The real obrolan tengah malam, karena gue nulis part ini pukul 00.10 waktu indonesia bercerita. Udah sebulan lebih ternyata gue nggak post di sini. Terakhir ngomongin usia 26 tahun, yang seharusnya itu rilis di bulan Juli malah mundur di bulan September. Selama sebulan itu gue juga nggak ada aktivitas nulis yang serius, karena kebetulan dunia gue lagi sibuk sama banyak hal dan jadi lebih sering ngerasa capek aja.
Ada banyak hal yang terjadi pastinya dan kayaknya nggak akan gue ceritakan secara detail juga. Mungkin gue Cuma akan membahas tipis-tipis hikmah yang gue dapat dari semua kejadian itu.
Lagi-lagi perihal komitmen, itu kenapa gue kasih judul “Kalau Masih Mau Lanjut...” karena gue ngerasa ini bukan pertama atau kedua kalinya gue timbul tenggal dari blog ini. Bahkan pernah gue bikin postingan kembali, tapi akhirnya ngilang lagi. Pernah juga gue menjadwalkan postingan tapi berhenti karena gue yang malas nulis lagi. Gue rasa dalam hal apapun kalau nurutin ego mulu yaaa gitu jadinya, lebih banyak nggak konsistennya, akan menimbulkan masalah baru, kalau itu berhubungan dengan orang lain tentu saja Cuma bikin salah paham.
Seperti yang gue singgung juga di Ketika Bangkit dari Kubur, sejak saat itu gue mulai belajar untuk mengurangi kepedulian gue dengan orang di sekitar gue. Mungkin akan terdengar jahat kalau nggak gue lanjutkan dengan penjelasan alasan dibalik itu. Waktu itu gue merasa selalu terikat dengan masalah orang-orang di sekitar gue, pada dasarnya mereka memang sebatas membagi cerita nggak meminta untuk diselesaikan, tapi perkara menyelesaikan itu datang dari pikiran gue sendiri. Juga perihal gue yang merasa hal yang terjadi dalam waktu itu nggak adil, karena ketika gue memiliki masalah gue justru bingung mau lari ke mana, padahal ada beberapa orang yang sangat-sangat bersedia mendengarkan bahkan membantu gue. Hanya saja, waktu itu gue hanya terpaku dengan satu orang dan berharap besar dia yang dengerin keluhan gue. Itu dia, kesalahan yang sering sekali gue ulang, bahkan sering juga diingatkan oleh teman gue yang lain. Pada akhirnya memiliki relasi yang secukupnya itu memang menyehatkan.
Begitu juga perkara kehilangan yang sempat gue alami tahun ini, Cuma mau ketawa aja karena memang bisa sebodoh itu gue di 25 tahun, padahal udah tua juga tapi masih aja nggak pakai logikanya. Bangkit perlahan dari kejadian itu dan akhirnya juga sampai ke pertemuan-pertemuan baru yang lain. Kekhawatiran yang gue buat sendiri di kepala yang akhirnya membuat semuanya terasa lebih menyakitkan dan berat, padahal kenyataanya yaa...berat dikit, masih kuat kok. Mungkin itu juga alasan ada kalimat yang mengatakan (kurang lebih) “Jangan menyukai pikiranmu sendiri” yaa...penggambaran yang sesuai, kebanyakan ketika orang merasakan perasaan suka dia akan buta, fokusnya hanya ke objek yang dia suka, semua perasaan akan cenderung beralasan karena objek itu. Dalam hal pikiran sendiri, menurut gue, orang yang terlalu menyukai pikirannya sendiri dia hanya akan melihat semua hal dari sudut pandangnya sendiri, nggak peduli kenyataan atau penjelasan orang lain. Contoh yang pernah gue alami adalah ketika gue merasa orang paling peka terhadap sekitar gue. Ini pandangan gue waktu itu, salah satu temen gue tiba-tiba diem, padahal sebelumnya kami sempat mengobrol. Gue berpikir ada kalimat yang membuat dia marah atau kecewa, sehingga dia diem ke gue. Raut wajahnya dan gelagatnya waktu itu sangat mendukung pikiran gue, saat itu perasaan gue nggak terima karena kenapa dia nggak terus terang aja kalau ada kalimat yang menyakitkan menurut dia. Beberapa hari kemudian gue akhirnya memberanikan diri untuk ngobrol sama dia mencoba meluruskan kejadian. Dia Cuma bilang, “gue nggak marah kok, gue lagi capek aja waktu itu. Gue diem karena takut kalau omongan gue nyakitin orang lain.” Anehnya reaksi gue bukannya lega malah makin marah, karena menurut gue itu Cuma alasan dia aja. Saking percayanya gue sama pikiran gue sendiri, gue menutup telinga tentang perasaan dan pikiran dia, yang jelas-jelas milik dia. Pelan-pelan gue merubah kebiasaan itu, walaupun susah juga. Masih sesekali gue ulangi lagi kesalahan yang sama, baru beberapa hari kemudian gue sadar dan mencoba pelan-pelan menerima dan merunut semuanya satu persatu.
Dann...pertemuan tak terduga yang gue alami juga banyak memberikan pelajaran baru buat gue. Untuk pertama kalinya perdebatan dalam diri ini, gue putusan begitu bijak. Pada dasarnya manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, yang gampangnya manusia nggak bisa hidup sendiri. Bahkan dalam Al-qur’an pun juga dijelaskan bahwa setiap makhluk memiliki pasangannya. Itu cukup menggambarkan bahwa sendiri itu nggak penuh. Mungkin lo bisa melakukan banyak hal sendirian, tapi pasti ada satu bagian yang akan dirasa kurang. Dan yang gue pahami sekarang adalah hidup itu hampir sama kayak judi, kalau lo nggak berani lempar dadunya ya nggak akan ada yang berubah. Kalau lo nggak berani ambil risiko, nggak mau berusaha, ya hidup lo Cuma gitu-gitu aja. Karena kita makhluk sosial, makanya kita nggak bisa hidup Cuma dengan pikiran dan ego kita sendiri, adakalanya untuk keselamatan sebuah relasi memang harus ada yang mengalah. Perkara ngalah aja untuk orang yang belum paham konsep sebuah relasi, bakalan susah, berat banget, karena dalam pikirannya dia yang merasa paling dirugikan.
Tapi, bagi orang yang bisa memahami konsep relasi tentu itu menjadi senjata paling aman untuk menyelamatkan sebuah relasi. Ditambah lagi bisa mengesampingkan ego dan nafsu, maka cara pandangnya akan lebih luas lagi, kemungkinan-kemungkinannya juga semakin banyak, lebih logis. Hampir saja gue memutus sebuah relasi dalam hidup gue hanya karena ego gue, karena pikiran gue sendiri yang menghakimi kejadian itu. Alhamdulillah-nya, gue masih diberi kesempatan kedua untuk berubah dan masih dengan relasi itu. Dan dalam kepala gue sekarang apapun yang terjadi dalam relasi itu adalah tanggung jawab bersama. Gue juga mulai memperpendek rencana, pasrah dengan apa yang akan terjadi, setidaknya untuk satu hari itu gue berusaha mencoba lebih baik dan bersikap baik. Karena gue percaya skenario terbaik itu udah ada, tinggal nunggu waktu mainnya.
Komentar
Posting Komentar