Untuk pertama kalinya, aku meninggalkan Lana dengan segala masalahnya. Saat itu, aku merasa lelah. Seolah-olah hanya dia yang memiliki banyak masalah dalam hidup ini. Aku tidak mengatakan apapun, aku juga tidak mendengar apa yang ia katakan saat terakhir kami bertemu. Di hari selanjutnya, kami menjadi asing.
Ibu sempat mempertanyakan hal itu. Ketidakhadiran dia dalam sehari saja sudah membuatnya curiga bahwa kami sedang tidak baik-baik saja. Aku hanya menjawab sekenanya. Entah kenapa dihari selanjutnya hingga saat ini, aku juga masih enggan untuk menemuinya.
“Tumben ngopi, Vin.” Ucap Raihan, rekan kerjaku.
“Lagi pengen aja.” Jawabku sekenanya.
“Akhir-akhir ini lo kelihatan beda, deh. Ada masalah?” tanyanya lagi.
Aku menoleh sekilas dan kembali ke posisi awalku. “Capek aja, kayaknya.” Jawabku sekenanya. Lagi.
“Hahaha, gue temenan sama lo cukup lama, Vin. Gue udah cukup hafal gelagat-gelagat lo. Perlu gue pinjemin motor lagi, buat nemuin cewek itu? Atau lo mau gue kenalin orang baru lagi buat dia?” ocehnya. Masih ada kalimat lainnya, tapi aku tidak mendengarnya. Aku tidak menanggapi semua ucapannya, aku juga tidak bergerak sedikitpun. Hanya terus menghela napas tanpa merasakan apapun. Aku kehilangan fokus, bahkan aku juga tidak tahu apa yang sedang diperdebatkan dalam kepalaku. Yang aku tahu hanya terlalu ramai dan berat.
Aku menghabiskan sisa kopi milikku dan beranjak pergi.
“Kemana, Vin?” tanya Raihan.
“Jam kerja gue selesai, gue mau balik sekarang.” Jawabku, tanpa berhenti atau menoleh ke arahnya.
“Cepet baliklah, biar lo bisa perbaikin cewek itu juga.”
Aku berhenti sejenak, mencoba memahami kalimat yang diucapkan Raihan. Beberapa detik kemudian aku menoleh ke arah Raihan dan dia memberikan isyarat ke arah lobi.
“Udah 2 hari dia kayak gitu,” tambahnya.
Aku melihat Lana sedang berjalan mondar-mandir tidak jelas. Sesekali dia menendang benda di depannya kemudian kembali melihat ke arah lift.
“Pekerjaan idaman itu pekerjaan yang bikin lo stress. Orang yang berpotensi menyakiti lo itu orang terdekat lo. Itu yang lo bilang ke gue.” Kata Raihan sambil berjalan menghampiriku. Ia menepuk pundakku dan kembali berkata, “Walaupun itu nyakitin, tapi hal itu juga yang bisa sembuhin.” Aku hanya membalas menatapnya singkat dan membiarkan Raihan pergi.
Aku mendekatinya, berjalan perlahan, dan berhenti setelah ia menyadari keberadaanku. Lana juga berhenti dan hanya menatapku.
“Ayo pulang,” ucapku.
Dan kami sudah dalam perjalanan pulang dengan sepeda motorku. Tidak ada obrolan selama perjalanan. Sampai akhirnya Lana menepuk bahuku.
“Kita kenapa, sih?” tanyanya, terdengar samar karena tercampur dengan angin diperjalanan.
Aku memelankan laju sepeda motorku, bahkan tanpa aku sadari kami berhenti. Lana turun dari sepeda motorku kemudian berdiri di hadapanku. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Gue nggak tahu bagian mana yang salah, tapi lo pergi gitu aja, lo ninggalin gue bahkan lo nggak hubungin gue...itu bikin gue kepikiran. Gue khawatir sama lo, gue ngerasa salah sama lo.” Ucapnya sambil menangis.
Bukan kali pertamanya aku melihatnya menangis. Tapi kali ini terdengar berbeda. Aku seperti merasakan rasa sakitnya.
