Memang sangat disayangkan, hubungan mereka yang sudah berjalan cukup lama harus selesai karena ada kesalahpahaman. Keduanya saat itu sama-sama sibuk bekerja dan jarang bertemu. Sampai suatu ketika ada orang yang sepertinya tidak menyukai hubungan Dika dan Kana, ia mengirimi Kana foto Dika yang sedang berjalan dengan seorang perempuan. Kana mengira Dika selingkuh padahal itu adalah salah satu kliennya yang memang sudah kenal dengan Dika sebelumnya dan sangat akrab.
Kana yang sudah terlanjur marah akhirnya memutus hubungannya sepihak. Dika yang masih ingin memperbaiki hubungannya bermaksud menyusul Kana tapi waktu memang tidak berpihak kepada hubungan mereka, salah satu rekan kerjanya, seorang laki-laki setengah perempuan itu memeluk Kana yang sedang menangis. Saat itu Dika marah dan menyetujui putusnya hubungan mereka.
Kana menghela napas lagi. Tidak ada semangat yang tersisa dalam dirinya. Pikirannya juga mulai kacau memikirkan kemungkinan-kemungkinan saat sampai di sana.
Pukul 4 subuh, Kana sampai di kota kelahirannya. Ia berniat untuk mencari taxi online tapi langkahnya terhenti ketika melihat Dika yang berdiri di pintu keluar stasiun. Ia celingukan seperti mencari seseorang.
Tiba-tiba ponsel Kana bergetar, panggilan dari Ibunya.
“Halo, Bu.” Sapa Kana.
“Udah sampai belum? Ibu suruh Dika jemput kamu. Soalnya rumah udah repot.”
“Iya bu, udah sampai. Aku juga udah lihat Dika kok.”
“Nggak papa kan?”
“Iya, kalau dia nggak papa, harusnya aku juga nggak papa kan?!”
“Ya udah, hati-hati ya.”
“Iya, makasih, Bu.”
Aku segera berjalan mendekatinya, kemudian menepuk pundaknya.
“Nyari siapa?” tanya Kana.
Dika yang sedikit terkejut langsung menghela napas lega, melihat itu Kana.
“Gue takut kalau telat tadi.” Jawab Dika terdengar santai. “Bawaan lo Cuma ini?” tanya Dika.
“Iya, gue Cuma seminggu di sini, jadi nggak terlalu bawa banyak barang.” Jawab Kana.
“Ya udah, sini gue bantuin.” Kana mengeluarkan tangannya dari saku hendak melepaskan salah satu tas bawaannya dan tidak sengaja cincin yang semalam ia kantongi terjatuh.
Dika langsung mengambilnya karena jatuh tepat dekat di kakinya. Terlihat ada senyum tipis di wajah Dika.
“Masih disimpen?” tanya Dika kemudian.
“Kemarin udah gue suruh Kania buat buang. Tapi katanya sayang,”
“Iya, sih. Emang sayang.”
Kana menatap Dika dengan wajah bingung. Dika membalas tersenyum.
“Udah lama nggak ketemu, mau kenalan lagi?” tanya Dika sambil mengajak bersalaman.
“Apaan, sih!” ucap Kana namun tetap menjabat tangan Dika.
“Gue pikir kita bakalan canggung, loh.” Ucap Dika dalam perjalanan.
“Mungkin karena udah gede juga, udah tahu juga.”
“Tahu apa?”
Kana tidak menjawab.
“Mau nih dibahas sekarang juga?”
“Soal apa?” tanya Kana.
“Soal kita.”
Kana menoleh ke arah Dika, “Emang lo masih jomblo?” tanya Kana.
“Percaya atau nggak, gue nggak pernah ngaku single kalau ditanya.” Jawab Dika sambil memperlihatkan cincin di jarinya. Cincin yang sama seperti milik Kana.
“Kenapa?” tanya Kana.
“Nggak tahu. Sebenernya gue juga udah nyoba untuk sama orang baru. Tapi nggak bisa, sampai akhirnya gue memutuskan untuk sendiri aja, gue pakailah cincinnya.”
“Ohhh,” Kana menanggapi sambil mengangguk-angguk.
“Lo kenapa masih nyimpen?”
“Seperti yang gue bilang tadi, banyak orang yang menyayangkan cincinya dan...”
“Nyuruh kita baikan?”
“Iya, begitulah.”
“Kayaknya kalau baikan tanpa disuruh kita udah baik sendiri. Nyatanya kita bisa aja biasa aja kayak gini.”
“Ya...gimanapun juga kita juga udah temenan sebelumnya.”
“Tapi kalau balikan...lo mau nggak?” tanya Dika. Tepat saat lampu lalu lintas berwarna merah.
Keduanya saling bertatap, namun sedetik kemudian Kana memalingkan wajahnya.
“Nggak ya?!” tanya Dika. “Gue denger dari Kania lo ketemu sama cowok baru di sana.” Lanjut Dika dengan tersenyum.
“Iya, baru kenalan.”
“Semoga aja bisa cocok.” Ucap Dika.
Kana tidak menanggapi apapun. Setelah obrolan itu suasana menjadi hening. Dika hanya diam dan fokus menyetir. Kana merasakan perbedaannya tapi dia tidak ingin terlalu ambil pusing dan memilih tidur karena perjalanannya masih cukup lama.
