Langsung ke konten utama

Sepenggal Cerita #1

"1, 2, 3." Seperti dugaanku, satria akan muncul dengan sepeda gunung yang legend itu.

Pukul setengah lima sore tadi, dia mengirimiku pesan bahwa ia kembali bertengkar dengan pasangannya. Hubungan mereka baru saja berjalan kurang lebih 4 bulan.

"Huh," Ia langsung duduk bersandar dengan wajah lelahnya. Lelah secara fisik, karena hari ini ia bekerja di lapangan. Lelah secara batinnya, karena pasangannya yang merajuk.

"Gilak, baru pertama kali pacaran, gini amat. Emang paling bener nggak usah jatuh cinta ya." Ucapnya kemudian mengambil rokok dan korek api, kebiasaan kebanyakan laki-laki kalau stress.

"Ngomonglah, Yu. Diem aja." Ucapnya kemudian karena aku tidak segera menanggapi.

"Hahaha, lah gue mau bilang apa?! Sabar? Udah nggak kedengeran juga kan di telinga lo?" Ucapku.

"Emang semua cewek gitu ya, Yu? Marah nggak jelas, tiba-tiba ngilang."

"Nggak tahu juga, gue belum pernah neliti."

"Lo gitu nggak?"

Aku diam sejenak, mencoba mencari jawaban aman.
"Emmm, secara logika sebenernya marah dan ngilangnya cewek itu jelas dan nggak tiba-tiba. Konteksnya cewek yang udah dewasa ya. Bisa aja dia marah-marah karena lo nggak terlihat seperti biasanya dan lo nggak ngejelasin apa yang sedang terjadi di dunia lo. Ditambah lagi mungkin dia lagi PMS, jadi hal sepele bisa aja gede. Ngilangnya itu antara dia mau meredam marahnya sendiri atau emang mancing buat dicariin."

"Lo gitu nggak?" Tanya satria, mengulangi pertanyaan sebelumnya.

"Hahaha, ya gue nggak tahu. Hal semacam itu terjadi nggak disemua relasi. Dan sekarang gue juga lagi nggak disebuah relasi yang memungkinkan hal itu terjadi. Mungkin sekarang gue bisa aja bilang nggak, tapi ketika gue dalam relasi itu, bisa aja gue ngelakuin hal yang sama atau mungkin lebih parah."

"Huh," Satria mengeluarkan kepulan asap rokok yang ia hisab. "Terus gue harus gimana?" Tanya satria, pasrah.

"Cuma sabar sih Sat menurut gue. Klise tapi ya emang itu kuncinya. Apapun masalahnya, terlepas itu laki apa perempuan, kalau ngadepin masalah ya sabar. Semua perlu waktu, karena menurut gue, masalah yang timbul itu sebenernya nggak cuma soal dia ke lu, tapi dia ke dirinya sendiri juga. Jadi, sebelum dia damai sama lu, dia perlu waktu buat damai sama keruwetan dalam dirinya sendiri. Damai sama pikirannya, sama hatinya, sampai akhirnya bisa ambil keputusan yang menurut dia tepat."

"Berarti kalau kasus gue, dengan dia nggak bisa dihubungin 3 hari ini adalah keputusan yang tepat menurut dia?"

"Sekali lagi, ini menurut gue. Selama lo bisa memastikan bahwa dia nggak ngelakuin hal-hal yang menyalahi sebuah hubungan, bisa dikatakan 3 hari itu adalah waktu yang ia butuhkan untuk berdamai atau bisa juga dia pengen lihat sejauh apa usaha lo dalam hubungan ini."

"Terus?"

"Ya lo gimana, mau usaha apa udahan?"

"Capek gue,"

"Oke, terus menurut lo capek itu istirahat atau berhenti?"

"Berhenti buat istirahat nggak, sih?"

"Boleh, berarti lo nggak akan ninggalin dia, kan?!"

Satria terdiam, dia kembali bermain dengan asap rokoknya.

"Gue tau ini baru pertama kalinya. Semua serba pertama buat lo, perasaan seneng waktu pertama ketemu sampai perasaan capek ngadepin sifat dia yang makin lama makin kelihatan. Satu hal yang perlu lo tahu, cewek kalau pelan-pelan nunjukin sifat aslinya itu berarti dia berhasil nyaman sama lo, tapi tinggal lo nya kuat apa nggak."

"Saran ajalah, Yu. Udah nggak bisa mikir gue."

"Kalau lo mau usaha, lo samperin aja, kasih tahu dulu lewat semua platform yang dia punya. Kalau lo mau ambil jeda, ya jelasin aja semuanya, apapun yang terjadi, minta maaf dan bilang aja kalau lo masih nungguin dia."

Satria terdiam. Ia berhenti menghisap rokoknya, padahal masih setengah.

"Jeda itu juga perlu kok, Sat. Yang jadi masalah atau nggak lumrah itu lamanya." Tambahku. "Sama, sorry sorry aja nih. Dalam hubungan pasangan gini, biasanya tergantung keputusan laki-lakinya. Jadi, ati-ati lo ambil keputusnnya."

"Ini harusnya gue buka jasa aja nggak sih, rugi gue kalau 1 jam ngomong, mikir, tapi nggak dibayar."

"Hahaha, itung-itung ngamal, lo jarang kan dapet pahala."

"Ehh, sembarangan. Cuma Allah yang tahu."

Obrolan serius itu beralih menjadi sedikit lebih santai. Capek juga 1 jam serius untuk aku yang suka bercanda terus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...