Seperti biasa, rutinitas sehari-hari. Bangun pagi, sarapan, mandi, kerja sampai sore kemudian pulang, tidur. Tapi mungkin di akhir bulan Desember ini, aku tidur di kantor.
Mbak Linda, Mbak Seta, Mbak Dini, dan yang lainnya sudah mulai pergi keluar ruangan untuk melihat kembang api perayaan pergantian tahun. Sedangkan aku malas untuk ikut dan memilih tinggal sendirian di dalam ruang kerja. Aku tidak takut, seperti ini justru membuatku lebih tenang.
Aku duduk di kursi yang berada di balkon lantai ruang kerja kami. Angin malam itu berhembus lumayan dingin, karena aku berada di lantai 3. Masih pukul 11.00 malam, kurang 1 jam lagi. Tapi suasana di lapangan dekat kantor sudah sangat ramai, bahkan sejak tadi Magrib.
Sambil menikmati suasana tenang itu, aku mendengarkan musik dengan headset dan sepertinya aku akan tertidur.
Mungkin, 5 atau 10 menit, kemudian aku terbangun dengan terkejut karena ada Dika yang sudah duduk di pegangan kursi yang aku duduki. Tanpa sadar, selama 5 atau 10 menit itu, atau kurang, karena aku tidak tahu pasti kapan Dika datang, aku tidur di lengan tangannya.
"Sampai kesemutan loh ini." Ucapnya kemudian.
"Lah, kan nggak ada yang nyuruh. Kan juga bisa dibangunin aja."
Dika mengambil kursi yang lain dan meletakkannya di dekatku.
"Kasian soalnya kalau dibangunin. Jarang bisa lihat lo tidur di kantor." Dia menatapku. Selalu menatapku dengan tatapan yang sama setiap berbicara kepadaku.
"Kenapa nggak ikut ke sana sama yang lain?" Tanyanya setelah hening beberapa saat.
"Males, nanti juga capek ujung-ujungnya. Udah capek mikirin kerjaan tambah capek jalan kaki."
"Kirain takut baper. Kan di sana banyak pasangan. Hahahha"
"Lah, mas sendiri ngapain malah ke sini?" Tanyaku.
"Niatnya sih mau menguasai ruang kerja buat tiduran. Tapi ternyata udah ada penunggunya. Tapi bagusnya itu lo, kan enak berdua duduk di sini."
"Udah...udah, cukup."
"Hahaha. Tapi ngomong-ngomong lo kalau tidur lucu juga ya. Pengen deh sambil ngelus rambut tadi, tapi takut ngebangunin."
"Heh, macem-macem, awas!!!" Ucapku sambil mengacungkan tinju.
"Iya-iya, nggak lagi. Lagian kan tadi baru niatan."
Kami kembali hening. Aku menatap langit yang tetap nampak cerah walaupun malam hari dan kerumunan orang di bawah.
Tak lama kemudian terdengar suara terompet dan riuh hitung mundur. Pergantian tahun segera dimulai. Petasan menyala dari berbagai arah, membuat langit malam itu semakin ramai. Untung saja, aku tidak memiliki kenangan bersama Kenan saat pergantian tahun, karena kami sama-sama sibuk di waktu itu.
"Udah ganti tahun loh, Ta. Lo masih takut buat percaya sama orang lain?" Tanya Dika.
Aku diam.
"Nggak capek apa?! Sedih lama-lama juga nggak enak kan?!"
"Nggak tahulah, Mas. Udah ada yang ngatur."
"Iya, tahu. Tapi kalau lo kayak gini terus ya nggak akan ada kemajuan."
"Ya udahlah, nggak usah ikut pusing."
"Ikut sakit iya."
"Lah, emang kenapa?"
"Nunggu, udah lama."
Aku menoleh ke arah Dika, begitu juga dengannya yang kemudian melihat ke arahku.
"Nggak lucu sih ini," ucapku kemudian memalingkan wajah.
"Masih nggak percaya?" Tanyanya.