“Maafin gue,” ucapku sambil menepuk bahunya.
“Bilanglah, Vin. Apa salah gue?”
Sekalipun aku ingin mengatakannya tapi aku tidak pernah sampai mengatakannya. Aku hanya bisa meraih pundaknya dan memeluknya. Untuk pertama kalinya.
“Gue yang salah, gue yang nggak bisa lebih sabar lagi.” Ucapku sambil menepuk perlahan punggung kecilnya.
Bertahun-tahun berteman dengan Lana, baru aku sadari dia lebih kecil dari bayanganku.
Beberapa detik kemudian aku melepaskan pelukanku. Lana mengusap kedua matanya dan sisa air mata yang sudah membasahi kedua pipinya. Aku baru sadar, ini sesuatu yang sedikit canggung untuk sebuah hubungan pertemanan.
“Jadi lo capek dengerin gue cerita? Lo ngira gue egois karena selalu cerita tanpa mau dengerin lo cerita?” tanya Lana saat kami kembali jalan.
“Tapi lo harusnya sadar juga, kapan lo mau cerita ke gue? Nggak pernah kan?! Gue selalu pengen tahu lo kenapa, gimana pekerjaan lo, tapi setiap kali kita ketemu lo nggak pernah cerita.” Ucapnya.
Aku membiarkan dia berbicara sepanjang jalan, hingga kami sampai di depan rumahnya.
“Udah sampai,” ucapku.
Lana turun dan kembali berdiri di depanku. “Gue minta maaf kalau bikin lo marah. Tapi lo sendiri nggak mau cerita. Padahal gue mau dengerin lo juga.” ucapnya.
“Iya,” ucapku dengan sedikit senyum yang aku rasa masih kaku.
“Tapi muka lo nggak bilang kita udah baikan.” Protesnya lagi.
“Mau gue peluk lagi?” tanyaku sambil merentangkan kedua tanganku.
“Nggak. Aneh.” Jawabnya sambil mundur beberapa langkah.
Aku tertawa kecil.
“Gue nggak tahu kenapa, tapi waktu lo ninggalin gue, lo nggak ada kabar, itu lebih nyakitin daripada gue ditinggalin sama orang-orang lain. Gue akuin, lo berharga banget buat hidup gue. Lo...”
“Iya...iya...gue tahu. Makanya sini...” ucapku dan kembali merentangkan tangan.
“Najissss lo!!!” seru Lana, tapi dia mendekat dan memelukku.
Aku sedikit terkejut karena niatku juga hanya bercanda.
“Apapun akhirnya hubungan kita nanti, gue harap kita tetep baik-baik aja, ya.” Ucap Lana.
“Emang lo berharap hubungan kita ini berakhir gimana?” tanyaku.
“Nggak tahu, gue takut kalau gue gegabah pengen milikin lo sebagai pasangan gue, gue takut kalau akhirnya lo ketemu sama orang yang lo suka dan ninggalin gue,”
“Lo nggak peduli sama perasaan gue kalau lo ketemu orang lain?”
“Yaaa...iya, maaf.”
“Jadi temen hidup aja kalau gitu.” Ucapku.
Lana langsung melepas pelukannya. “Gila ya, lo?!”
“Coba aja,”
“Maksudnya?”
“Lo pikirin kenapa gue bisa bertahan sampai sekarang.”
“Dihh, kenapa gue yang mikir?!”
“Biar lo sadar. Tapi kalau nggak sadar yaa...mungkin emang gue yang nggak beruntung.” Aku menyalakan mesin sepeda motor.
“Jangan bilang lo suka?”
“Mungkin gue mulai sadar sama perasaan itu.”
“Tapi itu jadi bikin canggung!”
“Lo nggak perlu berubah, jadi diri lo yang seenaknya aja. Gue yang menyesuaikan.”
“Haaaaah, lo nyebelin!” seru Lana kemudian masuk ke teras rumahnya.
Aku juga segera pulang. Entah otak bagian mana yang sudah mengendalikanku kali ini. Tapi perasaanku terasa jauh lebih lega.
Komentar
Posting Komentar