Apalagi di usia 25 tahun ke atas. Hidup lo mulai diributin soal karis, pasangan, belum lagi pencapaian-pencapaian lainnya. Kelihatannya cuma 3 poin, tapi percayalah, 3 poin itu (yang tentu bisa nambah) akan ngelahirin masalah-masalah yang bikin kepala lo meledak.
Kuncinya IBADAH. Itu bener. Ibadah yang kita yakini dan kita lakukan dengan niat yang tulus hanya ditujukan kepada Sang Pencipta. Doa dan usaha yang kita lakukan nggak akan nemuin kata SIA-SIA, walaupun mungkin prosesnya nggak cepat, nggak gampang. Tapi itulah seni bertahan hidup, TERIMA-HADAPI-NIKMATI. Menurut gue ketika lo bisa melakukan hal itu, semua akan terasa jauh lebih...ringan. Sekalipun kita jalan di atas pasir, di atas kerikil tajam, berat dan darahnya bisa aja nggak kerasa, karena kita terlanjur menikmati tiap perjalanannya.
Yang perlu kita sadari lagi adalah kita hidup di dunia yang terasa kejam ini nggak sendirian. Orang lain di luar sana, di belahan negara lain, juga mengalami masalah. Kalau nggak kelihatan, itu berarti mereka cukup pintar mensikapi masalahnya. Tapi bukan berarti kita tidak boleh mengekpresikan perasaan kita atas masalah yang kita alami. Kita harus mengekspresikan bentuk perasaain itu di tempat yang tepat, dimana perasaan kita diterima, tanpa dinilai, dihakimi. Cukup didengar tanpa ada komentar, karena nggak semua tempat seperti itu, nggak semua orang berpikiran seperti itu. Banyak alasannya, karena orang lain juga mempunyai masalah sendiri, karena mungkin mereka bingung gimana mensikapinya, karena mereka...mungkin sudah putus asa atas hidupnya. Tidak semua orang akan peduli dan mau mengerti situasi kita, karena pada dasarnya tiap manusia ingin dimengerti.
Gimana dengan lari dari masalah kita?
Menurut gue nggak masalah untuk lari dari masalah. LARI SEJENAK. Sampai akhirnya kita bisa lihat masalah kita jauh lebih kecil dan terlihat mudah untuk kita lawan.
Gue nulis ini ketika gue juga sedang dalam usaha menghadapi masalah gue. Beberapa bulan yang lalu partner kerja gue resign. Kami udah cukup lama kerja bareng dan udah tahu tek-tokan soal kerjaan. Selain itu kita sering hangout untuk ngelepasin stress sehari kerja. Setelah dia resign gue ngerasa kosong, kesepian, beban kerjaan jadi kerasa jauh lebih berat, dan itu bikin gue nggak bisa menikmati suasana kerja dan orang-orang di dalamnya. Semua serba salah dan gue cuma marah dan sedih aja bawaannya.
Berkali-kali gue bilang ke diri gue sendiri bahwa gue bisa ngelewatin ini, karena pada dasarnya hidup itu pilihan. Jadi gue bisa milih akan gue bawa kemana arah perasaan gue, bagaimana suasana kerja gue. Sayangnya gue nggak ada tenaga untuk mewujudkan hal itu. Gue pengen suasana kerja gue tetap menyenangkan karena sejujurnya ini adalah pekerjaan yang gue inginkan dari lulus SMA dulu. Gue pengen tetap akrab dan baik-baik aja sama rekan kerja gue yang lain, karena mereka juga sangat membantu gue dalam pekerjaan ini. Sayangnya perasaan kehilangan, ketidakterimaan, kecewa, sedih, itu dateng dengan energi yang lebih besar, berhasil ngebuat gue putus asa dan memilih lari.
Gue yang sempat lepas dari kopi, mulai addicted lagi. Bahkan pernah dalam satu minggu gue pernah 3 hari berturut-turut ngopi, yang mana buat gue penyandang asam lambung dengan pola makan yang masih berantakan dan tidak sehat, itu berlebihan.
Selama gue dalam misi pelarian ini, gue hanya melakukan hal-hal yang menyenangkan dan membuat gue nyaman. Bisa menjadi diri gue sendiri dengan perasaan yang apa adanya. Perasaan marah, sedih yang selama ini gue tahan demi kenyamanan orang lain di sekitar gue. Gue juga melakukan perilisan emosi dengan menulis, membuka diri gue lagi, mencoba menerima kenyataan yang mungkin setengahnya masih belum bisa gue terima.
Keluarga, temen deket, musik, menjadi bahan bakar gue untuk bertahan dan bertahan lagi. Bisa ngerasain sensasi asam lambung naik tiap pagi hari, walaupun sakit, tapi gue seneng bisa ngerasain itu, karena berarti gue masih hidup.
Pesan gue untuk semua masalah kali ini, yang nemuin gue di penghujung tahun 2024. Gue nggak akan semudah itu nyerah. Gue pernah ngelewati yang lebih pahit sebelumnya (karena untuk pertama kalinya) jadi jangan kira pelarian gue kali ini karena gue nyerah. Gue lagi istirahat untuk ngumpulin energi dan keberanian gue untuk memperjuangkan pilihan hidup gue.
Komentar
Posting Komentar