Langsung ke konten utama

Cerpen : About You #2

Pagi harinya, bukan suara alarm yang membangunkanku. Melainkan 10 panggilan tak terjawab dari Via. Masih dengan sisa pusing semalam, aku menelponnya.

“Cakra!!!” panggilnya. “Lo masih hidup kan? Gila gue khawatir lo mati semalam.” Ucapnya terdengar heboh. Bahkan aku bisa membayangkan raut wajahnya.

“Haha....iya gue masih hidup.” Ucapku.

“Gue udah bilang sama Pak Ilham, lo sakit karena kecapekan. Jadi lo nggak usah masuk hari ini. Kerjaan lo udah gue pegang semua. Tapi....nanti sore lo harus temuin gue di cafe biasanya. Lo punya utang cerita.”

Aku melirik jam dinding, sudah pukul 10 siang. Ya....tidak ada salahnya sesekali aku libur kerja, batinku.

“Coba lihat nanti ya,” ucapku. “Makasih udah ngatur semuanya.” Tambahku.

“Iya deh....kalau lo udah enakan aja.” Kata Via. “Ya udah. Gue balik kerja.” Tambahnya kemudian mematikan sambungan telpon.

Dan sore harinya aku sudah duduk di hadapan Via seperti permintaannya.

“Ini bukan gue yang maksa lo untuk dateng ya.” Ucapnya setelah menghabiskan segelas ice choco.

“Iya.” Ucapku.

“Dan....gue nggak akan maksa lo cerita ya. Terserah lo mau cerita apa, terserah lo mau ngomong apa nggak, bahkan kalau emang yang lo mau diem gini, gue tetep temenin.” Ucap Via lagi.

“Iya.” Ucapku.

Via menyandarkan badannya dan menyilangkan kedua tangannya dan menatap lurus ke arahku. Aku tersenyum, entah kenapa saat ini hanya melihat Via seperti ini sedikit meringankan perasaanku.

“Mungkin nggak kita jatuh cinta?” tanyaku tiba-tiba.

Via tidak bereaksi, dia hanya menatapku dengan raut wajah datar. Tidak lama kemudian dia mengangkat kedua bahunya, memberi isyarat tidak tahu. Dia segera membenahi posisi duduknya. Seperti biasa, dia mengangkat kedua kakinya dan bersila di atas kursi. Aku pikir dia akan mengatakan sesuatu hal serius.

“Kayaknya emang lo perlu istirahat. Ini efek 1 minggu kerja non stop sama gue. Nyaman kan?” ucapnya sambil mengangguk dan tertawa.

“Emang lo nggak pernah kepikiran gitu? Lo nggak bertanya-tanya kenapa Cuma lo yang gue ajak cerita, kenapa Cuma lo yang kena efek burn out, kenapa Cuma lo yang tahu soal gue. Padahal karyawan cewek yang lebih dari lo banyak.”

“Gini....konsep jatuh cinta menurut gue itu tentang 2 orang. Kalau lo tanya mungkin nggak kita jatuh cinta, itu....nggak sih. Karena gue yakin, Dania masih menjadi satu-satunya orang yang bisa menggerakkan hati lo. Bahkan sampai tergoncang kayak kena gempa.”

Aku terdiam.

“Sekarang gue tanya deh, biar lo sekalian sadarnya. Pernah nggak lo deg-degan pas sama cewek lain selain Dania. Pernah nggak lo khawatir sama cewek selain Dania, pernah nggak lo bertanya-tanya kenapa tentang cewek lain selain Dania? Nggak kan?!” - “Gue emang nggak tahu pasti. Tapi dari apa yang gue lihat, cinta lo ke Dania itu masih sangat-sangat besar. Bahkan setelah 1 tahun lo putus. Tanpa lo tahu kabar dia kayak gimana, masih sendiri atau udah pacaran sama orang lain. Itu nggak ngurangin perasaan lo sama sekali.”

Aku masih terdiam. Masih terus melihat ke arah Via.

