Setelah 1 tahun berlalu, rasanya masih sama saja, masih terasa baru dan begitu mengganggu. Kenan, membatalkan pernikahan denganku. Sepihak. Tanpa kabar. Bahkan setelah 1 tahun, aku masih tidak mendengar kabar keberadaannya. Aku tidak berharap dia kembali kemudian meminta untuk mengulangi hubungan kami dari awal. Aku juga tidak menunggu dirinya kembali dan mengatakan menyesal. Aku hanya penasaran, apa yang membuatnya melakukan hal tersebut.
Mereka bilang ini karma karena aku pernah meninggalkan seorang laki-laki dengan cara yang tidak baik. Tapi, apa harus sejauh itu jika ini sebuah karma. Kami bukan sebatas pacaran lagi, kami sudah bertunangan bahkan sudah menyiapkan pernikahan. Persiapannya pun tidak sebatas menentukan tanggal, kami sudah memesan gedung, catering, undangan, hingga gaun pernikahan. Bahkan kami sudah membayar separuh dari biaya semua itu. Apa masih pantas itu dikatakan karma dari kesalahan saat menjalin hubungan pacaran?!
1 tahun itu, yang akhirnya membuatku benar-benar takut menjalin sebuah hubungan kembali. 1 tahun, yang dalam bayanganku sebelumnya begitu menyenangkan, menjadi 1 tahun yang benar-benar berat dan penuh cobaan. 1 tahun. Aku masih menunggu penjelasannya kemudian aku akan mengikhlaskannya.
***
Aku masih menatap layar komputer. Beberapa rekan kerjaku juga melakukan hal yang sama. Kami sedang sibuk-sibuknya dipenghujung tahun, dimana orang lain mulai melakukan perjalanan liburan, kami justru mulai perjalanan lemburan.
"Ta...ngopi yukk!!"
"Nggak bisa, Mas."
"Istirahatlah, kasihan tuh mata dari pagi sampai malem masih ngadep komputer."
"Iyaaa"
Seseorang yang aku panggil 'Mas', ia bernama Dika. Dia adalah orang yang paling slengekan yang aku kenal di kantor ini. Kerjanya sama, tapi kelihatannya beda jauh. Dia benar-benar bisa menikmati pekerjaannya dan membagi waktu (mungkin), sehingga sebanyak apapun pekerjaannya dia tetap terlihat biasa saja.
Dia memang lebih tua dariku, maka dari itu aku memanggilnya dengan sebutan 'Mas'. Sekilas pandanganku, dia ini orang yang modelnya terus terang, baik, tapi bercandanya kadang suka berlebihan. Banyak yang suka dengannya. Yang perlu digaris bawahi adalah, dia terkenal dengan cap playboy, yang godain perempuan sana sini. Tapi, walaupun begitu semua perempuan tetap menyukainya.
"Cuma lo, Ta yang nggak suka sama Dika. Makanya gue jadi ragu, jangan-jangan lo jadi kehilangan ketertarikan sama cowok." Itu kata Mbak Linda, seniorku yang juga sama tergila-gilanya dengan Dika.
"Bukannya nggak tertarik mbak. Kadang nih ya, orang kalau udah jelas gantengnya bikin males. Pasti ketebak belakangnya, kalau nggak pemilih, pasti playboy. Parahnya lagi, bisa juga gay." Ucapku melakukan pembelaan diri.
Bukan hal yang mengherankan lagi ketika Dika lewat banyak yang memanggilnya. Begitu juga Dika yang langsung tebar pesona dengan senyuman yang katanya bisa mematahkan pertahanan hati para wanita. Tapi sekali lagi. Bahkan sepuluh kali hingga tak terhitung, Dika senyum kepadaku, aku tidak merasakan apapun.
"Ta, pulang gue yang anterin ya. Kasihan anak kecil pulang malem." Ucap Dika sambil mengelus kepalaku.
Aku segera menepis tangannya, "Gue bukan anak kecil, Mas. Gue bisa minta jemput taxi." Balasku. Dia memang hobi menggodaku, sampai kadang membuat perempuan lain iri, kenapa hanya aku yang bisa sedekat itu dengan Dika.
"Ya udah deh, gue tungguin sampai dapet taxi-nya." Ucapnya sambil duduk di sampingku.
Aku hanya diam. Tidak mengatakan apapun, tidak niat membalas ucapannya apalagi membuka obrolan.
