Sesuai rencana, keesokan harinya aku pulang dan bertemu dengan keluargaku. 3 hari terdengar singkat, tapi selama aku menjalani hari-hari itu ternyata lama juga. Setiap harinya aku selalu bertanya kepada Via tentang kondisi pekerjaan dan dia selalu bilang aman. Aku juga menanyakan soal Junior yang katanya sudah sembuh dan bisa membantu pekerjaan Via. Sampai di hari terakhir cuti, dalam perjalanan, aku kembali mengaktifkan nomorku dan mencoba menghubungi Via. Tidak ada respon di menit-menit pertama. Tidak seperti biasanya dia slow respon. Aku mengecek grup kantor tidak ada kericuhan sama sekali. Akhirnya aku mencoba menghubungi Junior.
Pukul 9 malam, diakhir perbincangan singkat dengan Junior, aku hanya bisa berharap kereta ini bisa segera sampai.
“Mas Cakra jangan kaget ya, mbak Via di rumah sakit, dia habis kecelakaan sore tadi pulang dari kantor. Rencananya mau ketemuan sama klien tapi ada pengendara mabuk dan nabrak mbak Via. Tapi nggak parah banget kok, mas. Dia juga udah sadar, semua dicek aman.” Terang Junior.
Aku tidak bisa berpikir dengan baik. Aku mencoba mengirim pesan lagi kepada Via.
Aman kok, kra. Jangan khawatir.
Balasnya beberapa menit kemudian. Tak lama dari balasan Via, Junior mengirimiku foto Via yang masih terbaring di rumah sakit, tentu saja tanpa aku minta. Aku hanya bisa kembali menghela napas dan kebingungan harus bagaimana.
Gue sampai sana sekitaran subuh, nanti gue langsung jenguk lo ya.
Tulisku dalam pesan singkat. Walaupun setelah mengirimnya, aku sendiri bingung kenapa menuliskan hal itu. Aku baru sadar setelah detik selanjutnya, apa ini yang dinamakan rasa khawatir?
-
Pukul 6 pagi. Aku melihat Via masih tertidur, tidak ada orang yang menungguinya. Junior tentu saja pulang karena dia harus mengurus pekerjaan. Aku membuka pelan pintu kamarnya dan meletakkan tasku. Melihatnya tertidur seperti itu aku merasa lebih tenang. Namun tak lama kemudian Via terbangun karena suara perawat yang melakukan kunjungan.
“Sampai sekarang apa masih ada keluhan pusing?” tanya perawat tersebut.
“Nggak, Sus.”
“Baiklah. Sejauh ini kondisi mbak juga semakin membaik. Mungkin bisa pulang hari ini juga. Tapi, saya laporkan dokter dulu ya, siapa tahu masih ada pemeriksaan lain.” Terang perawat tersebut.
“Makasih, Sus.” Ucapku dan Via bersamaan.
Aku tersenyum dan mendekat ke ranjangnya. Aku mencegahnya untuk memaksakan duduk.
“Kan, ada teknologi ini.” Ucapku sambil memencet tombol pada bawah kasur.
“Maaf, siapa ya?” tanyanya dengan raut wajah bingung.
Aku terkejut dan sedikit lebih mendekat pada Via.
“Lo, nggak lagi bercanda kan? Perawat aja bilang lo baik-baik aja!” ucapku.
“Aduhh...” rintihnya sambil memegang kepalanya.
“Via, lo kenapa? Sakit? Gue panggil suster dulu!” ucapku panik dan mencari tombol darurat di belakang ranjangnya.
“Hahaha, bercanda-bercanda!” serunya sambil menahan tanganku dan menyuruhku duduk di kursi samping ranjangnya. – “Panik banget, santailah.” Lanjutnya.
“Huh, gimana nggak panik, kondisi lo tuh...” aku tidak melanjutkan kalimatku dan kembali menghela napas.
“Gimana liburannya?” tanya Via kemudian.
Aku menghela napas lagi sebelum akhirnya menjawab pertanyaan tersebut.
“Seperti yang lo lihat, gue membaik. Sebenernya gue lebih baik dari ini sebelum tahu lo kecelakaan.” Jawabku.