“Gue Cuma ngasih saran sebagai orang yang kelihatannya dipercaya sama lo. Hidup itu jalan terus. Tanpa peduli lo baik-baik aja atau lo lagi sakit. Waktu dan manusia itu berhubungan erat tapi kita nggak ada kendali untuk waktu. Waktu juga nggak sebenarnya mengendalikan kita. Semua Cuma jalan dengan seharusnya aja. Apapun yang terjadi kemarin, gue berharap lo bisa nentuin keputusan lo setelah itu. Jangan sampai, hanya terjebak sama masa lalu bikin masa depan lo jadi abu-abu. Jangan sampai, orang yang sebenernya tulus sama lo jadi takut karena lo masih tertutup.”

Via melihat jam di tangannya. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

“Gue nggak yakin bagian mana yang sakit. Dari sekian obat yang gue temuin di apotek, Cuma plester luka yang paling nggak mungkin. Makanya gue beli.”

“Kenapa?”

“Yaaa....karena gue juga nggak yakin bahwa obat yang gue bawa dengan kemungkinan lebih besar daripada plester luka ini, bakalan nyembuhin lo. Jadi, sekalian aja gue beli yang nggak mungkin. Gue balik dulu, semoga cepet sembuh ya.” Kata Via kemudian beranjak dari tempat duduknya.

Aku memandanginya yang semakin menjauh. Via adalah perempuan yang unik menurutku. Tidak ada basa-basi, banyak hal juga yang aku dapat dari memperhatikannya seperti ini.

Aku mengambil plester luka yang dia berikan kepadaku. Plaster luka dengan gambar karakter Snoopy. Aku menyimpannya ke dalam saku dan keluar dari cafe untuk pulang.

Keesokan harinya, kedatanganku sudah di sambut Via dengan beberapa tumpukan berkas. Seperti biasa, dia akan menunjukkan wajah manja saat meminta bantuan.

“Udah siap kerjakan?” tanya Via.

“Iya, mau dibantuin apa?” tanyaku.

“Hehehe....jelas dong soal pekerjaan yang Cuma lo ahlinya.” Jawab Via. “Tapi tenang aja, gue juga bantuin,” tambahnya sambil menarik kursi dan duduk menghadapku.

Dia mulai mengenakan kaca mata dan fokus memilih berkas yang akan diinput.

Sambil membuat form input, sesekali aku melihat ke arahnya. Baru kali ini aku menyadari banyak hal tentang Via. Perempuan yang memang berbeda dari perempuan yang sebelumnya aku temui. Ingatanku mulai bekerja, memutar beberapa momen aku dengan Via selama di tempat kerja. Dia yang memang sangat bekerja keras, dia menggunakan waktunya dengan baik. Orang yang ceria dan baik. Tapi bukan berarti dia tidak pernah mengeluh atau marah, dia selalu melakukan itu kepadaku bahkan juga menangis karena pekerjaan.

“Lo lihatin apa sih? Ada yang salah?” tanya Via membuyarkan lamunanku. “Kalau lihatin gue jangan lama-lama, entar suka. Banyak korbannya.” Tambahnya.

“Hahaha....Junior kan salah satunya?” ucapku.

“Kasian tahu, masa ya kemarin pas lo nggak masuk, dia sempet ngerjain beberapa kerjaan lo. Dimarahin dong sama Pak Pram, karena banyak yang miss.”

“Terus? Lo bantuin?”

“Nggak, pas itu gue di lapangan. Mana tahu ada masalah itu. Dia lembur sampai jam 8, pas gue balik dia udah pucet banget.”

“Terus? Lo ajak ngopi?”

“Nggak, gue suruh dia langsung pulang. Sisanya gue kerjain.”

“Lo pulang jam berapa?” tanyaku.

“Jam 9, atau jam berapa gitu.”

Aku menghela napas. Salah satu hal yang menurutku menjadi kekurangannya adalah terlalu bekerja keras seperti ini, demi orang lain, lupa memperhatikan dirinya sendiri.

“Sekarang Junior di mana?” tanyaku.

