“Ternyata ada ya, manusia yang hobinya kerja, healing-nya jalan kaki nggak jelas.” Ucap Dania sambil mengaduk-aduk minumannya.
Aku hanya tersenyum dan mengangkat sedikit bahuku.
“Pokoknya, Cuma aku ya, Cuma aku yang nemenin kamu kerja 24 jam, nemenin kamu jalan kalau lagi bosen sama kerjaan. Nggak boleh yang lain!” Ucap Dania saat kami makan siang.
Tapi itu ucapannya 1 tahun yang lalu.
“Kamu tahu nggak sih!!! Aku nungguin kamu di sini, sampai cafe-nya tutup. Kamu mikir nggak, aku buang-buang waktu, yang bisa aku pakai istirahat, atau ngerjain hal lain itu buat kamu!!!”
“Kamu tuh, ya!!! Aku berkali-kali udah bilang, aku nggak suka kalau kamu kayak gini. Kamu juga, berkali-kali udah minta maaf, bilangnya nggak akan ngulangin, tapi apa?!! Kamu lakuin lagi kan?!!”
Semua kalimatnya masih terdengar jelas di telingaku dan berhasil memecahkan fokus ku kali ini. Semua nada bicaranya juga masih tersimpan dalam ingatanku beserta dengan raut wajahnya.
“Kayaknya....aku tarik ucapanku dulu. Kayaknya aku nggak bisa terus nemenin dan lanjutin hubungan kita.” Kalimat terakhir yang menjadi penutup ulasan tentang Dania.
Saat itu kami makan malam di salah satu cafe yang biasa kami kunjungi. Hubungan kami berjalan tepat 5 tahun. Wajahnya jelas menunjukkan raut tidak baik-baik saja, dia menangis sejadi-jadinya. Itu juga yang membuatku bingung, apakah dia benar-benar menyerah dengan hubungan ini atau ini hanya emosinya yang sesaat. Mata dan mulutnya seolah-olah mengatakan hal berbeda. Tapi ada hal lain yang aku sadari bahwa malam itu, dia bersungguh-sungguh ingin mengakhiri hubungan kami.
Aku tidak pernah memberikan jawaban apapun. Aku hanya membiarkan dia pergi dan selalu menerima jika suatu saat dia ingin kembali. Karena memang sampai saat ini, aku belum bertemu dengan perempuan yang seperti Dania.
Bergulat dengan ingatan sendiri sama melelahkannya dengan bekerja tanpa perasaan. Jangankan 1 jam, 5 menit dengan pekerjaan tersebut rasanya sudah melelahkan. Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Sudah 12 jam lebih aku bekerja. Aku memutuskan untuk keluar mencari udara segar dan kopi.
Tepat di persimpangan jalan dekat cafe. Aku melihat perempuan yang jelas itu Dania. Beberapa detik kemudian Dania melihaku. Aku berhenti berjalan dan menatapnya dari kejauhan. Entah ini musibah atau anugerah untuk Dania, yang aku tahu pasti ini adalah kebetulan yang sudah aku nantikan sejak hubungan kami ia katakan selesai.
Dengan sedikit ragu dia mencoba tersenyum. Aku mengangguk kemudian berjalan ke arahnya. Baru beberapa langkah, aku melihat seorang laki-laki yang menghampirinya dari dalam cafe. Laki-laki tersebut langsung memberikan jaketnya dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.
Langkahku memelan, tapi tidak berhenti hingga mobil tersebut melaju meninggalkan halaman cafe. Aku baru menyadari, ternyata hanya duniaku yang berhenti setelah hubungan kami selesai. Sedangkan Dania sudah tumbuh menjadi seseorang yang mungkin berbeda dengan Dania yang aku kenal saat bersamaku.
Aku hanya menatap arah mobil itu pergi. Aku tidak merasakan apapun. Aku hanya terdiam beberapa detik, kemudian segera memutuskan untuk masuk ke dalam cafe dan kembali bekerja.
“Kenapa, Kra?” tanya Via, rekan kerjaku yang ikut lembur. Ia menghampiriku yang sedang duduk di teras kantor. “Tumben banget nggak langsung kerja.” Ucapnya kemudian.
“Capek aja.” Ucapku.
“Hemm....baru sadar kayaknya. Lo kerja dari kapan tahun baru ngerasain capek sekarang?” tanya Via.
“Kayaknya iya. Gue juga baru tahu, Choco Latte bisa sepahit ini.” Ucapku sambil menunjukkan cup kopi yang aku beli.
“Lo....kenapa? serius sih, ini nggak kayak Cakra biasanya.” Ucap Via menatapku heran.
“Nggak papa, seenggaknya gue masih sadar.” Ucapku kemudian masuk ke dalam kantor.
Rasanya, benar-benar lelah. Kepalaku mendadak pusing, tiba-tiba aku juga merasa mengantuk. Tanpa banyak berpikir, aku langsung merapikan meja kerjaku dan memilih pulang.
“Kra!” panggil Via. Aku hanya menoleh.
“Kenapa sih?! Ada masalah?” tanya Via yang terlihat khawatir.
“Nggak. Gue Cuma ngerasa capek aja. Beneran, capek.” Ucapku.
“Dania?” tanya Via.
Aku hanya diam. Aku menatap Via cukup lama. Kami memang terbilang dekat, karena banyak hal yang sama diantara kami. Bahkan rasanya, hanya dengan bertatap mata kami bisa tahu perasaan masing-masing.
“Jangan lihatin gue kayak gitu.” Ucapku sambil menutup matanya dengan kedua tanganku.
“Hih!!! Apaan, sihh!!! Kenapa? Lo ketemu sama dia?” tanyanya sambil menghepaskan tanganku.
“Kita bahas besok aja, ya. Gue bener-bener capek.” Ucapku.
Via, mungkin dia adalah perempuan kedua yang cukup dekat dan tahu tentangku. Banyak kesamaan di antara kami membuat kami sama-sama nyaman walaupun kadang kami juga sering berdebat dan diam untuk beberapa hari. Banyak yang bilang bahwa kami memang cocok menjadi pasangan. Tapi menurutku, kami hanya pantas untuk seperti ini. Entah apa sebutannya. Tapi seperti ini memang terasa lebih baik. Menurutku.
Sesampainya di rumah. Aku langsung bisa tertidur, tanpa melakukan ritual pengantar tidur seperti biasanya.
Komentar
Posting Komentar