“Hahaha, lebay banget. Gue beneran nggak papa, untungnya nggak ada yang patah. Cuma emang ada yang dikhawatirin soal kondisi kepala gue. Tapi sejauh ini aman kok, gue masih inget lo, masih inget anak-anak kantor. Gue juga masih inget kerjaan terakhir yang gue kerjain. Gue juga masih inget soal dia, hahaha.” Ucap Via.
“Syukurlah. Tapi beneran lo nggak ngerasa pusing?” tanyaku.
Via diam, raut wajahnya berpikir. “Nggak kok. Kalau kemarin emang pusing banget.” Ucapnya kemudian.
“Ya udah, gue udah lega lihat lo beneran baik-baik aja. Nanti gue masuk kerja dan bantuin Junior. Kalau misal hari ini lo beneran bisa pulang nanti kabarin gue, biar gue jemput.” Ucapku.
“Iya, makasih ya atas bantuannya.”
“Sama-sama. Kalau lo gabut, video call aja, gue kasih tunjuk kesibukan di kantor.”
“Hahaha, nggaklah, nanti malah ujungnya gue disuruh bantuin lo kerja dari sini,”
“Ya udah, gue balik ya.” Ucapku sambil menepuk sebelah bahunya.
Via hanya tersenyum dan mengangguk. Baru beberapa langkah, dia memanggilku.
“Jangan berlebihan, ya. Gue Cuma ngasih tahu aja.” Ucapnya kemudian. Raut wajahnya sedikit berubah.
Walaupun aku tidak terlalu paham dengan maksudnya, aku tetap mengangguk dan keluar dari kamarnya. Tepat saat aku menutup pintu kamar tersebut, aku menyadari satu hal. Aku memutuskan kembali masuk dan mendapati Via yang justru menangis.
“Vi,” panggilku.
Via langsung mengusap wajahnya. Aku mendekat secara perlahan.
“Lo kenapa balik?” tanyanya kemudian.
“Emang itu berlebihan menurut lo?” tanyaku.
Via tidak langsung menjawab, dia menahan untuk tidak menangis lagi.
“Gue Cuma ngikutin apa kata perasaan gue, Vi. Gue sendiri juga bingung.” Ucapku.
“Lo ngomong apa sih?” Tanya Via dengan nada yang ia buat-buat bahwa situasi ini baik-baik saja.
“Apa lo takut suka sama gue?” tanyaku.
“Kayaknya lo belum membaik deh, Kra. Hahaha.” Jawabnya mencoba tertawa.
“Gue serius, Vi!” ucapku sedikit meninggi.
Via sedikit terkejut kemudian ia menghela napas bersiap menjawab.
“Gue tahu lo...”
“Lo nggak tahu, Vi! Dengan lo ngomong kayak gitu, lo nggak tahu gimana gue sekarang!” potongku.
Via kembali mengusap wajahnya. “Dania?” tanya Via.
“Gue nggak bahas Dania!”
“Tapi lo masih belum selesai, Kra!”
“Tahu dari mana?”
“Lo sendirikan yang secara nggak langsung ngasih tahu itu ke gue sebelum cuti.”
“Tapi lo nggak tahukan selanjutnya, hari-hari gue selama cuti?!”
“Apa?! Bukan berarti kejadian lo selama cuti dan reaksi lo yang timbul ini menyimpulkan bahwa lo udah selesai kan?!”
Aku terdiam.
“Gue iyakan kita sama, gue nyambung tiap kali ngobrol sama lo, bahkan tanpa ngomong kita sama-sama tahu apa maksud dari tatapan kita. Gue juga nggak akan bilang nggak mungkin kalau lo bisa aja gugah perasaan gue dan bisa lupa sama masa lalu gue. Yang gue takutin adalah perasaan lo. Gue takut kalau ternyata itu Cuma semu dan sementara. Karena gue yakin, Dania masih ada dalam dunia lo! Gue Cuma nggak mau akhirnya gue ngerasa sakit sendiri!” ucap Via. Ia mencoba untuk tidak menangis.
Aku berpaling sambil mengusap kasar wajahku.
“Emang gue salah kalau perhatian sama lo?” tanyaku.
“Apa lo pernah ngelakuin itu sebelumnya?” Via balik bertanya.