“Nah...itu, gue denger dari Syila, dia sakit, temen satu kosnya yang ke sini nganter surat dokter, kena gejala tipes katanya.” Jawab Via. “Makanya gue mau selesain ini sebelum jam makan siang. Nanti pas jam makan siang gue mau jenguk dia bentar.” Tambahnya.

“Mau gue temenin?” tanyaku. Begitu saja.

“Tumben, hahaha. Nggak usah, kan lo nggak terlalu suka pergi ke rumah sakit.” Jawab Via.

Aku diam. Entah hanya tentangku atau semua orang, dia adalah pemerhati dan pendengar yang baik, karena mengingat hal-hal yang disukai atau tidak disukai oleh orang di sekitarnya.

“Gue Cuma sebentar aja kok.” Ucapnya kemudian.

“Ya udah. Jangan lewatin makan siang, lo pasti tadi nggak sarapan kan?!” ucapku.

“Hahaha....iya sih. Tapi ya udah lihat nanti aja.”

“Gue keluar bentar,” ucapku kemudian keluar dari ruang kerja.

Ini juga begitu saja. Aku keluar untuk membeli roti dan susu kotak untuk Via. Aku baru menyadari beberapa langkah setelah keluar dari ruang kerja. Tanpa tahu alasannya kenapa melakukan hal ini.

Dari belakang, aku memperhatikan Via yang masih sibuk dengan kerjaannya. Dia begitu kecil tidak seperti yang aku lihat biasanya.

“Istirahat dulu,” ucapku kemudian meletakkan makanan di sampingnya.

“Dihh...kok tumben. Maakassihh.” Ucapnya sambil memukul lenganku dengan kertas.

“Gue masukkin yang ini dulu.” Ucapnya.

“Lo nggak makan?”

“Gue udah sarapan.”

“Ada maunya nihhh pasti?”

“Iya, jangan sampai sakit kayak Junior.”

“Ihhh apaan sih, kok kayak gitu jawabnya.”

“Emang kenapa? Baper lo?”

“Bisa iya bego! Kan gue jarang digituin, gimana sih!!”

“Hahaha, ngenes banget sih lo.”

“Seneng tahu, bisa lihat lo kayak biasanya.” Ucap Via sambil mengunyah makanan.

“Kenapa?”

“Gue nggak tahu sih, gue juga kayaknya belum pernah, tapi dalam pikiran gue semua orang yang dimata gue itu selalu baik-baik aja, pas dia terluka sedikit aja pasti rasanya nggak karuan. Dan gue nggak mau jadi orang yang lihat itu, karena gue nggak tahu harus bantu dengan cara gimana, gue ngerasa nggak ada kapasitas buat ngebantu mereka. Karena gue ngerasa kapasitas gue Cuma nemenin aja, dan ngejaga biar nggak sampai terluka.”

“Lo sendiri gimana?” tanyaku.

“Gue fleksibel. Toh, gue juga udah biasa ngeluh, gue juga suka nangis, gue juga bisa serius, bisa juga bercanda. Bisa dibilang gue bisalah mengatasi ini sendiri.”

“Terserah lo deh,” ucapku. Rasanya aku ingin marah tapi...aku juga tidak tahu apa alasanku untuk marah dan ini juga bukan waktu yang tepat.

“Lo nggak ambil cuti tahun ini?” tanya Via kemudian. “Bukannya lo pengen pulang ya? Mumpung kerjaan nggak terlalu banyak, ambil cuti minggu ini aja.” Tambahnya.

“Mana bisa kalau mepet.” Jawabku.

“Bilang aja kalau mau, gue bantuin ngurusnya. Gue pikir-pikir ya, capek lo kemarin itu pasti udah kumpulan, lo capek sama urusan percintaan, kerjaan, lo kangen sama orang tua lo, lo kangen sama ketenangan.”

“Ya udah, gue mau cuti 3 hari.”

“Okee, nanti gue bantu ngurusnya. Sama gue saranin, selama lo cuti mending off HP aja, lo pakai nomor lain buat hubungin orang.”

“Kenapa?”

“Pasti Pak Pram bakalan gangguin lo,”

Aku diam. Padahal bukan itu yang aku maksud.

