Langsung ke konten utama

Cerpen : 1 Tahun #3 (End)

"Ta," panggil Mbak Linda.

"Kenapa mbak?"

"Tenang ya. Aduhh. Ada yang nyari lo di bawah. Kenan." Ucap Mbak Linda.

Aku langsung berdiri dan keluar dari ruang kerja. Hari yang aku tunggu-tunggu selama 1 tahun ini sudah tiba. Kami hanya diam dan saling menatap. Beberapa detik kemudian aku menarik Kenan keluar dari kantor.

"Kenapa?" Tanyaku.

"Aku mau minta maaf atas sikapku..."

"Iya, kenapa?" Potongku segera.

"Aku nggak bisa, Ta. Aku nggak yakin sama kamu. Tapi setelah 1 tahun ini aku sadar, emang cuma kamu yang bisa ngertiin aku."

"Ha? Nggak yakin tapi kamu ngajakin aku nikah, nyiapin banyak hal?! Kenapa nggak bilang dari awal, atau nggak usahlah ngajak-ngajak nikah!"

"Maafin aku, aku janji aku bakal perbaikin semuanya. Kita mulai dari awal."

"Nggak, nggak bisa. 1 tahun ini aku kejebak sama masalah kita yang belum tuntas. Kamu nggak mikirin dampak masalah itu di aku? Cukup, aku udah denger alesan yang aku tunggu selama 1 tahun. Aku juga udah muak sama masalah ini. Kita udah selesai." Ucapku kemudian meninggalkan Kenan.

Aku pergi tapi tidak langsung masuk ke kantor melainkan pergi ke pintu belakang kantor. Bohong apabila aku tidak menangis lagi. Bohong apabila aku tidak kembali terluka. Aku tidak menangisi Kenan, melainkan diriku sendiri yang harus semenyedihkan ini.

"Ta," panggil Dika. 

Aku tertunduk tidak membalas panggilannya. Seketika juga aku kembali menangis karena mendengar suaranya. Kemudian Dika berdiri di hadapanku dan mengusap kepalaku.

"Maaf," ucapnya. "Ternyata gue nggak bisa biasa aja setelah malam itu." Lanjutnya. "Gue tahu dari Linda kalau...dia baru aja ke sini. Kenapa?" Tanyanya kemudian berjongkok menyamakan tingginya denganku.

"Dia nggak yakin nikah sama aku." Ucapku lirih.

"Serius?!!! Segampang itu dia bilang?!!! Gila emang!!!" Dika langsung berdiri dan hendak pergi. Aku menahannya, berjaga-jaga agar tidak ada masalah lain.

"Kenapa?" Tanya Dika.

Aku segera melepaskan peganganku tapi Dika langsung meraih tanganku.

"Kenapa?" Tanyanya sekali lagi.

"Aku cuma mau berdiri." Ucapku kemudian berdiri. Aku mencoba melepaskan tanganku.

"Nggak," ucap Dika. "Aku emang egois. Kamu bilang kamu cuma nunggu dia jelasin alasannya terus lupa, kan?!! Berarti aku bisa kan sekarang?" Tanyanya.

Aku tidak menjawab apa-apa.

"Aku tunggu kalau gitu." Ucapnya kemudian melepaskan tanganku.

Aku berjalan mendahuluinya untuk kembali ke kantor.

"Ta. Udah, jangan nangis, lupain dia. Rasa penasaran lu udah kebayarkan?!" Ucap Mbak Linda yang menunggu di depan ruang kerja.

Aku hanya tersenyum dan masuk ke ruang kerja. Disusul Mas Dika yang membawakanku air putih.

"Minum dulu. Tenangin dulu perasaan kamu. Nanti kita obrolin lagi kalau udah enakan." Aku hanya mengangguk. Dika membukakan penutup botolnya dan memberikan kepadaku.

Aku menatap ke arahnya, masih dengan sisa air mata yang ada di sekitar mataku.

"Aku nggak akan pergi." Ucapnya lirih.

Aku melirik ke arahnya sekilas. Dika tersenyum melihatku.

“Tenang ya, Ta. sekarang lo udah lega, kan?” Tanya mbak Linda

Aku mengangguk dan tersenyum. Setelah itu, kami kembali bekerja seperti tidak terjadi apa-apa. Sampai waktunya pulang, Dika menunggu di lobi kantor.

“Hai,” sapanya ketika melihatku.

Aku tertawa melihatnya.

“Emang lucu ya?”

“Kayak digodain sama preman di gang rasanya,”

“Emang kayak gitu ya gayanya? Emang ada yang seganteng gue premannya?”

“Nggak tahu juga, ganteng kan relatif.”

“Ya udahlah, itu nggak penting. Yang penting adalah…mau nggak pulang sama gue hari ini?” Tanya Dika sambil menaikan kedua alisnya.

“Emang nggak papa?”

“Masih ragu?”

Aku mengangkat kedua bahuku, karena tidak yakin.

“Gue nggak bisa janjiin banyak hal apalagi untuk jangka panjaaaangggg banget. Tapi satu hal, untuk saat ini, semampunya, gue bakal jagain lo dan nggak akan nyakitin lo, sedikitpun.”

Aku tersenyum tersipu. Entah kenapa tatapannya kali ini benar-benar terasa dalam.

“Mau nggak?” tanyanya sekali lagi.

“Iya deh, kasihan.”

“Kok kasihan?”

“Yaaa…gimana, udah usaha, masa nggak gue hargain sih.”

“Tulus dong….”

“Pamit kalau gitu.” Ucapku sambil berjalan.

“Bukan tulus yang nyanyi, ikhlas maksudnya.” Ucap Dika sambil mengejarku.

Aku tidak tahu ini akan menjadi akhir seperti apa, sesederhana yang Dika katakan, sebatas saat ini, aku juga akan mencoba menerima perasaanku dan melupakan rasa takutku akan kegagalan sebuah hubungan. Selain karena masa lalu kami yang sama-sama pernah terluka, sikapnya yang membuatku yakin untuk saat ini kami akan baik-baik saja dan bisa saling menyembuhkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...