"Sayangnya, perasaan itu nggak tetap. Mau nggak mau, kita harus nerima kenyataan kalau perasaan itu bisa berubah kapan aja." Ucapku dipertemuan kami pertama kalinya setelah beberapa bulan.
"Sialnya, perasaan pertama kali itu pasti menyenangkan jika dengan orang yang tepat. Dan sialnya, cuma gue yang ngerasa bahwa perasaan kesan pertama itu menyenangkan. Bahkan sampai bikin gue pengen balik ke waktu pertama kali ketemu, pertama kali gue naksir duluan."
"Dan dengan perasaan pertama kali itu gue selalu berhasil bikin perasaan gue tetap. Sekalipun kita sempat perang dingin, sekalipun lo sempat nggak ada kabar. Itu kenapa gue masih di sini."
Hampir setengah mati aku menahan air mata saat mengucapkan semua kalimat itu. Ya, karena firasatku perasaan Dika berubah, entah sesaat atau memang sudah berubah.
Aku mencoba tetap tersenyum dan berlaku seperti biasanya.
"Gue seneng lo masih mau ketemu, lo dalam keadaan baik secara fisik. Gue ngerasa cukup bisa lihat lo dan...gue rasa jeda yang gue kasih ke lo juga cukup. Jadi, gue serahkan semua keputusan soal hubungan kita ke lo sekarang. Apapun itu keputusannya gue akan terima asalkan dengan alasan yang masuk akal."
Dika masih terdiam, ia hanya memainkan jari jemarinya di atas meja.
"Gue minta maaf." Ucapnya kemudian membenahi posisi duduknya.
"Sampai sekarang gue nggak ngerasain apapun." Ucapnya singkat namun cukup menjelaskan.
Aku mengangguk paham dengan menelan sedikit ludahku yang terasa pahit.
"Gue minta maaf karena bikin lo ngebuang waktu lagi. Gue minta maaf karena udah bikin lo ngerasain hal yang sama lagi. Gue minta maaf karena nggak bisa nepatin omongan gue sendiri." Ucapnya dengan wajah yang tenang.
"Nggak papa. Semoga ini emang yang terbaik. Lo juga nyelesain dengan baik kok. Makasih karena udah sempat bertahan dan berusaha."
Aku menangis namun segera aku usap air mata yang keluar itu.
"Aduuuhh, nggak bisa nahan, hahahha." Ucapku mencoba untuk tetap biasa. "Ternyata rasanya masih sama ya, gue kira gue bakalan biasa." Tambahku.
"Lo sehat sehat ya, gue juga pasti bakalan jauh lebih baik." Ucapku kemudian.
"Na..." Panggilnya.
"Oh iya, inget nggak gue pernah cerita kalau gue berhasil kerja sama, sama kantor gede. Gue lupa kalau hari ini gue ada janji juga sama mereka. Gue balik duluan ya." Ucapku kemudian menghabiskan sisa minumanku.
Jelas itu hanya alasan, yang sebenarnya gue akan bertemu mereka besok pagi.
"Lo nggak papa, pergi dalam keadaan begini?" Tanyanya.
"Nggak papa. Lo tahu sendiri gue bisa sulap, hahaha. Baik baik ya. Gue pamit dulu." Ucapku kemudian berjalan keluar.
Tepat setelah aku masuk ke area parkir, semua air mataku tumpah. Rasanya aku ingin berteriak karena sudah sangat sesak di dalam dada.
Komentar
Posting Komentar