Ditengah-tengah senangnya atas kabar menyenangkan dari teman-teman dekat gue, ternyata ada keganjalan yang gue rasakan.
Setelah hampir 1 bulan kami tidak menjalin komunikasi, gue jadi makin yakin kalau dia sudah menyerah juga. Walaupun ini salah, karena gue nggak nanya dulu. Mungkin emang dari awal gue yang salah, karena masih percaya pikiran gue sendiri.
Akhirnya gue bingung, masih perlu nggak gue pamit? Kalau perlu mungkin kurang lebih gue pengen ngomong gini :
Gimana kabarnya? Semoga menyenangkan ya. Gue mau ngaku kalau udah hapus nomor lo, karena tiap hari hawanya cuma berharap lo chat gue dulu, kadang gue juga pengen chat lo, tapi takut kalau ternyata pesan gue malah ngerusak hari lo yang awalnya baik-baik aja jadi berantakan.
Gue baik-baik aja di sini, cuma emang ada yang kosong aja. Tapi, justru dari situ gue mulai belajar untuk ngisi kekosongan itu sendiri. Kebetulan itu juga PR dari psikolog yang waktu lalu gue datengin. Katanya, kita harus bisa menuhin kebutuhan kita sendiri, karena orang lain bisa pergi, orang lain bisa bikin kecewa, orang lain bisa bosen, sedangkan diri sendiri nggak akan kemana-mana walaupun ngerasain hal-hal yang nggak mengenakan itu.
Gue sadar, masih berat buat nggak papain selesainya cerita ini, yang ternyata sama kayak sebelumnya. Tapi dalam hidup gue ini adalah paling lama dan paling menyenangkan. Dengan lo, selama kurang lebih 7 bulan itu, gue lebih banyak ngerasain seneng daripada sedih atau kecewa karena lo. Banyak hal yang gue pelajari lagi perihal komitmen berpasangan.
Mungkin kita memang dua orang yang iseng tapi kebablasan. Sebenarnya kita belum siap untuk ada komitmen, tapi menyayangkan kalau melewatkan perkenalan ini. Makanya ketika ada persoalan kecil akhirnya menjadi masalah besar. Sesimpel perkara nggak ada yang mau ngalah, entah gengsinya yang lebih besar atau terlalu egois karena ngerasa diri sendiri nggak salah, juga soal ekspektasi.
Contohnya waktu kemarin gue yang ngerasa lo cuek nanggepin kembalinya gue setelah perkara naik-turun kondisi gue. Gue berharap lo seneng dan mungkin percakapan kita jadi menyenangkan lagi. Saat itu gue langsung menyimpulkan kalau lo semakin ragu ditambah tahu kondisi gue itu, tanpa bertanya. Padahal bisa aja hari itu lo apes dan lagi bad mood. Bisa juga lo emang berniat ngasih waktu lebih untuk gue sendiri, berbenah diri.
Sekalipun itu udah diutarakan, kalau dari diri kita yang paling dalam memang belum siap, hasilnya sama aja. Kesalahannya terulang lagi, sedih, kecewannya ada lagi. Mungkin itu yang bikin hubungannya jadi bikin capek. Itu juga harus berdua, nggak bisa kalau cuma salah satu. Bisa tapi harus sabar banget. Lebih efektifnya kalau berdua, bisa saling belajar soal kemauan satu sama lain, nggak gengsi ngutarain uneg-uneg, nggak berekspektasi dan mengharuskan sesuatu hanya karena kebutuhan pribadi.
Kalau dalam menyelesaikan masalah harus ketemu siapa yang salah, biar adil kita berdua sama-sama salah, dan nggak papa, karena kita bisa belajar lagi dari kegagalan yang kesekian kali ini. Semoga di awal tahun ini, kita bisa menjadi lebih baik seenggaknya untuk diri sendiri dulu. Bisa aja berangkat dari itu, kita bakalan punya hubungan asmara dengan siapapun nanti (asal nggak sesama jenis) jauh lebih baik juga. Terima kasih atas waktu luangnya dan ketawa yang setiap hari ada.
Kurang lebih gitu isinya. Mungkin ini lebih ke surat buat dia dibandingkan ngomongin soal opini atau semacamnya.
Komentar
Posting Komentar