"Mas..."
"Ta, aku bener-bener serius."
"Nggak segampang itu."
"Sama. Aku juga nggak terlihat segampang itu bilang tadi. Aku juga sama kayak kamu, yang ditinggal pergi sama pasangannya sendiri yang udah diseriusin. Bedanya, penilaianku soal perempuan jadi sama semua kayak perempuan itu. Makanya aku nganggep perempuan itu cuma mainan. Tapi nggak setelah ketemu sama kamu. Kamu beda. Mungkin karena kita sama-sama punya luka, kita sama-sama nggak terima dan takut untuk percaya lagi. Tapi kebanyakan dari hal yang sama itu membuat kita jadi cocok. Aku butuh perempuan yang bisa dipercaya, begitu juga kamu. Kita sama-sama udah kasih kepercayaan..."
"Mas," aku memotong penjelasannya. Air mataku hampir keluar. "Udah. Ini nggak bisa..."
"Kenapa? Kenapa nggak bisa? Masalah Kenan? Kamu bilang kamu cuma penasaran sama alasannya setelah itu kamu bakalan ninggalin dia. Ini udah 1 tahun dan dia juga nggak ada kabar. Nggak pantes juga kamu penasaran sama alasan dia ninggalin kamu."
"Nggak segampang itu konsepnya,"
"Ha?!! Nggak salah?! Kamu yang bikin konsep semudah itu jadi rumit."
Aku tidak membalas ucapannya.
"Ta," panggil Dika.
"Nggak sekarang. Mungkin. Yang jelas nggak sekarang." Ucapku.
"Oke. Tapi jangan tanya kalau akhirnya aku pergi lebih dulu."
"Nggak akan. Karena itu yang udah aku pikirin dari awal."
Dika langsung berdiri dan mengacak-acak rambutnya.
"Baru kali ini suka sama orang bener-bener nyiksa." Ucapnya.
Aku hanya diam. Dalam hati mengamini ucapannya. Tanpa aku sadari, aku merasa senang Dika menyukaiku tapi perasaan takutku lebih besar daripada perasaan sukaku terhadapnya dan rasanya menjadi tumpang-tindih tidak karuan.
Aku berdiri dan berjalan masuk ke ruang kerja. Dika mencoba menahanku.
"Aku tetep nunggu kamu, sebisaku."
"Aku nggak minta itu..."
"Tapi aku tetap mau kamu sekarang, nggak yang lain. Aku juga nggak akan berubah walaupun kamu udah nolak aku. Aku tetap sama kayak Dika yang selalu gangguin kamu, nelpon habis pulang kerja. Nggak akan ada yang berubah."
Aku hanya diam. Mas Dika masih menahan tanganku.
"Kamu, tetap jadi anak kecil yang selalu ingin aku lindungi. Hahaha." Ucapnya sambil mengacak-acak rambutku.
Aku melihat ke arahnya. Matanya berkaca-kaca. Tapi dia segera memalingkan wajahnya.
"Lo masuk duluan gih. Gue masih butuh udara segar di sini." Ucapnya membelakangiku.
Aku terkejut, sekaligus tidak percaya. Untuk pertama kalinya aku melihat Dika hampir menangis, apalagi karena hal semacam ini. Tapi aku tidak terlalu mengambil pusing. Aku segera masuk dan duduk di kursiku.
Tak lama kemudian, rombongan Mbak Linda kembali. Mbak Linda begitu antusias menceritakan tentang pertunjukan kembang api yang baru saja dia lihat. Aku hanya mengiyakan dan diam-diam melihat ke arah Dika yang masih berdiri di balkon.
"Itu Dika kenapa?" Tanya Mbak Seta.
"Nggak tahu mbak," jawabku.
Dan kami kembali ke tempat kerja masing-masing.
Tidak ada yang berubah, katanya. Tapi kenyatannya sejak malam itu Mas Dika tidak lagi menyapaku atau menghubungiku. Bodohnya aku merasa kehilangan.
Komentar
Posting Komentar