Langsung ke konten utama

Jadi, Cari Alasan untuk Bertahan Walaupun Itu Sepele

Sesepele apapun alasannya, itu menjadi sangat berarti bagi orang yang lagi putus asa. Itu akan menjadi nilai yang bisa menguatkan. Hal-hal sepele yang sering kita lupakan, kesampingkan karena dalam pikiran kita yang bisa menguatkan hanyalah alasan-alasan besar, alasan yang terdengar Wah.

Gue mulai menyadari hal ini saat gue dalam situasi yang berat untuk gue lewati. Dalam diri gue udah nggak mau bertahan, gue menyerah dengan kondisi kesehatan fisik gue yang makin bertambah keluhannya. Gue menyerah ketika tiap harinya gue selalu merasa semakin tertekan. Sampai akhirnya disuatu hari gue mendapat pesan dari orang yang gue kenal karena relasi pekerjaan. Waktu itu dia ada keperluaan pekerjaan dengan gue, tapi gue lagi izin sakit. Terus, dia bilang, 'Nggak papa, semoga lekas semubuh ya, makan yang banyak.' terdengar sepele tapi saat itu sangat menyentuh perasaan gue. Dari situ gue berpikir, ternyata sedetik-dua detik di masa kritis ini, gue bisa ketemu nyawa baru. Dimana keberadaan orang lain yang menghargai gue, menerima gue, membutuhkan gue. Orang-orang yang mungkin akan sedih ketika mendengar kabar kematiaan gue, walaupun hanya saat hari pemakamannya aja. Orang-orang yang akan mengingat hal-hal kecil yang gue lakukan, tapi sangat membantu di hidup mereka.

Nggak cuma itu, hal-hal yang lebih sepele lagi, seperti rilisan terbaru dari band favorit, series kopi yang dirilis sama cafe atau brand favorit, dateng ke kedai es krim ketemu sama mas-mas penjaganya yang selalu baik hati. Senyum keluarga yang masih support dan bertahan dengan kondisi gue. Begitu juga teman-teman gue yang rajin ngajakin keluar.

Sangat disayangkan kalau gue tetap memilih meninggalkan semua itu. Seenggaknya gue harus melihat mereka selesai dan bisa berjalan sendiri tanpa sedikit bantuan dari gue, gue harus ngerasaun semua hal yang gue suka seenggakanya sekali. Gue bisa lihat senyum keluarga dan teman gue lebih lepas tanpa khawtair soal gue. Seenggaknya gue bisa dengan aransemen yang berbeda saat band favorit gue konser, walupun cuma online. Seenggaknya gue nulis dulu sebelum gue pergi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...