Tidak ada persiapan khusus, bahkan Kana menemuinya bersama dengan pekerjaannya. Dia sudah datang sejak pagi di sebuah cafe dan akan bertemu dengan Damar pukul 2 siang.
Seperti biasanya, bahkan Kana pun belum mandi. Dia hanya mengenakan kaos panjang dengan celana bahan bernuansa gelap.
“Na...lo nggak mau pindah meja gitu? Atau mau istirahat dulu gitu?” tanya pelayan cafe yang sudah akrab dengan Kana karena saking seringnya Kana bekerja di tempat tersebut. Dia bernama Brian.
“Bentar lagi gue ada janji juga di sini.” Jawab Kana tanpa melihat ke arah Brian.
“Gue ambil gelasnya.” Kata Brian.
“Nambah, latte 1 lagi ya.”
“Naaa...ini udah gelas ke 3. Gila lo?!”
“Ya udah, air putih 1.”
Brian hanya menggelengkan kepala.
Kana melirik jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 12 siang. Bertepatan juga pekerjaannya selesai. Dia berdiri dan meregangkan badannya yang sudah 4 jam duduk di kursi tersebut.
“Nih minumnya.” Ucap Brian.
“Terima kasih.” Balas Kana.
“Lo janjian sama klien?”
“Nggak, sama temen.”
“Bukan cowok?”
“Cowok.”
“Temen kantor?”
“Temennya temen kantor gue.”
“Lo dicomblangin?”
“Bisa dibilang.”
“Dan lo kayak gini?”
“Emang kenapa?”
“Lo...gila sih. Otak lo dibawa nggak sih, masa iya mau ketemu gebetan modelan gini?”
“Ya ampun Brian...Brian. gue bukan anak ABG lagi, tujuan gue kenalan juga sebisa mungkin nggak sekedar pacaran, nikah kalau bisa. Gue juga nggak mau orang suka sama gue karena image yang gue buat-buat,”
“Seenggaknya lo cuci muka dan rapiin rambut.”
“Emang berantakan banget?”
Brian menghela napas. Dia langsung meyuruhnya berbalik menghadap jendela cafe yang bisa memantulkan bayangannya.
Kana tersenyum, “Berantakan ternyata,” ucapnya kemudian.
“Kamar mandi ada di sebelah sana ya, mbak.” Ucap Brian kemudian meninggalkan Kana.
Adalah sekitar 30 menit Kana merapikan dirinya. Untung saja dia membawa outer yang bisa membuatnya tidak terlalu lusuh. Sekitar pukul 1 siang, Damar menelpon memberitahukan datang lebih awal.
“Ohh...bagus, gue juga udah di cafe ini.”
“Oh ya?” Damar clingukan mencari Kana.
“Halo.” Ucap Kana yang terheran karena tidak ada lagi suara.
“Hai.” Balas Damar yang sudah berdiri di sampingnya.
Kana menoleh kemudian mematikan panggilan telponnya. Dia sedikit terkejut karena Damar benar-benar berbeda dari bayangan Kana.
“Silakan duduk.” Ucap Kana.
Damar tersenyum. “Lo dari jam berapa di sini?” tanyanya kemudian.
“Dari tadi pagi, kebetulan gue ngerjain kerjaan di sini sekalian. Rumah gue deket dari sini jadi...yaa sambil menyelam minum air, sarapan di sini langsung kerja dan ketemu lo.”
“Makasih ya lo udah mau ketemu sama gue.” Ucap Damar.
“Aaa....soal itu gue yang terima kasih karena mau ngajak ketemuan. Tapi sorry, gue nggak serapi lo.” Ucap Kana.
“Ohh...santai aja. Kebetulan gue juga dari pulang acara, makanya rapi gini.” Ucap Damar.
“Mau makan? Atau pesen minum?” tanya Kana.
“Mungkin minum aja.” Jawab Damar.
“Oke, gue makan ya, belum makan siang soalnya.”
“Silakan.”
Mereka kembali berbincang. Untuk sebuah awalan Kana merasa pertemuan ini cukup menyenangkan. Tapi tetap saja Kana belum menemukan klik yang bisa membuat Kana jadi nyaman.
“Gue denger dari Juno, bulan depan lo mau balik ke rumah?” Tanya Damar.
“Iya. Kebetulan ada kerabat yang nikah, terus gue pulang.”
“Lo sendiri, udah kepikiran belum buat nikah?” tanya Damar.
“Emmm...untuk saat ini belum sih. Selain belum ada pasangan, gue rasa masih banyak pertimbangan lain.”
“Ohh...oke deh. Ya udah kalau gitu, kasihan kalau lo seharian di sini. Kita pulang sekarang aja.” Kata Damar.
“Oke,” ucap Kana sambil membereskan alat-alatnya.
“Mau gue anter?”
“Emm...nggak usah, rumah gue belakang cafe ini. Kalau lo nganter malah ribet naik motornya.”
“Nggak papa, kalau boleh. Gue temenin jalan kaki.”
Kana melirik ke arah Brian yang memang saat itu melihat ke arahnya. Brian menggeleng kemudian berbalik badan.
“Sorry...mungkin lain kali?!”
“Ohh...oke nggak papa. Hati-hati ya, gue duluan.”
“Iya,”
Setelah Damar keluar, Brian langsung mendekati Kana.
“Gimana?” tanya Kana.
“Terlalu tinggi nggak sih, Na. Kalau buat lo.”
“Dasar, mandang fisik nih orang.”
“Bukan gitu, risikonya tinggi juga Na.”
“Risiko apa?”
