"1, 2, 3." Seperti dugaanku, satria akan muncul dengan sepeda gunung yang legend itu.
Pukul setengah lima sore tadi, dia mengirimiku pesan bahwa ia kembali bertengkar dengan pasangannya. Hubungan mereka baru saja berjalan kurang lebih 4 bulan.
"Huh," Ia langsung duduk bersandar dengan wajah lelahnya. Lelah secara fisik, karena hari ini ia bekerja di lapangan. Lelah secara batinnya, karena pasangannya yang merajuk.
"Gilak, baru pertama kali pacaran, gini amat. Emang paling bener nggak usah jatuh cinta ya." Ucapnya kemudian mengambil rokok dan korek api, kebiasaan kebanyakan laki-laki kalau stress.
"Ngomonglah, Yu. Diem aja." Ucapnya kemudian karena aku tidak segera menanggapi.
"Hahaha, lah gue mau bilang apa?! Sabar? Udah nggak kedengeran juga kan di telinga lo?" Ucapku.
"Emang semua cewek gitu ya, Yu? Marah nggak jelas, tiba-tiba ngilang."
"Nggak tahu juga, gue belum pernah neliti."
"Lo gitu nggak?"
Aku diam sejenak, mencoba mencari jawaban aman.
"Emmm, secara logika sebenernya marah dan ngilangnya cewek itu jelas dan nggak tiba-tiba. Konteksnya cewek yang udah dewasa ya. Bisa aja dia marah-marah karena lo nggak terlihat seperti biasanya dan lo nggak ngejelasin apa yang sedang terjadi di dunia lo. Ditambah lagi mungkin dia lagi PMS, jadi hal sepele bisa aja gede. Ngilangnya itu antara dia mau meredam marahnya sendiri atau emang mancing buat dicariin."
"Lo gitu nggak?" Tanya satria, mengulangi pertanyaan sebelumnya.
"Hahaha, ya gue nggak tahu. Hal semacam itu terjadi nggak disemua relasi. Dan sekarang gue juga lagi nggak disebuah relasi yang memungkinkan hal itu terjadi. Mungkin sekarang gue bisa aja bilang nggak, tapi ketika gue dalam relasi itu, bisa aja gue ngelakuin hal yang sama atau mungkin lebih parah."
"Huh," Satria mengeluarkan kepulan asap rokok yang ia hisab. "Terus gue harus gimana?" Tanya satria, pasrah.
"Cuma sabar sih Sat menurut gue. Klise tapi ya emang itu kuncinya. Apapun masalahnya, terlepas itu laki apa perempuan, kalau ngadepin masalah ya sabar. Semua perlu waktu, karena menurut gue, masalah yang timbul itu sebenernya nggak cuma soal dia ke lu, tapi dia ke dirinya sendiri juga. Jadi, sebelum dia damai sama lu, dia perlu waktu buat damai sama keruwetan dalam dirinya sendiri. Damai sama pikirannya, sama hatinya, sampai akhirnya bisa ambil keputusan yang menurut dia tepat."
"Berarti kalau kasus gue, dengan dia nggak bisa dihubungin 3 hari ini adalah keputusan yang tepat menurut dia?"
"Sekali lagi, ini menurut gue. Selama lo bisa memastikan bahwa dia nggak ngelakuin hal-hal yang menyalahi sebuah hubungan, bisa dikatakan 3 hari itu adalah waktu yang ia butuhkan untuk berdamai atau bisa juga dia pengen lihat sejauh apa usaha lo dalam hubungan ini."
"Terus?"
"Ya lo gimana, mau usaha apa udahan?"
"Capek gue,"
"Oke, terus menurut lo capek itu istirahat atau berhenti?"
"Berhenti buat istirahat nggak, sih?"
"Boleh, berarti lo nggak akan ninggalin dia, kan?!"
Satria terdiam, dia kembali bermain dengan asap rokoknya.
"Gue tau ini baru pertama kalinya. Semua serba pertama buat lo, perasaan seneng waktu pertama ketemu sampai perasaan capek ngadepin sifat dia yang makin lama makin kelihatan. Satu hal yang perlu lo tahu, cewek kalau pelan-pelan nunjukin sifat aslinya itu berarti dia berhasil nyaman sama lo, tapi tinggal lo nya kuat apa nggak."
"Saran ajalah, Yu. Udah nggak bisa mikir gue."
"Kalau lo mau usaha, lo samperin aja, kasih tahu dulu lewat semua platform yang dia punya. Kalau lo mau ambil jeda, ya jelasin aja semuanya, apapun yang terjadi, minta maaf dan bilang aja kalau lo masih nungguin dia."
Satria terdiam. Ia berhenti menghisap rokoknya, padahal masih setengah.
"Ini harusnya gue buka jasa aja nggak sih, rugi gue kalau 1 jam ngomong, mikir, tapi nggak dibayar."
"Hahaha, itung-itung ngamal, lo jarang kan dapet pahala."
"Ehh, sembarangan. Cuma Allah yang tahu."
Obrolan serius itu beralih menjadi sedikit lebih santai. Capek juga 1 jam serius untuk aku yang suka bercanda terus.
Komentar
Posting Komentar