Langsung ke konten utama

Cerpen : About You #1

“Ternyata ada ya, manusia yang hobinya kerja, healing-nya jalan kaki nggak jelas.” Ucap Dania sambil mengaduk-aduk minumannya.

Aku hanya tersenyum dan mengangkat sedikit bahuku.

“Pokoknya, Cuma aku ya, Cuma aku yang nemenin kamu kerja 24 jam, nemenin kamu jalan kalau lagi bosen sama kerjaan. Nggak boleh yang lain!” Ucap Dania saat kami makan siang.

Tapi itu ucapannya 1 tahun yang lalu.

“Kamu tahu nggak sih!!! Aku nungguin kamu di sini, sampai cafe-nya tutup. Kamu mikir nggak, aku buang-buang waktu, yang bisa aku pakai istirahat, atau ngerjain hal lain itu buat kamu!!!”

“Kamu tuh, ya!!! Aku berkali-kali udah bilang, aku nggak suka kalau kamu kayak gini. Kamu juga, berkali-kali udah minta maaf, bilangnya nggak akan ngulangin, tapi apa?!! Kamu lakuin lagi kan?!!”

Semua kalimatnya masih terdengar jelas di telingaku dan berhasil memecahkan fokus ku kali ini. Semua nada bicaranya juga masih tersimpan dalam ingatanku beserta dengan raut wajahnya.

“Kayaknya....aku tarik ucapanku dulu. Kayaknya aku nggak bisa terus nemenin dan lanjutin hubungan kita.” Kalimat terakhir yang menjadi penutup ulasan tentang Dania.

Saat itu kami makan malam di salah satu cafe yang biasa kami kunjungi. Hubungan kami berjalan tepat 5 tahun. Wajahnya jelas menunjukkan raut tidak baik-baik saja, dia menangis sejadi-jadinya. Itu juga yang membuatku bingung, apakah dia benar-benar menyerah dengan hubungan ini atau ini hanya emosinya yang sesaat. Mata dan mulutnya seolah-olah mengatakan hal berbeda. Tapi ada hal lain yang aku sadari bahwa malam itu, dia bersungguh-sungguh ingin mengakhiri hubungan kami.

Aku tidak pernah memberikan jawaban apapun. Aku hanya membiarkan dia pergi dan selalu menerima jika suatu saat dia ingin kembali. Karena memang sampai saat ini, aku belum bertemu dengan perempuan yang seperti Dania.

Bergulat dengan ingatan sendiri sama melelahkannya dengan bekerja tanpa perasaan. Jangankan 1 jam, 5 menit dengan pekerjaan tersebut rasanya sudah melelahkan. Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Sudah 12 jam lebih aku bekerja. Aku memutuskan untuk keluar mencari udara segar dan kopi.

Tepat di persimpangan jalan dekat cafe. Aku melihat perempuan yang jelas itu Dania. Beberapa detik kemudian Dania melihaku. Aku berhenti berjalan dan menatapnya dari kejauhan. Entah ini musibah atau anugerah untuk Dania, yang aku tahu pasti ini adalah kebetulan yang sudah aku nantikan sejak hubungan kami ia katakan selesai.

Dengan sedikit ragu dia mencoba tersenyum. Aku mengangguk kemudian berjalan ke arahnya. Baru beberapa langkah, aku melihat seorang laki-laki yang menghampirinya dari dalam cafe. Laki-laki tersebut langsung memberikan jaketnya dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.

Langkahku memelan, tapi tidak berhenti hingga mobil tersebut melaju meninggalkan halaman cafe. Aku baru menyadari, ternyata hanya duniaku yang berhenti setelah hubungan kami selesai. Sedangkan Dania sudah tumbuh menjadi seseorang yang mungkin berbeda dengan Dania yang aku kenal saat bersamaku.

Aku hanya menatap arah mobil itu pergi. Aku tidak merasakan apapun. Aku hanya terdiam beberapa detik, kemudian segera memutuskan untuk masuk ke dalam cafe dan kembali bekerja.

“Kenapa, Kra?” tanya Via, rekan kerjaku yang ikut lembur. Ia menghampiriku yang sedang duduk di teras kantor. “Tumben banget nggak langsung kerja.” Ucapnya kemudian.

“Capek aja.” Ucapku.

“Hemm....baru sadar kayaknya. Lo kerja dari kapan tahun baru ngerasain capek sekarang?” tanya Via.

“Kayaknya iya. Gue juga baru tahu, Choco Latte bisa sepahit ini.” Ucapku sambil menunjukkan cup kopi yang aku beli.

“Lo....kenapa? serius sih, ini nggak kayak Cakra biasanya.” Ucap Via menatapku heran.

“Nggak papa, seenggaknya gue masih sadar.” Ucapku kemudian masuk ke dalam kantor.

Rasanya, benar-benar lelah. Kepalaku mendadak pusing, tiba-tiba aku juga merasa mengantuk. Tanpa banyak berpikir, aku langsung merapikan meja kerjaku dan memilih pulang.

“Kra!” panggil Via. Aku hanya menoleh.

“Kenapa sih?! Ada masalah?” tanya Via yang terlihat khawatir.

“Nggak. Gue Cuma ngerasa capek aja. Beneran, capek.” Ucapku.

“Dania?” tanya Via.

Aku hanya diam. Aku menatap Via cukup lama. Kami memang terbilang dekat, karena banyak hal yang sama diantara kami. Bahkan rasanya, hanya dengan bertatap mata kami bisa tahu perasaan masing-masing.

“Jangan lihatin gue kayak gitu.” Ucapku sambil menutup matanya dengan kedua tanganku.

“Hih!!! Apaan, sihh!!! Kenapa? Lo ketemu sama dia?” tanyanya sambil menghepaskan tanganku.

“Kita bahas besok aja, ya. Gue bener-bener capek.” Ucapku.

Via, mungkin dia adalah perempuan kedua yang cukup dekat dan tahu tentangku. Banyak kesamaan di antara kami membuat kami sama-sama nyaman walaupun kadang kami juga sering berdebat dan diam untuk beberapa hari. Banyak yang bilang bahwa kami memang cocok menjadi pasangan. Tapi menurutku, kami hanya pantas untuk seperti ini. Entah apa sebutannya. Tapi seperti ini memang terasa lebih baik. Menurutku.

Sesampainya di rumah. Aku langsung bisa tertidur, tanpa melakukan ritual pengantar tidur seperti biasanya.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...