Langsung ke konten utama

Sepenggal Cerita #2 Pisah

"Sayangnya, perasaan itu nggak tetap. Mau nggak mau, kita harus nerima kenyataan kalau perasaan itu bisa berubah kapan aja." Ucapku dipertemuan kami pertama kalinya setelah beberapa bulan.

"Sialnya, perasaan pertama kali itu pasti menyenangkan jika dengan orang yang tepat. Dan sialnya, cuma gue yang ngerasa bahwa perasaan kesan pertama itu menyenangkan. Bahkan sampai bikin gue pengen balik ke waktu pertama kali ketemu, pertama kali gue naksir duluan."

"Dan dengan perasaan pertama kali itu gue selalu berhasil bikin perasaan gue tetap. Sekalipun kita sempat perang dingin, sekalipun lo sempat nggak ada kabar. Itu kenapa gue masih di sini."

Hampir setengah mati aku menahan air mata saat mengucapkan semua kalimat itu. Ya, karena firasatku perasaan Dika berubah, entah sesaat atau memang sudah berubah.

Aku mencoba tetap tersenyum dan berlaku seperti biasanya.

"Gue seneng lo masih mau ketemu, lo dalam keadaan baik secara fisik. Gue ngerasa cukup bisa lihat lo dan...gue rasa jeda yang gue kasih ke lo juga cukup. Jadi, gue serahkan semua keputusan soal hubungan kita ke lo sekarang. Apapun itu keputusannya gue akan terima asalkan dengan alasan yang masuk akal."

Dika masih terdiam, ia hanya memainkan jari jemarinya di atas meja.

"Gue minta maaf." Ucapnya kemudian membenahi posisi duduknya.

"Sampai sekarang gue nggak ngerasain apapun." Ucapnya singkat namun cukup menjelaskan.

Aku mengangguk paham dengan menelan sedikit ludahku yang terasa pahit.

"Gue minta maaf karena bikin lo ngebuang waktu lagi. Gue minta maaf karena udah bikin lo ngerasain hal yang sama lagi. Gue minta maaf karena nggak bisa nepatin omongan gue sendiri." Ucapnya dengan wajah yang tenang.

"Nggak papa. Semoga ini emang yang terbaik. Lo juga nyelesain dengan baik kok. Makasih karena udah sempat bertahan dan berusaha."

Aku menangis namun segera aku usap air mata yang keluar itu.

"Aduuuhh, nggak bisa nahan, hahahha." Ucapku mencoba untuk tetap biasa. "Ternyata rasanya masih sama ya, gue kira gue bakalan biasa." Tambahku.

"Lo sehat sehat ya, gue juga pasti bakalan jauh lebih baik." Ucapku kemudian.

"Na..." Panggilnya.

"Oh iya, inget nggak gue pernah cerita kalau gue berhasil kerja sama, sama kantor gede. Gue lupa kalau hari ini gue ada janji juga sama mereka. Gue balik duluan ya." Ucapku kemudian menghabiskan sisa minumanku.

Jelas itu hanya alasan, yang sebenarnya gue akan bertemu mereka besok pagi.

"Lo nggak papa, pergi dalam keadaan begini?" Tanyanya.

"Nggak papa. Lo tahu sendiri gue bisa sulap, hahaha. Baik baik ya. Gue pamit dulu." Ucapku kemudian berjalan keluar.

Tepat setelah aku masuk ke area parkir, semua air mataku tumpah. Rasanya aku ingin berteriak karena sudah sangat sesak di dalam dada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...