"Emang bener ya, lo nggak suka cowok lagi?" Tanya Dika tiba-tiba.
"Kayaknya sih gitu." Jawabku.
"Kok kayaknya?"
"Ya gue juga nggak tahu mas. Kenyataannya sampai sekarang gue nggak tertarik sama perempuan."
"Seberat itu ya, ditinggal pergi calon suami?"
Aku menoleh dengan cepat ke arah Dika. Jelas aku tidak terima apabila dia berniat meremehkan masalahku.
"Eitssss, jangan marah dong. Biasa aja matanya, jangan melotot gitu. Nanti keluar, loh!"
"Mas maunya apa sih?! Kan bisa pulang duluan. Sanaaaa!!!" Seruku sambil mendorongnya.
"Nemenin kamu. Bareng-bareng sama kamu." Balasnya sambil tertawa.
"Nggak lucu!!"
"Emang nggak lagi nglucu. Serius, gue serius. Mau nggak?"
"Urusin noh yang udah chat, 'Dika udah makan belum? Jangan begadang ya.' 'Dika jangan lupa istirahat' terus apa lagi?!!"
"Emmm, ada yang bilang sayang sih."
"Nah itu,"
"Peragain dong, ngomongnya kayak gimana,"
"Dika aku sayang kamuuuu,"
"Aku juga sayang kamu, Renata. Aseeeekkk."
Baru sadar aku melakukan kesalahan yang bodoh.
"Itu tadi nyotohin bukan ngaku."
"Siapa tahu, nitip sekalian."
"Hih, diam ah Mas. Berisik tahu!!"
"Nggak papa. Daripada gue biarin lo diem nunggu taxi sambil bengong terus kepikiran manusia tidak beradab itu. Mendingan ngobrol, bercanda."
Aku terdiam. Bercanda. Kata yang sama halnya seperti makna dari pergi. Keduanya hanya sama-sama meninggalkan penyakit patah hati.
"Ta, jangan nangis loh! Jangan marah juga. Kan udah bilang bercanda."
"Taxi," seruku sambil melambaikan tangan.
"Ta, tunggu!!!" Dika menahan tanganku. "Jangan marah ya." Ucapnya kemudian.
Aku menghelas napas panjang, kemudian mengangguk dan melepaskan tangannya.
Aku hanya bisa terus-terusan menghela napas selama di dalam taxi. Selalu seperti ini, ketika semua perasaan campur aduk. Lelah, soal kerjaan, soal perasaan, juga sikap orang lain. Tapi, walaupun begitu aku harus segera meredamnya. Agar tidak timbul masalah baru.
"Jangan ditahan melulu, Ta. Bahaya." Satu-satunya kalimat Dika yang aku ingat.
Aku memang tidak merasakan apapun ketika bertatapan ataupun dekat dengan Dika. Tapi apapun yang dia ucapkan kepadaku, selalu bias aku terima dan aku ingat-ingat. Hanya dengan Dika juga aku bisa mengeluarkan emosiku sebenarnya. 2 tahun kami bekerja dalam 1 tim, tapi baru kali ini aku melihat sisi berbeda darinya. Dan. Kebiasaan dia menelponku sepulang kerja.
"Halo,"
"Jangan marah dong. Maaf deh, kalau bercandanya berlebihan."
"Iya, Mas. Bukannya udah biasa ya kayak gini."
"Hahaha, iya ya, biasa bikin lo marah terus minta maaf. Tahu nggak alesannya apa?"
"Kurang kerjaan."
"Kangen, pengen ngobrol terus sama kamu. Hahahha"
"Kurang-kuranginlah kayak gitunya. Kalau niatnya mas cuma mau banggain diri bisa naklukin perempuan, jangan sama aku."
"Nggak, Ta. Gue serius. Iya gue sadar emang suka godain cewek sana-sini, tapi sama lo beda."
"Terserahlah, Mas. Udah capek."
"Yaudah, kalau udah sampai..."
"Mas! Udah!!"
"Iya, iya. Aku tutup telponnya."
Aku segera memasukkan kembali ponselku ke dalam tas. Memang tidak apa-apa, tapi aku ini masih perempuan yang normal, tidak menutup kemungkinan aku bisa menyukai Dika. Tapi, aku tidak pernah siap untuk hal semacam itu, apalagi dengan seseorang seperti Dika. Karena dia yang terlalu banyak bercanda.
Komentar
Posting Komentar