“Halo, Bu.” Sapa Kana dalam panggilan telepon.
“Halo. Kamu gimana kabarnya? Ibu ganggung nggak nih?” tanya Ibunya.
“Nggak kok bu, santai aja. Maaf ya, Kana jarang telpon Ibu.”
“Nggak papa. Ibu paham kok, pasti kerjaan kamu banyak. Gista bilang kamu sering lembur.”
“Iya sih, Bu. Tapi nggak papa, Kana suka kok sama kerjaannya.”
“Jangan lupa jaga kesehatan ya. Minum air putih yang banyak, minum vitamin, jangan telat makan.”
“Iya, Bu. Eh...ibu juga sehat kan?”
“Iya, Ibu sehat di sini. Gista yang sering nemenin Ibu kalau Bapak kerja di luar kota. Kadang, Dika juga ke sini.”
Kana terdiam sebentar. Ia sedikit terkejut karena mendengar nama Dika.
“Oh iya, ibu telpon niatnya mau kasih tahu kalau Gista itu bulan depan mau nikah. Kamu bisa pulang kan?”
“Iya, Bu. Kemarin Gista juga udah bilang ke Kana. Aku pasti pulang, sih Bu. Nanti aku atur minta cuti 1 minggu biar agak lama di sana.”
“Bagus kalau gitu. Bapak juga pasti seneng.”
“Iya,”
“Emmm...ya udah, kamu lanjutin kerjanya. Ibu tutup telponnya ya.”
“Iya, makasih ya, Bu. Sehat-sehat di rumah.”
“Iya, sayang.”
Kana meletakkan ponselnya kemudian meregangkan tubuhnya. Sudah 1 jam dia duduk di depan laptop. Hari ini, ia sedang kerja di rumah. Mengingat pekerjaannya yang bisa dikerjakan di mana saja dan memang mendapatkan hak istimewa untuk memilih kerja di kantor atau di tempat lain. Dia hanya perlu masuk ke kantor 2 hari dalam 5 hari kerja.
Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Kana memilih untuk menyudahi pekerjaannya dan bersiap untuk makan malam.
***
“Kana...Kana...Kana, tumben masuk. Hahaha” kata Juno teman satu kantor berbeda bagian.
“Mau ngajuin cuti buat bulan depan. Gue mau balik,”
“Kenapa, Na? Nyokap lo sakit?” Tanya Nadia.
“Nggakk....pasti dijodohin sih. Iya, nggak?” kata Juno
“Salah semua. Gue pulang karena saudara gue ada yang nikah.” Ucap Kana.
“Udah pasti, habis itu, lo ditanya.” Ucap Juno.
“Ya udah, sih. Ditanya tinggal dijawab.” Kata Kana kemudian meninggalkan Nadia dan Juno.
“Gimana, katanya lo ada kenalan buat Kana?” bisik Nadia kepada Juno.
“Ya nggak segampang itu buat ngenalinnya. Tahu sendiri Kana agak sensi kalau soal gituan. Dia juga nggak mau dijodoh-jodohin lagi.” Kata Juno.
**
“Gimana, Na?” tanya Kania, kepala HRD sekaligus teman dekat Kana.
“Surat pengajuan cuti buat bulan depan.” Jawab Kana.
“Oke, kerjaan gimana? Aman?”
“Aman.”
“Nanti coba gue ajuin ya.”
“Oke, sip.”
“Oh iya, soal Dika...” Kana menghela napas. “Gue balikin cincin yang lo suruh buang itu.” Lanjut Kania.
“Kenapa? Kan udah gue suruh buang.”
“Gue emang nggak tahu jelas soal Dika. Tapi...gue percaya hubungan kalian berdua itu bukan hubungan yang sembarangan. Gini deh, masalah kalian itu kan sebenernya masih bisa diomongin baik-baik. Kalau lo emang mau udahan lo harusnya balikin cincinnya ke dia. Lagian kalian juga temenan kan sebelumnya.”