“Orang yang punya nilai ganteng pada umumnya apalagi kalau dia sadar dirinya ganteng, besar kemungkinan gampang pindah perasaan.”
“Iya sih. Lagian gue juga belum ngerasa klik sih sama dia.”
“Nih,” Brian memberikan cincin. “Gue temuin di kamar mandi. Gue yakin itu punya lo.”
Kana menerima cincin tersebut. Cincin pemberian Dika yang dikembalikan Kania.
“Makasih, ya. Tepat sekali.” Ucap Kana kemudian memasukkannya ke dalam kantong.
Brian diam sebentar memandangi Kana.
“Kenapa?”
“Heran aja gue sama lo, kayaknya lo kelarin dulu deh soal cincin itu.” Kata Brian.
Kana menghela napas kemudian mengangguk. Kana memutuskan untuk segera pulang dan beristirahat. Sambil merebahkan tubuhnya dia menelpon Gista, saudaranya yang akan menikah.
“Haiiii...selamat ya...atas pernikahannya.” Ucap Kana.
“Aaaaa...makasih, Na. Lo jadi pulang, kan?” tanya Gista.
“Jadilah, gue udah beli tiket, tinggal beli oleh-oleh buat Ibu sama Bapak, sama kado buat lo. Mau dibeliin apa?” tanya Kana.
“Emmm...apa aja deh, gue pasti seneng.” Jawab Gista.
“Kain aja kali ya?”
“Hahaha, ngapain juga dikasih tahu sekarang. Udahlah, santai aja.”
“Gue suka bingung nyari kado buat acara nikahan.”
“Emang temen lo belum pada nikah?”
“Kebanyakan sih belum, mereka tipe ngejar karir dulu, kebetulan pasangannya juga ngedukung sih.”
“Lo...di sana udah punya pacar sekarang?”
“Kenapa emang?”
“Yaaa...nanya doang.”
“Yang resmi belum sih. Cuma kemarin emang sempet nyoba kenalan sama cowok, siapa tahu cocok.”
“Ohhhh...ganteng?”
“Ganteng, nyambung juga. Cuma....”
“Gue yakin masih oke-an Dika, sih.”
“Kenapa jadi Dika?”
“Na...gue boleh nggak nuker kado nikahan gue sama hubungan lo dan Dika balik lagi?”
“Gila lo ya!!!” Kana terduduk.
“Gue tahu lo berdua itu Cuma salah paham. Gue yakin lo berdua Cuma sama-sama canggung buat ngawalin obrolan doang. Ayolah, balikan ya....”
“Gis....ini gue sama Dika aja udah nggak komunikasi 1 tahun setelah putus.”
“Na...lo harus percaya sama kalimat, ‘nggak ada kata terlambat’.”
“Ya konsepnya nggak gitu juga. Siapa tahu dia udah deket sama orang lain.”
“Nggak...gue masih sering ngobrol sama Dika. Dia juga masih sering main ke rumah lo.”
“Yaa...itukan karena lo juga sahabat dia dan kebetulan sebelum pacaran Dika emang sering main ke rumah, gue sama dia kan temenan deket juga.”
“Tapi lo masih ngarep juga, kan?”
Kana terdiam, dia kembali mengambil cincin di dalam saku celananya.
“Udahlah, nggak usah dibahas lagi. Kalau jodoh ya pasti balik lagi.”
“Usaha dong!!! Gue sama Ferdi juga gitu, pakai usaha dulu baru sampai pelaminan.”
“Udah, ya. Gue mau mandi.” Kana langsung menutup panggilan telpon tersebut.
“Nyesel gue nelpon,” gumamnya.
Kana beralih mengirim pesan kepada Kania, untuk meminta dia menemani Kana membeli kado pernikahan dan oleh-oleh untuk dibawa pulang.
Keesokan harinya, hari Sabtu, pagi hari sebelum keberangkatan.
“Gue denger dari anak-anak, lo lagi deket sama cowok?” tanya Kania.
“Juno nih pasti?”
“Nadia juga.”
“Iya, tapi baru kenalan juga.”
“Terus gimana pendapat lo soal cowok itu?”
“Baik, ganteng juga, obrolannya juga nyambung.”
“Lo suka?”
“Yaa...nggak segampang itu sih. Kalau kata Brian barista di cafe langganan gue, terlalu tinggi risiko patah hatinya.”
“Playboy?”
“Nggak juga sih, mungkin lebih ke dia tahu dia worthy bisa aja dia gampang pindah perasaan. Atau kalau nggak Cuma penasaran aja.”
“Terus soal Dika?” tanya Kania dengan hati-hati.
“Ini, sebenernya Dika siapa sih, kenapa diomongin mulu. Telinga dia dengung terus, nih pasti!”
“Sayang aja sih, Na. Gue yakin keluarga lo juga menyayangkan itu.”
Kana menghela napas, wajahnya berubah menjadi sedikit badmood.
“Gini deh, lo jujur sama perasaan lo. Dan itu lo yakinin sebelum lo berangkat pulang. Itu juga bisa lo pakai buat ngadepin dia besok, pasti dia dateng juga kan.”
“Iya,”
Kana dan Kania pulang setelah selesai berbelanja dan makan. Mereka pulang secara terpisah karena memang beda arah. Selama diperjalanan Kana mencoba mempertimbangkan ucapan Kania dan semua orang yang menyuruhnya kembali kepada Dika.
Ia mulai berkemas dan bersiap pergi ke stasiun. Beberapa pesan dari rekan kerjanya mendoakan selamat untuk perjalanan pulangnya. Selama di perjalanan, Kana masih saja melihat cincin pemberian Dika.
Komentar
Posting Komentar