“Nih, berkasnya udah gue pilihin. Gue ambil sebagian, kalau misal formnya udah jadi nanti kirim ke gue ya. Gue mau nyelesain yang lain dulu. Makasihh, kapan-kapan gue traktir.” Ucap Via sambil mengambil 2 tumpukan berkas dan sisa susu kotak.

Aku langsung kembali fokus bekerja. Walaupun hari ini, Via memang berhasil mengambil alih fokusku.

Seperti rencananya, dia pergi menjenguk Junior di jam makan siang. Dia kembali pukul 1 siang dan langsung kembali bekerja. Sampai jam pulang dia masih bekerja di depan komputer.

“Belum selesai?” tanyaku.

“Bentar lagi,” jawabnya tanpa melihat ke arahku.

“Mau gue bantuin nggak?”

“Nggak usah, kan udah. Nanti lo kirim aja ya, biar gue jadiin satu.” Ucapnya sambil tersenyum riang, seperti biasa. “Oh iya, cuti lo udah di acc tuh. Besok lo udah bisa libur.” Tambahnya.

“Kapan lo ngurusnya?”

“Dihh...ngurus gitu ma sejam kelar. Lo sih, gue berpengalaman dalam mengurus cuti anak-anak lain.”

Aku tersenyum. “Ya udah, makasih ya.” Ucapku.

“Sama-sama, impas ya kita.” Ucap Via tersenyum.

“Beneran nggak dibantuin?” tanyaku sekali lagi.

“Nggak usah, paling 1 jam lagi selesai. Lo pulang aja, persiapan beli tiket kalau besok takut nggak keburu. Jangan lupa beli keberangkatan dan kepulangan, biar aman.”

“Iya, lo cerewet juga ya.”

“Kayaknya lo yang baru sadar deh.”

“Gue balik dulu,”

“Oke.”

Aku berhenti di ruang tunggu kantor. Entah, kali ini kenapa, aku berhenti dan memilih duduk menunggu Via sampai selesai. Bahkan sampai ketiduran di sofa lobi.

“Kra...bangun. ngapain lo di sini?”

Samar-samar aku melihat Via.

Aku terduduk dan mengusap wajahku.

“Ngapain masih di sini?” tanya Via lagi.

“Udah selesai?” tanyaku.

“Udah, ini mau pulang.”

“Makan dulu yuk, lo nggak makan siang kan?”

“Iya emang gue mau makan sih ini. Lo laper?”

Aku berdiri dan membalikkan badannya, “Kita makan aja sekarang.” Ucapku sambil mendorongnya berjalan.

Via menatap ke arahku dengan raut heran.

“Kenapa?” tanyaku.

“Lo yang kenapa, aneh banget.”

“Gue juga nggak tahu. Gue juga bingung. Yang jelas gue ngerasa lo berharga aja.”

“Oh ya? Wahhh hahaha, kenapa tuh, apa yang lo rasain?”

“Gue mau tanya banyak hal sama lo.”

“Apaan?”

“Lo pernah nggak ngerasa capek? Lo ngerasa lo sendirian?”

“Nggak, ya capek kerja sih iya, tapi ya wajarkan, orang kerja pasti capek. Seremeh-remehnya pekerjaan pasti capek sih, misal nih, kerjaannya ngomongin orang, itu remeh kan, tapi pasti mulutnya pegel banget, kalau bisa ngeluh, pasti tuh mulut pengen lepas dulu dari muka, hahahaha” ucapnya sambil tertawa.

Aku juga ikut tertawa karena jokes recehnya.

“Mau diterusin nggak jawabannya?” tanyanya masih tertawa.

“Apa?” jawabku.

“Kalau ngerasa sendirian itu, kadang-kadang. Bayangin aja ya, gue udah usaha sana-sini buat bantuin orang, gue berusaha setiap kali ada yang minta bantuan gue, gue bantu. Tapi pas gue lagi sibuk-sibuknya, mereka nggak ada. Nggak ada inisiatif buat bantuin, nggak ada tawaran bahkan. Pegelnya di situ sih, tapi ya nggak papa, dari situ gue belajar untuk lebih tulus lagi, nggak tahu harus sewindu apa berujung pamit. Hahahaha”

“Kok lo bisa sih ceria gitu?” tanyaku.

