Langsung ke konten utama

Minggu

Mungkin biar lebih seru, sambil puter lagu ini deh.

Walaupun konteksnya beda ya, tapi ketidakberuntungan di hari ini bisa terwakilkan lewat kata SIAL-nya [punten].

Sebelum cerita soal hari Minggu, gue mau flashback soal minggu ini. Minggu ini cukup penuh banget, sampai gue akhirnya bingung ngerasain semua perasaan yang hadir. Mau nangis nggak bisa, secara logika udah capek tapi masih bisa on terus, kejadian-kejadian tak terduga mulai dari yang berkaitan dengan gue sampai yang sekedar berdekatan dengan gue, bermunculan. Mood beberapa oknum yang gue juga nggak bisa salahin tapi ini kelewatan sih. Dan mode hahahihi yang harus gue perlihatkan biar otak gue juga percaya kalau gue bisa melewati ini. Untung otak gue masih di kepala, jadi masih bisa dipake, walaupun masih banyak ngelag-nya.

Lanjut dipenghujung minggu ini. Pagi di hari Minggu ini, diawali dengan hujan gerimis yang bikin males bangun. Ya, walaupun habis subuh gue nggak tidur tapi jam 6 gue akhirnya tidur juga. Bibit malas beraktivitas mulai tumbuh, padahal ada jadwal bersih-bersih sama anak-anak masjid. Ada tawaran untuk ikut nengokin ponakan yang sekolah di boarding school. Juga pesan whatsapp dari temen gue yang mau dateng buat pamitan, karena besok dia berangkat pindahan. Perkara strikaan juga udah numpuk. Belum lagi kerjaan yang udah deadline.

Yahh, kalau boleh jujur gue enggan melakukan itu semua. Yang gue mau cuma, tidur aja. Tapi nggak semudah itu, karena nyokap bilang, "lah acaranya kan pagi, bentar juga, kamu masih bisa istirahat sepulang acara itu." gue yang masih ingin menjadi anaknya, bisa apa?!...Bisa ngeyelah, gue memutuskan untuk ikut abang gue nengokin ponakan, dan itu menjadi alasan untuk gue nggak berangkat bersih-bersih dan nggak ketemu temen gue [punten].

Dan ketidakberuntungan itu, dimulai. Pas persiapan pergi gue sengaja sarapan buah, tapi ternyata isinya ulet semua. Akhirnya gue makan nasi, ternyata sayurnya pedes, cukup ngefek ke perut dan saluran yang baru bermasalah. Karena buru-buru, gue lupa nggak pakai jarum pentul di jilbab gue, alhasil tiap beberapa detik gue harus narik jilbab kebelakang mulu. Lanjut pas berangkat, si abang ini, ngide untuk lewat rute baru, ceritanya mau bandingin kira-kira cepet mana sama rute biasanya. Bermodalkan Maps dan kepercayaan penuh, kami berhasil NYASAR. Kita cuma bisa ketawa aja karena arahan dari Maps itu masuk ke plosok-plosok yang mana jalannya naik turun dan basah karena abis hujan. Alhasil cuma muter-muter doang 1 jam, padahal kalau lewat rute biasa, kami udah sampai ke tujuan. Belum lagi di tengah-tengah perjalanan kami nyari jalan raya, harus ngelewatin tengah-tengah hajatan, saking paniknya juga nggak lihat ada pejalan kaki yang hampir kena cipratan genangan air yang kami lewatin. Yahhh, mau emosi buat apa juga, akhirnya gue sama abang cuma ketawa dan misuh sendiri. Lagian, setelah ditelisik, abang gue juga yang salah karena ambil rute buat pemotor bukan pemobil [cry].

Untungnya, sampai di sana semua berjalan aman sampai pulang. Gue melanjutkan dengan nelpon temen gue, karena dia bawain cafein buat gue dan buah. Itung-itung gue menebus kesalahan yang gue sengaja itu dan yahh salah satu proses perilisan uneg-uneg juga, karena kurang lebih 1 jam juga kita cerita banyak. Gue kira udah kelar ya sampai di rumah. Ternyata perkara deadline tadi menjadi masalah selanjutnya. Satu-persatu kerjaan bermunculan dan bisa dikatakan 2 dari beberapa kerjaan minta cepet semua. Alhasil, strategi NGENOL mulai dipakai lagi. Melihat kondisi Senin yang kadang rese-nya nggak kira-kira, gue memutuskan untuk ngalah aja dahh, gue yang akan berusaha berangkat lebih awal dan ngerjain deadline itu. Walaupun dalam hati, "Ya Allah, ini masih minggu, harusnya aku masih libur."

Sial, ini bukan hariku, sungguh malang hariku, namun ku harap hidupku indah.

Cukup untuk ketidakberuntungan hari ini, gue percaya senin makin beda sihhh. Makin baik, maksudnya [punten] sekalian terima kasih kepada orang-orang yang mau ngebaca cerita random, nggak jelas ini, terima kasih juga yang sudah meninggalkan jejak. Semoga nggak pernah bosen dan...balik lagi buat baca ya. [laugh]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...