Untuk pertama kalinya, aku meninggalkan Lana dengan segala masalahnya. Saat itu, aku merasa lelah. Seolah-olah hanya dia yang memiliki banyak masalah dalam hidup ini. Aku tidak mengatakan apapun, aku juga tidak mendengar apa yang ia katakan saat terakhir kami bertemu. Di hari selanjutnya, kami menjadi asing. Ibu sempat mempertanyakan hal itu. Ketidakhadiran dia dalam sehari saja sudah membuatnya curiga bahwa kami sedang tidak baik-baik saja. Aku hanya menjawab sekenanya. Entah kenapa dihari selanjutnya hingga saat ini, aku juga masih enggan untuk menemuinya. “Tumben ngopi, Vin.” Ucap Raihan, rekan kerjaku. “Lagi pengen aja.” Jawabku sekenanya. “Akhir-akhir ini lo kelihatan beda, deh. Ada masalah?” tanyanya lagi. Aku menoleh sekilas dan kembali ke posisi awalku. “Capek aja, kayaknya.” Jawabku sekenanya. Lagi. “Hahaha, gue temenan sama lo cukup lama, Vin. Gue udah cukup hafal gelagat-gelagat lo. Perlu gue pinjemin motor lagi, buat nemuin cewek itu? Atau lo mau gue kenalin orang baru...