“Thok...thok...thokk...” seorang perawat masuk sambil membawa nampan berisi menu sarapan untuk Via.”Maaf, kalau mengganggu. Ini saya nganter sarapan.” Ucapnya kemudian meletakkan nampan tersebut ke atas meja.
“Makasih, Sus.” Ucap Via dengan tersenyum.
“Iya, sama-sama. Permisi.”
“Lo balik aja, Kra. Mungkin kita sama-sama perlu waktu buat ngedinginan pikiran kita.” Ucap Via.
Tanpa menjawab apapun aku langsung berbalik dan keluar dari kamarnya. Rasanya campur aduk, ada perasaan tidak terima, marah, sedih. Tapi tetap saja, aku tidak bisa begitu saja meninggalkan Via. Aku menitip pesan kepada salah satu perawat untuk memberi kabar tentang jadwal kepulang Via. Karena aku yakin, Via tidak akan menghubungiku.
Hingga pukul 5 sore, tidak ada kabar apapun baik dari pihak rumah sakit maupun Via. Aku bertanya pada Junior, dia juga tidak mendapat pesan apapun dari Via.
“Kemarin yang didaftarin jadi walinya Via siapa, Jun?” tanyaku kepada Junior.
“Pak Pram, mas. Soalnya aku nggak di TKP, sedangkan Pak Pram masih di kantor dan tahu kejadian itu. Terus langsung bawa ke rumah sakit.”
Saat itu juga aku melihat Pak Pram keluar dari ruang kerjanya dengan buru-buru.
“Mau ke mana, Pak?” tanyaku.
“Ohh, ini jemput Via dulu. Dia boleh pulang sore ini. Kebetulan juga, sih. Kamu udah pulang? Bisa nggak ikut jemput Via, saya nanti yang ngurus administrasi terus kamu nganter ke rumahnya.” Ucap Pak Pram kepadaku.
Aku tidak segera menjawab, mengingat kami sedang di situasi yang kurang baik.
“Atau kamu aja, Jun!”
“Biar, saya aja, Pak.” Ucapku segera.
“Oke, bawa mobil kantor aja. Kebetulan saya bawa mobil pribadi.” Ucap Pak Pram sambil memberi isyarat untuk bergegas.
“Maaf ya, Vi. Saya nggak bisa nganter kamu ke rumah. Makanya saya minta bantuan Cakra.” Ucap Pak Pram.
“Iya, Pak. Nggak papa, makasih udah dibantu banyak.” Ucap Via.
“Saya kasih libur 3 hari setelah dari rumah sakit ya. Semoga lekas membaik. Kra, anter Via sampai rumah, oke. Saya buru-buru jadi maaf saya duluan.” Ucap Pak Pram sambil menepuk bahuku dan Via bergantian.
Kami mengangguk dan mempersilakan beliau pergi.
Aku mengambil tasnya tanpa mengucapkan apapun.
“Kalau lo masih nggak nyaman, jangan maksa buat nganterin gue.” ucap Via, kali ini dengan nada lebih tenang dan pelan.
Aku masih sedikit kesal dengan sikapnya. Tapi aku juga tidak bisa pergi begitu saja.
“Gue telpon Junior aja kalau lo nggak nyaman.” Ucapku kemudian.
“Nggak usah, gue bisa pesen taxi online.” Ucapnya.
Aku memberanikan diri untuk menatapnya kali ini.
“Gue anter, nanti lo duduk belakang aja.” Ucapku mencoba tenang. – “Perlu bantuan buat ke depan? Gue pinjem kursi roda kalau perlu.” Tanyaku.
“Iya, tadi gue juga udah bilang ke perawatnya. Disuruh nunggu sebentar.” Jawabnya sambil menoleh ke arah lorong. Aku tahu, dia juga menghapus air matanya.
Tak lama kemudian, seorang perawat membawa kursi roda.
“Gue siapin mobilnya dulu.” Ucapku kepada Via.
Perawat tersebut membantu Via untuk duduk sekaligus mengantarkannya hingga pintu masuk rumah sakit.
“Makasih, Sus.” Ucapku dan membantu Via untuk masuk ke dalam mobil.
