Langsung ke konten utama

Sepenggal Cerita #1 Aneh

Sudah lebih dari 1 jam aku berhadapan dengan layar laptop ini. Tidak ada kegiatan apapun selain satu lagu yang terputar berulang kali sejak aku menghidupkan mesin canggih ini.

Aku lagi banyak pikiran. Maaf ya kalau nyebelin

Pesan terakhir yang aku kirim kepada Bilal. Sisanya, aku tidak membalas lagi dan tidak melihat notifikasi lain di ponselku.

“Ini kopi keberapa ya?” tanya pelayan cafe langgananku.

“Lupa, tapi udah bikin gue pusing.” Jawabku.

“Emang cara mabuk lo beda ya, kebanyakan orang pergi ke bar atau club, lo Cuma ke cafe aja bisa mabuk.”

“Mabuk halal,”

“Mutahnya juga beda kan nanti, mereka mutahin semua yang dimakan, lo mutah darah.”

“Ha..ha...ha, iya, ya.” Ucapku sekenanya. Walaupun setelah dipikir-pikir memang bisa saja. Karena seharian ini aku baru makan sekali.

“Kayaknya lo butuh pasangan, deh.”

“Buat apa? Enak-enak kalau pas stress? Hahahaa!” kelakarku.

“Heh, dasar!! Otak lo, beresin deh! Lo butuh temen buat cerita, yang bisa dengerin lo tanpa ngejudge lo. Cukup dengerin aja. Lo juga pasti perlu dikasih kalimat-kalimat penyemangat yang menenangkan. Dan biasanya itu lebih manjur kalau dari lawan jenis.”

“Proses gue nggak bisa secepet itu.” Ucapku menanggapi masukkan Ida, pelayan cafe yang aku maksud.

“Tahu dari mana?” tanyanya.

“Feeling.” Jawabku sekenanya.

“Lo tuh...emang aneh. Gue nggak tahu cara mikir lo, cara pandang lo terhadap sesuatu.”

“Tapi kita ada kesamaan, loh.” Ucapku dengan mimik antusias.

“Dih, apaan?”

“Sama-sama mikir kalau gue emang aneh, hahaha”

“Kannnn! Emang nggak beres ini, anak.” Ucap Ida kemudian beranjak dari kursi. “Ini kopi terakhir ya, habis ini gue nggak mau bikinin lagi.” Lanjutnya.

“Mas Andre, nanti kalau habis bikinin lagi ya.” Seruku kepada pelayan cafe lainnya. Ida memberikan isyarat ‘tidak’ kepada Mas Andre.

“UGD jauh, jadi gue nggak mau ambil risiko.” Ucap Mas Andre sambil ketawa.

Aku memberengut dan kembali fokus ke laptop.

“Pulang aja, lo Cuma butuh istirahat.” Seru Ida, yang kembali sibuk di balik mesin kopi.

Diwaktu yang sama, ada beberapa orang yang bersiap untuk melakukan live music malam ini. Untuk pertama kalinya aku menyaksikan live music di cafe ini, karena aku memang menghindari malam live music. Biasanya malam itu, akan banyak orang yang berdatangan dan membuat suasana jadi makin tidak nyaman. Tapi anehnya, malam ini, aku enggan untuk pulang bahkan setelah cafe ramai dengan riuh pengunjung yang bersorak untuk penampil malam ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...