Langsung ke konten utama

Sepenggal Cerita : Lana #6

Lana menyandarkan punggungnya di punggung kursi panjang teras rumahku.

“Huh...” ia menghela napas, berlagak seperti orang yang merokok. Kali ini ia menggunakan biskuit stick yang ia beli di mini market. Tidak lupa lengkap dengan segelas kopi hitam buatannya. Ditambah efek asap sisa bakaran sampah sore tadi, membuat kami terlihat seperti dua orang yang sedang putus asa.

Sudah beberapa hari ini dia terlihat tidak memiliki semangat hidup. Bahkan pembawaannya yang ceria juga lenyap begitu saja. Tapi aku rasa, dia masih dalam batas aman, karena masih bisa tertawa dan membuat guyonan receh, walaupun mungkin hanya denganku. Sebenarnya akupun juga merasakan hal yang sama, entah karena lelah atau karena hal lain yang belum aku sadari.

“Ngerokok enak kali ya, Vin?!” celetuknya.

“Kalau lo mau dibantai sama Ibu, nggak papa, sih!” ucapku.

Dan lagi-lagi hanya helaan napas yang ia keluarkan.

“Apa gue harus ke psikolog lagi ya, Vin?” tanyanya kemudian.

“Kalau emang lo ngerasa bakal lebih mendingan setelah ke sana, nggak ada salahnya dicoba.” Jawabku.

“Rasanya capek aja sih, Vin. Tapi gue nggak tahu kenapa.”

“Sama,” ucapku.

Lana kembali menghela napas. Aku cukup mengenal Lana, dia adalah orang yang menurutku paling cepat berkembang dalam hidupnya. Dia lebih cepat menyadari apabila ada yang tidak beres dalam dirinya dan sekitarnya. Dia selalu paham batasan dirinya sendiri. Termasuk tentang kopi. Dia tidak akan minum kopi apabila kepalanya tidak terasa ingin meledak. Dia juga tidak akan betah diam dalam waktu yang lama ketika kami bertemu apabila kepalanya sedang banyak bicara. Aku melirik gelas miliknya, kopinya tersisa sekitar 1 cm.

“Lo udah ngopi berapa kali minggu ini?” tanyaku kemudian.

Lana menggeleng, “lupa,” jawabnya.

“Vitamin lo?” tanyaku lagi.

“Masih aman,” jawabnya.

“Mas Adam kemarin bilang ke gue, katanya lo beli vitamin lagi, padahal baru 2 minggu yang lalu lo beli.” Ucapku.

“Dihhh, Mas Adam tukang ngadu!!!” ucapnya

“Lo mau dengerin lagi apa lo berhenti?” tanyaku.

“Gue pengen dengerin lagi,” jawabnya.

“Gue nggak tahu sepecah apa hidup lo, gue juga nggak tahu rasa sakit yang lo rasain. Tapi gue paham itu berat buat lo. Lo udah jalan sangat jauh, bisa aja besok lo udah selesai sama misi kali ini. Jadi, jangan ngelakuin hal bodoh yang bikin lo gagal berhasil jalanin misi kali ini. Gue nggak ngelarang lo ngopi, tapi lo harus sadar kalau setelah ini lo ngopi lagi, lo ngelewatin batas. Gue juga nggak ngelarang lo minum vitamin itu berapa kali, tapi kalau sampai lo ngabisin 30 butir selama seminggu atau bahkan nggak nyampek seminggu, itu lo gila! Coba pikirin aja, mungkin lo butuh waktu untuk berhenti sebentar dari rutinitas lo. Kalau memungkinkan, mendingan lo istirahat dulu. Kalau nggak, tetap jangan dipaksa, ambil jeda setiap kali lo ngerasa udah capek.”

Lana tersenyum, ia mengambil gelasnya berniat untuk menghabiskan sisa kopi miliknya. Sekilas aku melihat matanya berkaca-kaca.

“Gue yakin, apapun masalahnya, sekacau apapun itu, lo masih bisa lewatin ini.” Tambahku.

Lana lagi-lagi tersenyum kemudian mengusap matanya yang sudah sedikit basah.

“Makasih ya, Vin. Udah nemenin gue sampai sini.” Ucapnya. “Terharu gue.” Tambahnya kemudian.

“Yaa...nggak ada yang gratis sih di dunia ini.” Ucapku.

“Halahhh, apa sih yang lo minta? Palingan traktiran.”

“Nggak, kali ini beda dan gue serius.”

“Apa emangnya?”

“Lo hidup yang bener di sisa usia muda lo. Jangan sampai, ketika lo ketemu sama pasangan lo nanti...Cuma sebentar karena lo mati duluan, gara-gara pola hidup nggak sehat lo ini. Emang nggak bisa lo nggak ngopi nggak minum obat berlebihan pas stress gini?!”

“Hahaha, gue masih belum nemu cara lain. Tapi kan lo tadi bilang, kalau lo nggak ngelarang gue untuk ngelakuin itu selama gue tahu batasan, kan?!”

“Iya, kalau lo tahu batasannya. Tapi, kenyataannya lo selalu berlebihan.”

“Iyaaa, deh. Semoga aja nggak lagi.”

“Ngomong doang!” ucapku sedikit kesal. Ini bukan pertama kali atau kedua kalinya. Tapi entah ke berapa kalinya Lana melakukan hal-hal bodoh dan cukup membahayakan hidupnya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...