Rasanya kaku mau nulis, bahkan gue sendiri masih bingung mau nulis apa. Tapi dalam diri gue terus kepengen nulis. Itu kenapa judulnya Ketika Bangkit dari Kubur, karena gue merasa mati suri dan sekarang lagi berusaha untuk bangun nulis lagi.
Sebenernya gue nggak bener-bener berhenti nulis, gue masih nulis cerita pendek di buku tulis. Selain itu gue juga nulis jurnal untuk evaluasi diri gue. Karena memang beberapa bulan terakhir ini gue lagi sibuk main sama diri gue sendiri.
Detik-detik menuju 26 makin deket. Banyak hal yang terjadi dalam hidup gue belakangan ini, baik yang berkaitan langsung dengan gue maupun tidak langsung. Tapi yang jelas di bulan Juli ini, gue merasakan ada beberapa hal yang lumayan berisi aja, makanya berat. Makin bertambah usia makin banyak aja tuntutan soal masa depan. Padahal yang ngejalani gue sendiri, pada akhirnya mereka juga akan ngurusin hidup mereka masing-masing. Dan (amit-amit) kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, yang repot juga gue sendiri, mungkin akan ada beberapa orang yang ngebantu, tapi kebanyakan dari meraka adalah bukan orang yang memburu-buru atau mempertanyakan, meributkan perihal masa depan gue. Agak…menyebalkan memang.
Belum lagi, kebiasaan gue yang…sebenernya gue juga nggak tahu kenapa gue mau repot untuk hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan gue. Contoh paling baru aja, entah ide dari mana, gue sok-sokan menawarkan mau bantu rekap presensi, yang mana gue nggak ada dijabatan itu sebagai pengurus. Ada juga pertanyaan kenapa harus gue, ketika ada salah satu orang yang bermasalah, gue berasa harus menjadi penengah dan mendamaikan mereka. Karena mereka cerita sama gue dari sudut pandang mereka masing-masing.
Memang, ketika gue berhasil menyelesaikan masalah itu rasanya seneng, karena setidaknya lingkungan sekitar gue nyaman, nggak ada acara diem-dieman, nggak ada canggung, nggak ada rasa nggak enak untuk ngomong. Tapi, yang gue benci dari hal itu adalah tanpa sadar ketika gue gagal dan bingung mencari solusi dari masalah itu, gue akan hancur sendiri, masalahnya terasa semakin membesar dan seolah-olah itu karena kegagalan gue.
Sampai akhirnya gue dititik ini, melihat satu persatu orang di sekitar gue mulai memiliki konflik atau bahkan sedang membuat konflik baru. Gue memilih menyerah dan bilang ke diri gue sendiri bahwa, “Cukup lakuin apa yang bisa lo lakuin. Sisanya, kalau emang terlanjur sampai ke lo, pendem sendiri aja. Kecuali masalah itu memang berkaitan langsung sama lo.”
Gue nggak tahu itu akan berhasil atau nggak. Gue nggak tahu ini memang sebuah problem yang datang dalam sesi hidup gue atau sekedar mampir karena PMS. Tapi apapun itu alasannya, ini cukup ganggu. Sama halnya kayak anjing tetangga gue yang tengah malam gonggong nggak jelas di samping rumah. Emang beneran anjing(!)
Komentar
Posting Komentar