“Lo ngajakin gue deep talk apa gimana sih?” tanya Via.

“Iya, biar lo sadar dan lo keluarin uneg-uneg lo.” Jawabku.

“Janji jangan kasihan sama gue atau nangis ya.”

Aku mengangguk.

“Lo tahukan gue melakukan banyak hal itu karena pikiran gue. Nggak tahu itu bener itu salah, nggak tahu itu buat untung siapa. Kalau lo tanya kenapa gue bisa ceria ya karena orang-orang terdekat gue. Selama mereka masih bisa bercanda sama gue, selama mereka masih bareng sama gue, gue akan ceria kayak gini. Dulu gue ngerasa nggak ada temen buat ngobrol, buat cerita hal-hal remeh yang terjadi di sekolah, buat ngomongin kalau ada temen gue yang jail di sekolah, ada anak yang kena bola terus nangis. Nggak ada yang bisa gue ajak ngomong kalau nilai gue bagus, kalau soal hari ini susah. Tapi lihat, pas gue masuk kerja, gue punya banyak orang yang bisa gue ajak ngobrol. Gue nggak tahu sih mereka tulus ngobrol sama gue atau Cuma formalitas, atau terpaksa. Sebenernya gue egois tahu, gue nggak peduli mereka nyaman apa nggak, yang penting keinginan gue kesampaian.” Via tertawa.

“Kasihan banget sih,” ucapku.

“Kan....hahaha tapi tenang aja, gue nyaman dengan seperti ini. Gue tinggal nyari cara lain aja buat hidup lebih baik lagi. Lo tahu nggak, gue berhasil nyelesain buku 261 halaman. Sekarang gue mau mulai rutin olahraga.”

“Lo cerita ini juga ke orang lain?”

“Gue nggak yakin, entah nggak atau belum. Soalnya baru lo yang gue temuin.”

“Emang biasanya lo cerita ke siapa?”

“Dulu waktu masih ada Kinara, gue cerita ke dia. Lo tahu sendirikan kita bertiga udah squad mantap banget.”

“Kalau lo mau, lo bisa cerita ke gue.” Ucapku.

“Hahaha, tanpa lo minta, kalau emang gue mau pasti gue cerita. Tapi, makasih, lo tulus ya.”

“Iya, kasihan gue sama lo.”

“Ehh, gimana udah booking tiket belum?” tanya Via.

“Belum,”

“Online ajalah, gue booking-in. Keburu mahal nanti, kayaknya punya gue ada promo deh.”

“Lo nggak ajuin cuti?” tanyaku.

“Nggak, kita nggak bisa ambil cuti bareng, kecuali beda bagian. Apalagi kita tim inti.”

“Minggu depan,”

“Minggu depan kayaknya bakalan ada banyak hal yang harus kita selesain bareng, jadi nggak bisa juga.”

“Terus?”

“Sampai akhir tahun ini agak susah ambil cuti.”

“Kenapa gue bisa?”

“Karena emang masih memungkinkan buat minggu ini. Udah deh, nggak usah dipikir ribet. Lagian gue juga bingung kalau ambil cuti ngapain.”

“Lo pernah suka sama orang nggak sih, Vi?” tanyaku.

“Pernah, kenapa?”

“Kapan?”

“Lama sih,”

“Sekarang?”

Via terdiam. Dia berhenti menggerakkan jarinya dari layar ponsel.

“Nggak tahu,” jawabnya kemudian.

“Bisa gitu?”

“Hahaha, kayaknya gue kelamaan sendiri dan udah nyaman kayak gini. Ehhh bentar....lo mancing gue cerita soal nih laki ya?!”

“Yaaa...itu terserah lo, mau kepancing apa nggak.”

“Udah lama, tapi....rasanya selalu baru.” Ucap Via dengan tatapan mengawang.

