"Ta," panggil Mbak Linda.
"Kenapa mbak?"
"Tenang ya. Aduhh. Ada yang nyari lo di bawah. Kenan." Ucap Mbak Linda.
Aku langsung berdiri dan keluar dari ruang kerja. Hari yang aku tunggu-tunggu selama 1 tahun ini sudah tiba. Kami hanya diam dan saling menatap. Beberapa detik kemudian aku menarik Kenan keluar dari kantor.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Aku mau minta maaf atas sikapku..."
"Iya, kenapa?" Potongku segera.
"Aku nggak bisa, Ta. Aku nggak yakin sama kamu. Tapi setelah 1 tahun ini aku sadar, emang cuma kamu yang bisa ngertiin aku."
"Ha? Nggak yakin tapi kamu ngajakin aku nikah, nyiapin banyak hal?! Kenapa nggak bilang dari awal, atau nggak usahlah ngajak-ngajak nikah!"
"Maafin aku, aku janji aku bakal perbaikin semuanya. Kita mulai dari awal."
"Nggak, nggak bisa. 1 tahun ini aku kejebak sama masalah kita yang belum tuntas. Kamu nggak mikirin dampak masalah itu di aku? Cukup, aku udah denger alesan yang aku tunggu selama 1 tahun. Aku juga udah muak sama masalah ini. Kita udah selesai." Ucapku kemudian meninggalkan Kenan.
Aku pergi tapi tidak langsung masuk ke kantor melainkan pergi ke pintu belakang kantor. Bohong apabila aku tidak menangis lagi. Bohong apabila aku tidak kembali terluka. Aku tidak menangisi Kenan, melainkan diriku sendiri yang harus semenyedihkan ini.
"Ta," panggil Dika.
Aku tertunduk tidak membalas panggilannya. Seketika juga aku kembali menangis karena mendengar suaranya. Kemudian Dika berdiri di hadapanku dan mengusap kepalaku.
"Maaf," ucapnya. "Ternyata gue nggak bisa biasa aja setelah malam itu." Lanjutnya. "Gue tahu dari Linda kalau...dia baru aja ke sini. Kenapa?" Tanyanya kemudian berjongkok menyamakan tingginya denganku.
"Dia nggak yakin nikah sama aku." Ucapku lirih.
"Serius?!!! Segampang itu dia bilang?!!! Gila emang!!!" Dika langsung berdiri dan hendak pergi. Aku menahannya, berjaga-jaga agar tidak ada masalah lain.
"Kenapa?" Tanya Dika.
Aku segera melepaskan peganganku tapi Dika langsung meraih tanganku.
"Kenapa?" Tanyanya sekali lagi.
"Aku cuma mau berdiri." Ucapku kemudian berdiri. Aku mencoba melepaskan tanganku.
"Nggak," ucap Dika. "Aku emang egois. Kamu bilang kamu cuma nunggu dia jelasin alasannya terus lupa, kan?!! Berarti aku bisa kan sekarang?" Tanyanya.
Aku tidak menjawab apa-apa.
"Aku tunggu kalau gitu." Ucapnya kemudian melepaskan tanganku.
Aku berjalan mendahuluinya untuk kembali ke kantor.
"Ta. Udah, jangan nangis, lupain dia. Rasa penasaran lu udah kebayarkan?!" Ucap Mbak Linda yang menunggu di depan ruang kerja.
Aku hanya tersenyum dan masuk ke ruang kerja. Disusul Mas Dika yang membawakanku air putih.
"Minum dulu. Tenangin dulu perasaan kamu. Nanti kita obrolin lagi kalau udah enakan." Aku hanya mengangguk. Dika membukakan penutup botolnya dan memberikan kepadaku.
Aku menatap ke arahnya, masih dengan sisa air mata yang ada di sekitar mataku.
"Aku nggak akan pergi." Ucapnya lirih.
Aku melirik ke arahnya sekilas. Dika tersenyum melihatku.
“Tenang ya, Ta. sekarang lo udah lega, kan?” Tanya mbak Linda
Aku mengangguk dan tersenyum. Setelah itu, kami kembali bekerja seperti tidak terjadi apa-apa. Sampai waktunya pulang, Dika menunggu di lobi kantor.
“Hai,” sapanya ketika melihatku.
Aku tertawa melihatnya.
“Emang lucu ya?”
“Kayak digodain sama preman di gang rasanya,”
“Emang kayak gitu ya gayanya? Emang ada yang seganteng gue premannya?”
“Nggak tahu juga, ganteng kan relatif.”
“Ya udahlah, itu nggak penting. Yang penting adalah…mau nggak pulang sama gue hari ini?” Tanya Dika sambil menaikan kedua alisnya.
“Emang nggak papa?”
“Masih ragu?”
Aku mengangkat kedua bahuku, karena tidak yakin.
“Gue nggak bisa janjiin banyak hal apalagi untuk jangka panjaaaangggg banget. Tapi satu hal, untuk saat ini, semampunya, gue bakal jagain lo dan nggak akan nyakitin lo, sedikitpun.”
Aku tersenyum tersipu. Entah kenapa tatapannya kali ini benar-benar terasa dalam.
“Mau nggak?” tanyanya sekali lagi.
“Iya deh, kasihan.”
“Kok kasihan?”
“Yaaa…gimana, udah usaha, masa nggak gue hargain sih.”
“Tulus dong….”
“Pamit kalau gitu.” Ucapku sambil berjalan.
“Bukan tulus yang nyanyi, ikhlas maksudnya.” Ucap Dika sambil mengejarku.
Aku tidak tahu ini akan menjadi akhir seperti apa, sesederhana yang Dika katakan, sebatas saat ini, aku juga akan mencoba menerima perasaanku dan melupakan rasa takutku akan kegagalan sebuah hubungan. Selain karena masa lalu kami yang sama-sama pernah terluka, sikapnya yang membuatku yakin untuk saat ini kami akan baik-baik saja dan bisa saling menyembuhkan.
Komentar
Posting Komentar