apa sih yang lo minta? Palingan traktiran.”
“Nggak, kali ini beda dan gue serius.”
“Apa emangnya?”
“Lo hidup yang bener di sisa usia muda lo. Jangan sampai, ketika lo ketemu
sama pasangan lo nanti...Cuma sebentar karena lo mati duluan, gara-gara pola
hidup nggak sehat lo ini. Emang nggak bisa lo nggak ngopi nggak minum obat
berlebihan pas stress gini?!”
“Hahaha, gue masih belum nemu cara lain. Tapi kan lo tadi bilang, kalau lo
nggak ngelarang gue untuk ngelakuin itu selama gue tahu batasan, kan?!”
“Iya, kalau lo tahu batasannya. Tapi, kenyataannya lo selalu berlebihan.”
“Iyaaa, deh. Semoga aja nggak lagi.”
“Ngomong doang!” ucapku sedikit kesal. Ini bukan pertama kali atau kedua
kalinya. Tapi entah ke berapa kalinya Lana melakukan hal-hal bodoh dan cukup
membahayakan hidupnya sendiri.
Komentar
Posting Komentar