Aku membiarkan ada jeda dalam obrolan kami. Hingga beberapa detik kemudian Via menatapku dengan tersenyum. Dia memberi isyarat dengan mengangkat kedua bahunya kemudian menggeleng.

“Sama kayak gue?” tanyaku kemudian.

“Mungkin iya mungkin nggak. Dalam hati gue dia emang punya tempat tersendiri, tempat yang nggak kelihatan sama sekali. Bahkan gue sendiri juga suka nggak lihat, apalagi pas banyak kerjaan dan gue udah capek. Setelah sekian lama baru kali ini gue lihat lagi, karena lo yang mancing.”

“Haahhaha, ya maaf. Terus gimana?”

Via tersenyum sebentar, kemudian melihat ke arahku.

“Gue kenal sama laki-laki dari saudara gue. Waktu itu, feeling gue bilang ada kemungkinan cocok sama dia. Pas akhirnya ketemu, bener. Gue cocok sama dia. Gue suka cara dia berpikir, gue suka gaya dia ngomong. Tapi nggak tahu kalau dia. Karena setelah itu kami nggak ada komunikasi apalagi ketemu.”

“Lo nggak coba hubungin dia?”

“Udah, setelah beberapa minggu. Masih dengan perasaan yang besar dan menggebu-gebu, gue minta nomor laki-laki itu dari saudara gue.”

“Terus?”

“Gue chat, tapi slowresponnnnnn banget. Bayangin deh, gue ngirim chat hari Jumat, dia balesnya tiga hari kemudian. Ahahha, berasa udah beda planet tau.”

“Terus?”

“Gue pikir kalau gue masih bisa usaha, gue coba hubungin dia beberapa bulan setelah itu. Dan responnya masih sama. Akhirnya gue berhenti.”

“Tapi....”

“Perasaan gue kayak masih nyangkut di dia. Karena sampai sekarang gue belum ketemu orang yang bisa gugah perasaan gue.”

“Berapa tahun tuh?”

“Mungkin hampir dua tahun.”

“Ya udahlah, buka hati buat Junior aja.”

“Dih...nggaklah, kasihan Juniornya. Dia bisa dapet orang yang lebih dari gue. Lagian gue juga kurang klik sih sama dia.”

“Ya udah sama gue aja.”

“Apalagi....”

“Kita kurang apa lagi coba, banyak yang sama loh. Ngobrol nyambung, saling melengkapi, sama-sama bisa bahasa isyarat, pake tatap-tatapan mata.”

“Hahahaha, kocak lo!! Yang kurang itu ya lo nggak bisa gugah perasaan gue sama kayak laki-laki itu.”

“Ya beda orang bakalan kasih perasaan yang beda kali, Vi.”

“Halah, sok-sokan lo. Urusin aja perasaan lo dulu. Nih, udah dapet tiketnya. Selamat liburan ya besok. Semoga balik-balik lo makin sehat dan waras.”

“Lo nggak mau coba lagi?”

“Nyoba apa?”

“Hubungin dia,”

Via terdiam. “Nggak tahu, sekarang ini gue lagi pengen santai aja. Males mikirin perasaan, males mikir juga soal hal-hal sensitif kayak gitu. Pengennya yang ada di otak gue Cuma kerja-ibadah-kerja-ibadah. Udah.”

“Emang unik,”

“Dahlah, ngomongin yang lain aja ya.”

Aku mengangguk, sambil menyuap makanan yang sudah kami pesan. Obrolan selanjutnya sebatas obrolan ringan, soal kerjaan, ngomentarin orang disekitar kami. 

“Makasih ya udah nemenin makan,” ucap Via.

“Iya sama-sama, makasih juga udah bantuin gue.” Ucapku.

“Doa in gue, semua lancar selama lo libur. Gue belum siap gila minggu ini.”

“Hahaha, iya lo nggak akan gila. Gue bantuin dari jauh.”

“Makasih, tapi inget pakai nomer lain, nomer asli lo non aktifin aja. Ya udah, gue pulang ya.” Ucap Via sambil melambaikan tangan.

Aku membalas lambaian tangannya dan berjalan ke arah yang berlawanan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...