Selama di perjalanan kami tidak banyak berbincang. Aku juga hanya menanyainya sekali apakah dia mau mampir dulu sebelum pulang. Tapi dia hanya menggeleng. Aku melihatnya dari kaca spion depan. Sayangnya, kami harus terjebak macet.
“Gue harus gimana biar lo bisa baik-baik aja?” tanyaku kepada Via yang hanya melamun melihat ke arah luar.
Via tidak menjawab, tatapannya juga tidak berubah sama sekali. Tapi sedetik kemudian dia menangis.
“Jangan nangis lagi. Gue makin nggak tahu harus gimana.” Ucapku pelan dengan membalikkan badan.
Via segera menghapus air matanya.
“Emang salah gue bersikap kayak gini ke lo? Kita udah temenan lama, Vi. Lo jangan berlebih takut sama apa yang gue tunjukin kali ini. Gue tahu, gue nggak pernah sekhawatir itu ke lo sebelumnya, itu juga karena lo selalu kelihatan baik-baik aja kan?! Sedangkan sekarang situasinya beda.” Ucapku.
“Iya, gue yang salah. Karena gue nggak pernah dapet itu dan secara tiba-tiba gue dapet makanya gue kaget dan bingung.” Ucap Via membalas menatapku masih dengan isak tangisnya.
“Lo berhak dapat itu bahkan bukan dari gue sekalipun. Pak Pram misalnya, dia juga perhatian kan, mau jadi wali dan ngurusin pengobatan lo. Junior yang sampai malem nungguin lo. Anak-anak lain yang mungkin emang nggak sempet jenguk atau hubungin lo, tapi mereka tanya ke Junior juga ke gue soal keadaan lo.”
Via tidak menjawab. Aku berbalik dan kembali memegang kemudi.
“Gue juga nggak akan maksa lo untuk langsung percaya sama perasaan gue. Jadi jangan khawatir, biarin perasaan lo sendiri yang bilang percaya sama gue.” ucapku.
Setelah itu, perjalanan kami kembali hening sampai di rumah Via. Aku membantunya masuk karena dia hanya tinggal sendirian.
“Persediaan makanan aman kan untuk malam ini?” tanyaku.
“Iya,” jawabnya singkat.
“Kalau ada apa-apa, lo kabarin Junior aja.” Ucapku kemudian. Aku yakin, Via masih belum bisa kembali bersikap biasa denganku.
“Iya, makasih.” Ucapnya.
“Gue pamit. Semoga lo cepat sembuh.” Ucapku.
Via mengangguk.
Dalam perjalanan aku memberitahu Junior tentang hal itu dan dia bersedia untuk membantu.
“Via masih libur sampai 3 hari ke depan. Sementara kerjaannya gue aja yang pegang. Lo kalau mau jenguk sama anak-anak yang lain nggak papa. Sekalian nanti gue titip sesuatu.”
“Mas Cakra nggak ikut sekalian aja?” tanya Junior.
“Nggak, Jun. Gue kan udah tahu kondisinya, selain itu juga kerjaan nggak bisa ditinggal gitu aja.”
“Ya deh, mas. Makasih mas atas bantuannya. Nanti biar gue yang bilang ke anak-anak.”
“Sama-sama.”
Sampailah, pukul 8 malam, hari dimana anak-anak kantor menjenguk Via dan aku masih bekerja di kantor. Junior sempat mengirimiku pesan untuk berpamitan. Setengah jam kemudian dia mengirimkan foto Via yang sudah bisa tertawa seperti biasa.
Tadi mbak Via sempat tanya kenapa lu nggak ikut. Seperti yang udah lu bilang, kalau lu lagi ada acara di luar. Tulis Junior dalam pesannya.
Aku hanya tidak ingin membuat Via merasa kasihan atau tidak enak denganku karena harus bekerja sampai malam. Lagipula ini juga sudah menjadi kebiasaanku.
Tapi maaf, mas. Kayaknya kebohongan gue kebongkar karena Pak Kirno. Tulisnya lagi beberapa menit setelah itu.
Ternyata Pak Kirno, salah satu satpam kantor, menelpon Via meminta maaf karena tidak bisa menjenguk, dia beralasan masih harus jaga karena aku masih ada di kantor. Aku tidak membalas pesan Junior lagi dan kembali fokus bekerja. Aku yakin, Via tidak akan tiba-tiba menghubungiku sekalipun dia tahu bahwa aku masih bekerja di kantor, karena sekali lagi, itu kebiasaanku.