“Terus?”
“Kalau cuti lo diterima, kepulangan lo besok itu bisa jadi momen yang pas juga buat lo perbaiki hubungan lo sama Dika. Bukan buat balikan, tapi seenggaknya lo berdua bisa temenan baik-baik lagi.”
Kana terdiam.
“Lo...masih sayangkan? Itu juga alasan lo kenapa belum bisa suka sama orang lain.” Kata Kania.
“Udahlah, pikir nanti aja. Ajuin segera ya, biar gue juga bisa pesen tiket lebih awal.” Kata Kana mengalihkan pembicaraan.
“Oke...yang penting gue udah ngomong ya. Gue udah saranin yang menurut gue baik buat kalian.”
“Iya bawel....terima kasih ibu Kania, saya pamit.”
“Dasar.”
Kana keluar dari ruangan HRD, dia menuju dapur untuk menyedu kopi. Kana kembali memikirkan ucapan Kania. Ya, dia memang masih berharap dengan Dika. Bagaimanapun juga hubungan mereka tidak sebentar. Dia mengambil cincin yang diberikan Kania. Ingatannya kembali memutar kilas balik kenangannya dengan Dika.
“Na....” panggil Juno. “Ngelamun mulu, kenapa?” tanyanya.
“Nggak papa.” Jawab Kana.
“Na...sebenernya ada yang pengen gue sampaiin ke lo. Tapi lo jangan marah ke gue ya.” Kata Juno.
“Emang apaa?”
“Jadi, kemarin temen gue sempet lihat foto lo di IG gue, itu loh pas kita foto bareng-bareng, acara ulang tahun kantor.”
“Terus?”
“Dia pengen kenalan sama lo. Mau nggak?”
“Kenalan...Cuma kenalan kan? Tahu nama, kerja dimana, lahir kapan, makanan favorit? Gitu?”
“Dihhh...kenalan buat ngenal lo, siapa tahu cocok, jadi pasangan gitu.”
Kana terdiam. “Nanti deh, gue kabarin ya. Nggak buru-buru kan kenalannya?” ucap Kana.
“Iya, sih. Iya deh, lebih baik lo tenangin diri lo dulu. Kayaknya masih ada yang belum selesai.” Juno melirik cincin yang ada di dekat tangan Kana.
Kana mengangkat bahunya.
“Balik ya...energi gue habis.”
“Iya....lagian ini jadwal lo kerja di rumah kan.”
Kana mengangguk. “Itu kopi belum gue minum, lo minum gih, sayang kalau nggak diminum.” Kata Kana.
“Oke, makasih ya.”
Kana kembali mengangguk.
Juno langsung mengambil kopi tersebut dan mencicipinya. Matanya terpejam kemudian menghela napas.
“Emang nggak waras sih, mana ada kopi asin kayak gini.” Gumamnya.
Dalam perjalanan pulang Kana kembali bergelut dengan pikirannya. Ia juga mempertimbangkan ajakan perkenalan teman Juno. Mungkin saja itu menjadi jalan awal dia bisa move on dari Dika. Tapi ada sebagian dari Kana yang masih enggan dan masih ingin dengan Dika.
Selang beberapa menit kemudian, dia langsung mengambil ponsel dan menelpon Juno.
“No...” panggil Kana. “Soal kenalan tadi, boleh deh. Lo kasih nomor whatsapp gue aja, suruh dia hubungin gue.” Ucapnya kemudian.
“Serius?” tanya Juno dengan heboh.
“Iya, siapa tahu emang jodoh.”
“Oke, gue kirimin sekarang ya.”
“Iya, makasih ya.”
“Iya, Na. Gue juga makasih.”
Kana menutup telponnya.
Akhirnya dengan diawali pertukaran pesan singkat itu, Kana dan teman Juno yang bernama Damar memutuskan untuk bertemu.
Komentar
Posting Komentar