Langsung ke konten utama

Surat Terbuka : Ucapan Selamat

Tujuan penulisan surat ini untuk perilisan perasaan yang gue rasakan saat ini. Mohon maaf apabila ada kata/kalimat yang tidak berkenan, tidak sesuai, belibet.

3 November 2024, menjadi hari yang istimewa buat gue terutama buat oknum yang akhirnya nikah ini. Sekali lagi, selamat atas pernikahannya, doa terbaik pastinya, dan semoga doa-doa yang lu dan suami semogakan, bisa terkabul. 

Jangan tanya perasaan gue, karena semua campur aduk dihari ini. Gue yang mikir kalau gue nggak sedih karena beneran ditinggal dia, ternyata baru kerasa sekarang. Mungkin bukan karena perasaannya baru dateng sekarang, tapi kemarin-kemarin gue penuh dengan penyangkalan, gue yang selalu meyakinkan bahwa 'ini orang' cuma ambil cuti doang buat nikah. Tapi ternyata nggaklah, dia beneran resign dan gue harus terima itu. Mungkin pas hari pertama kedua biasa aja, tapi makin banyak orang yang nanyain, mengkasihani gue, itu kayak ngelopekin koreng, bikin gue sadar ternyata fakta kalau dia resign itu tetep bikin gue sakit. Tapi nggak papa dan ya udah, walaupun manusia itu nggak bisa tanpa manusia lain, gue akan mencoba beradaptasi dengan tanpa adanya wujud nyata oknum yang selalu jadi partner jajan, sambat gue selama kerja. Big thanks and big hug. Maaf karena nggak bisa melakukan banyak hal yang menyenangkan.

Itu juga mungkin yang ngebuat hari-hari di minggu ini menjadi... Gue sendiri masih belum bisa ngejelasinnya. Sedih tapi nggak sampai nangis, gue buat-buat mungkin, seolah olah baik-baik aja, gue bisa mengatasi semuanya. Tapi ternyata ada banyak kekhawatiran yang sengaja gue tutup. Salah satunya ada kepopuleran 'ini anak' udah setara seleb ibu kota, jadi banyak yang kecewa/sedih atas hal ini. Dia juga yang menurut gue jadi ikon andalan di tempat kerja. Awalnya gue nggak masalah, tapi semakin sering denger orang mengeluhkan itu, gue jadi insecure, gue kembali mempertanyakan, "emang gue nggak bisa ya sama kayak dia. Gue juga belajar dari dia loh, emang masih kurang ya." Jadi kerasa berat aja karena dalam pikiran gue, gue harus bisa kayak dia, gue harus serba bisa, gue harus bisa nanganin semua keriuhan yang ada. Padahal nggak ada yang mengharuskan, tapi pikiran gue yang keburu nyimpulin gitu. Sampai energi gue habis sendiri. Sampai ngebuat gue membatasi diri untuk beberapa hal, yang mungkin jadinya terlihat berlebihan. Emosinya juga jadi naik turun, hari-harinya kerasa jadi sendu mulu. Happy nya cuma depan orang, pas sendiri jadi kayak boneka nitrogen yang salah satu bagiannya nggak kena nitrogen, mleyot sebelah.

Tapi sore ini, tepatnya ketika gue akhirnya berani nulis ini, gue sadar penting sadar dan menerima ya ini, biar pas ngejalaninya lebih lega. Rasa sedih gue ini hal yang wajar dan harusnya gue terima sejak awal dan gue nggak papain. Rasa sedih gue ini juga kecampuran ekspektasi yang gue masukkan sendiri. Yang kenyataannya dalam kehidupan pasti akan ada banyak ketidaksesuaian, kemungkinan-kemungkinan yang nggak bisa kita hindari, hal-hal yang tidak terduga. Yang harusnya, selama masih ada jalan keluar itu nggak masalah. Seperti resignya temen gue ini mungkin memang ngebuat wujudnya nggak bisa gue lihat dengan mata. Tapi selama tower operator internet yang dia pakai masih ada, dia nggak lupa beli kuota, HP masih nyala, pastinya masih bisa komunikasi.
Jadi, kepada sahabat gue yang lagi seneng-senengnya, gue akan berjalan dengan cara gue sendiri. Awalnya gue berniat untuk menjadi lo, tapi gue tahu itu nggak mudah dan gue nggak bisa. Gue akan bekerja keras dengan cara yang membuat gue nyaman. Dan semoga lo sendiri menjalani kehidupan baru lo dengan senang. Kita tetep jaga komunikasi ya, minimal seminggu sekali lah kirim kabar (kalau kirim salam lewat radio).
Sekali lagi selamat, walaupun udah berkali kali gue ucapkan, di WA story, IG story, dalam surat yang gue tulis, dan sekarang di sini, karena memang cuma itu kata yang tepat untuk menutup sekaligus membuka hal ini. Semoga saja dikehidupan kedua, kita nggak keras kepala, bisa lebih menikmati hidup dan menghargai waktu. Bahagia selalu cece ❤ gue selalu menunggu waktu bisa ketemu sama lo lagi 😊


Komentar

  1. I feel you, aku pernah di posisi yg sama persis. Dan ternyata, kami berdua (sangat) baik baik saja menjalin komunikasi (online). Pertemuan tatap muka setahun sekali mjd sangat berharga. Bahkan kami masih pny rencana jd tetangga. Hehe. Aku berharap hal baik ini jg bisa terjadi pd kalian. ☺️

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...