“Na...bangun, udah sampai.” Ucap Dika sambil menepuk bahu Kana pelan. Kana sedikit terkejut tapi segera sadar.
Keluarga Kana sudah menyambut dan menciptakan momen haru. Dika tersenyum ikut senang walaupun ada raut kecewa di wajahnya. Ia memilih menepi masuk ke dalam mobilnya, ia tidak berniat untuk pulang ke rumah mengingat rumahnya yang sekarang tidak dekat. Ia sudah membawa baju ganti untuk acara pernikahan Gista.
Kana mengetuk kaca mobil Dika yang sudah terbuka setengah, “Ayo masuk,” ajak Kana yang mendekati Dika.
Dika tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya di hadapan Kana. Bahkan tiba-tiba saja matanya berair.
“Lo duluan aja,” ucap Dika mencoba tersenyum.
Kana langsung berjalan untuk masuk dari pintu lain. “Ada masalah?” tanyanya.
Dika hanya merespon dengan tersenyum dan sedikit tercampur dengan tawa pahitnya. Ia tidak bisa menahan air matanya lagi, kemudian dia memilih menunduk menutupi wajahnya.
“Kenapa, Dik?” tanya Kana sambil memegang pundaknya.
“Gue juga bingung kenapa.” Jawab Dika. “Kayaknya gue nggak pernah siap denger lo baik-baik aja dan mulai hubungan baru sama orang lain.” Lanjutnya.
Kana hanya terdiam.
“Tapi nggak papa, mungkin gue Cuma iri.” Ucap Dika sambil mengusap air matanya dan melihat ke arah Kana. Ia mencoba untuk tersenyum. “Lo masuk aja, biar gue disini dulu. Nanti gue masuk buat mandi sama ganti pakaian.” Tambahnya.
Kana keluar dari mobil Dika. Baru beberapa langkah, Dika membuka kaca mobilnya. “Bilangin Ibu ya, gue pergi sebentar. Nanti gue balik lagi.” Ucap Dika.
“Ke mana?” tanya Kana.
“Nggak jauh kok, nanti gue balik.”
Kana hanya mengangguk dan membiarkan mobil berwarna silver itu berjalan. Kana masih bingung dengan apa yang terjadi. Ia sangat terkejut melihat Dika yang menangis di hadapannya dengan alasan itu.
Hingga pukul 8 pagi, belum ada tanda-tanda Dika kembali. Kana mulai khawatir namun dia tidak tahu harus bagaimana.
“Dika di mana, Na?” tanya Ibu.
“Nggak tahu, Bu. Tadi bilangnya mau balik ke sini.” Jawab Kana yang terlihat khawatir.
“Pakai HP ibu, telpon dia, ya.”
Kana menerima HP milik ibunya dengan ragu tapi ia segera mengangguk dan berjalan keluar menjauhi kerumunan. Kana mencoba menelpon, Dika yang sebenarnya sudah hampir dekat dengan rumah Kana sengaja mendiamkannya. Ia juga melihat Kana yang berjalan mondar-mandir dengan ponsel di dekat telinganya.
Dika segera mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut. Ia memperlambat laju mobilnya.
“Lo di mana?” tanya Kana dengan nada khawatir yang sudah tidak bisa ia sembunyikan.
Dika menghentikan laju mobilnya. Ia tersenyum.
“Gue di jalan hampir sampai ke rumah,” jawabnya.
“Pulang?”
“Iya, pulang ke rumah. Udah lama banget gue nggak ke sana, gue kangen banget.”
“Ini acaranya udah mau mulai. Ibu nyariin lo.”
“Iya, bentar lagi gue juga sampai kok.”
“Maksudnya gimana? Katanya lo udah pindah rumah, jauh dari sini kan?!”
“Iya, tapi rumah yang gue maksud bukan bangunan, tapi lo. Gue nggak tahu harus gimana lagi selain gue bilang kalau gue masih sayang dan berharap lo kembali sama gue.”
Kana melihat mobil Dika yang berhenti di jalan masuk rumahnya. Ia menghela napas lega.
“Kita bahas itu nanti aja. Sekarang lo ke sini,” ucap Kana kemudian berjalan masuk ke rumahnya.
Tepat pukul 9, acara di mulai. Semua berjalan dengan lancar dan penuh haru. Sejak obrolan singkat di telpon, Kana belum bertemu dengan Dika. Mereka juga duduk agak berjauhan. Sampai suatu momen di mana foto bersama. Dika melihat Kana yang memakai cincin darinya. Wajahnya tidak berhenti tersenyum bahkan kembali terharu.
Setelah selesai berfoto Dika langsung menghampiri Kana.
“Mau kan berarti?” tanya Dika sambil memegang tangan Kana.
Kana mengangguk. Selama perjalanan pulang dan bertemu Dika dia menyadari bahwa memang Dika yang masih menjadi pemilik hatinya. Mereka berpelukan dan langsung mengundang perhatian di sekitarnya.
“Akhirnya pasangan ini rujuk juga.” seru Gista.
Ibu tersenyum senang kemudian mengangguk ke arah Dika dan Kana.
Komentar
Posting Komentar