Sudah lebih dari 1 jam aku berhadapan dengan layar laptop ini. Tidak ada kegiatan apapun selain satu lagu yang terputar berulang kali sejak aku menghidupkan mesin canggih ini.
Aku lagi banyak pikiran. Maaf ya kalau nyebelin
Pesan terakhir yang aku kirim kepada Bilal. Sisanya, aku tidak membalas lagi dan tidak melihat notifikasi lain di ponselku.
“Ini kopi keberapa ya?” tanya pelayan cafe langgananku.
“Lupa, tapi udah bikin gue pusing.” Jawabku.
“Emang cara mabuk lo beda ya, kebanyakan orang pergi ke bar atau club, lo Cuma ke cafe aja bisa mabuk.”
“Mabuk halal,”
“Mutahnya juga beda kan nanti, mereka mutahin semua yang dimakan, lo mutah darah.”
“Ha..ha...ha, iya, ya.” Ucapku sekenanya. Walaupun setelah dipikir-pikir memang bisa saja. Karena seharian ini aku baru makan sekali.
“Kayaknya lo butuh pasangan, deh.”
“Buat apa? Enak-enak kalau pas stress? Hahahaa!” kelakarku.
“Heh, dasar!! Otak lo, beresin deh! Lo butuh temen buat cerita, yang bisa dengerin lo tanpa ngejudge lo. Cukup dengerin aja. Lo juga pasti perlu dikasih kalimat-kalimat penyemangat yang menenangkan. Dan biasanya itu lebih manjur kalau dari lawan jenis.”
“Proses gue nggak bisa secepet itu.” Ucapku menanggapi masukkan Ida, pelayan cafe yang aku maksud.
“Tahu dari mana?” tanyanya.
“Feeling.” Jawabku sekenanya.
“Lo tuh...emang aneh. Gue nggak tahu cara mikir lo, cara pandang lo terhadap sesuatu.”
“Tapi kita ada kesamaan, loh.” Ucapku dengan mimik antusias.
“Dih, apaan?”
“Sama-sama mikir kalau gue emang aneh, hahaha”
“Kannnn! Emang nggak beres ini, anak.” Ucap Ida kemudian beranjak dari kursi. “Ini kopi terakhir ya, habis ini gue nggak mau bikinin lagi.” Lanjutnya.
“Mas Andre, nanti kalau habis bikinin lagi ya.” Seruku kepada pelayan cafe lainnya. Ida memberikan isyarat ‘tidak’ kepada Mas Andre.
“UGD jauh, jadi gue nggak mau ambil risiko.” Ucap Mas Andre sambil ketawa.
Aku memberengut dan kembali fokus ke laptop.
“Pulang aja, lo Cuma butuh istirahat.” Seru Ida, yang kembali sibuk di balik mesin kopi.
Diwaktu yang sama, ada beberapa orang yang bersiap untuk melakukan live music malam ini. Untuk pertama kalinya aku menyaksikan live music di cafe ini, karena aku memang menghindari malam live music. Biasanya malam itu, akan banyak orang yang berdatangan dan membuat suasana jadi makin tidak nyaman. Tapi anehnya, malam ini, aku enggan untuk pulang bahkan setelah cafe ramai dengan riuh pengunjung yang bersorak untuk penampil malam ini.
Komentar
Posting Komentar