Namun, sekitar pukul 10 malam, Via mengirim pesan kepadaku. Ia meminta maaf karenanya aku harus melembur. Aku tidak membalas pesan itu melainkan langsung menelponnya. Dia tidak langsung mengangkatnya tapi di nada sambung selanjutnya dia mengangkat telpon dariku.
“Kenapa?” tanyanya.
“Masih sakit ya?” tanyaku. Aku keluar dari ruang kerja menuju balkon.
“Udah mendingan kok, besok bisa kerja.” Jawabnya.
“Nggak usah, tunggu aja sampai 3 hari sesuai izin dari Pak Pram. Gue nanya karena lo masih kedengeran lemes. Masih pusing juga?”
“Udah nggak,” jawabnya.
“Ya udah, lo istirahat aja sekarang. Pasti capek diajak ngobrol sama anak-anak.”
“Bisa nggak, lo kayak biasanya aja.”
“Lo minta gue yang kayak gimana?”
“Lo nggak pernah ngomong selembut itu.”
“Hahaha, oke. Ya udah, Vi. Lo balik tidur sana. Cepet pulih dan balik ke kantor, ya. Kerjaan lo nyiksa gue banget!” ucapku merubah intonasi bicara. “Kayak gitu?” tanyaku.
“Haha, ya, kedengeran lebih baik sih.”
“Lo emang aneh, ya.”
“Gue nggak...”
“Iya, lo belum terbiasa bukan nggak terbiasa.” Potongku.
“Sebenernya kalau itu bukan lo, gue masih bisa biasa aja. Tapi kayaknya Cuma dengan beberapa hal gue bisa goyah karena lo. Makanya gue nggak mau dapet perhatian itu dari lo.” Terang Via.
Aku sedikit terkejut tapi juga senang mendengar kalimat itu, karena secara tidak langsung Via mulai merasakan perasaan lain kepadaku.
“Kita sama-sama punya luka dari masa lalu, jadi, pelan-pelan aja. Seperti yang gue bilang, gue nggak akan maksa lo, sebisa mungkin gue pun juga meyakinkan perasaan gue sendiri. Gue yakin, ada waktu yang lebih tepat untuk kita sama-sama sadar sama perasaan kita.”
“Maafin gue udah marah-marah ke lo.” Ucap Via.
“Nggak papa, gue paham situasi lo. Gue tahu lo juga nggak bermaksud untuk marah atau benci sama lo, karena selama lo ngomong kayak gitu lo nangis, bahkan mata lo juga nggak memperlihatkan lo marah. Gue sebenernya pengen meluk lo pas nangis. Tapi pasti lo nampar gue. Orang megang nggak sengaja aja lo cubit.”
“Hahaha, kayaknya apapun tentang lo, dari dulu emang sensitif buat gue, tapi baru gue sadarin sekarang.”
“Karena lo terlalu sibuk perhatian sama orang lain sampai nggak tahu perasaan lo sendiri.”
“Makasih sekali lagi ya, gue seneng lo bawain coklat. Makasih juga udah berusaha.”
“Iya, sama-sama. Kita nggak akan canggung kan?” tanyaku.
Via tidak menjawab, dia justru memutus panggilan telponku dan menjawabnya ketika dia masuk kerja. Wajahnya sudah terlihat berseri seperti biasanya. Dia berjalan masuk ke kantor sambil menyapa beberapa rekan kerja lainnya. Sampai akhirnya dia berhadapan denganku. Kami saling menatap untuk beberapa detik, kemudian sama-sama tersenyum. Via mengajakku untuk tos kepalan.
“Siap kerja?” tanyanya dengan raut seperti biasanya.
“Tentu!” jawabku dan kami kembali tersenyum.
Aku tidak tahu sampai kapan kami akan seperti ini. Aku juga tidak tahu momen seperti apa yang tepat untuk membicarakan tentang perasaan ini. Tapi satu hal yang coba gue yakini, Via akan selalu mendahului, karena dia tahu apa yang harus dia lakukan untuk dirinya.
Komentar
Posting Komentar