Langsung ke konten utama

Sebuah cerita : Tahun baru ini, berakhir

Sebuah cerita dari Ays dan ditulis kembali oleh Nrm
---

Riuh suara kembang api mulai terdengar dari berbagai penjuru, bahkan dalam ponsel pintar yang saat ini Kania genggam. Postingan cerita di whatsapp dan instagram yang berisikan video pesta kembang api, juga ucapan doa, harapan mulai bermunculan. Tak sedikit juga postingan video untuk mengabadikan momen bersama pasangan, mereka yang saling berpelukan, bergandengan, mengucapkan kalimat-kalimat harapan untuk kelanggengan hubungannya.

"Happy new year!!! Happy with you, always with you, forever with you." Kalimat-kalimat semacam itu menjadi kalimat untuk mengakhiri penggalan video yang mereka buat kemudian mereka berpelukan.

Kania hanya bisa menghela napas, pasrah. Bukan tahun untuknya merasakan kebahagiaan memiliki pasangan seperti dalam video yang saat ini memenuhi media sosial. Jangankan berpasangan, menaruh rasa kepada satu laki-laki saja, ia gagal. Lagi.

"Mbak gosong tuh!" Ucap Dana, adiknya. Ia membuka kecil pintu kamar Kania.

Malam pergantian tahun ini ia habiskan bersama keluarganya. Acara bakar-bakar daging dan memutar lagu DJ tak kalah menarik dengan acara-acara di luar sana. Tapi di menit-menit terakhir menuju tengah malam, Kania memilih masuk ke kamarnya. Perasaannya mulai sensitif hingga membuatnya mellow dan berakhir menangis di belakang pintu kamar. Entah perasaan apa saja, yang jelas perihal laki-laki yang bernama Angga begitu mencolok dan bisa dijadikan alasan kenapa ia menangis saat ini. Akun dengan nama itu melakukan postingan ulang quote-quote bijak dan beberapa quotes patah hati dari akun lain.

Setelah dipanggil adiknya, Kania kembali keluar dari kamarnya. Dia harus kembali berpura-pura baik-baik saja agar tidak merusak momen menyenangkan ini.

"Tadi bawang bombay nya kebawa apa gimana?" Celetuk Dana.

"Kenapa emangnya?" Tanya Kania.

Tanpa berkata-kata, Dana menunjuk cermin dengan dagunya. Terlihat pantulan bayangan Kania dengan mata yang masih berkaca-kaca.

Kania langsung mengusap kedua matanya dengan cepat, khawatir ada orang lain yang menyadarinya. Tapi semakin ia usap air matanya justru semakin keluar bahkan lebih deras dari sebelumnya. Begitulah perempuan ketika ada orang lain yang mengetahui kerapuhannya, justru kesedihan itu semakin menjadi-jadi.

"Ya udah masuk lagi aja! Biar aku yang beresin semuanya termasuk pertanyaan, 'kemana mbak Kania?'" Ucap Dana sedikit iseng, tapi itulah kelakuan adik yang mulai tumbuh dewasa. Sedikit banyak dia tahu apa yang terjadi di dunia orang dewasa dan ia mulai memakluminya.

"Aaaaa...." Kania menoleh ke arah adiknya dengan wajah yang banjir air mata.

Tanpa diminta, Dana merentangkan kedua tangannya dan Kania langsung berlari memeluk adiknya.

"Jadi dewasa emang nggak gampang, tapi kalau belum siap mati mau nggak mau harus hidup dewasa." Ucap Dana.

"Dih, dapat dari mana omongan kayak gitu?" Tanya Kania melepas pelukannya.

"Pernah lihat aja." Jawabnya dengan wajah sok cool.

Kania tidak menanggapi lebih dan langsung kembali ke kamar untuk istirahat. Tidur memang menjadi obat paling manjur setelah menangis. Bahkan apapun masalahnya tidur bisa menjadi solusi, walaupun sifatnya sementara.

Keesokan harinya dengan malas ia memaksakan tubuhnya untuk beranjak dari tempat tidur. Ia segera meraih ponselnya dan membuka kotak pesannya dengan Angga, seolah-olah sudah menjadi rutinitas setelah bangun tidur. Pesan terakhir yang Kania kirim masih belum ada balasan. Bukan pertama kalinya, bahkan tidak jarang beberapa pesan dari Kania hanya dibaca layaknya surat kabar.

Kania segera sadar, sudah bukan waktunya lagi mengharapkan perasaan dari laki-laki yang tidak melihat keberadaannya. Bukan karena tak kasat mata, tapi karena keberadaan Kania yang tidak masuk dalam radar laki-laki itu, karena ia sudah memiliki pusatnya sendiri. Kalimat 'nggak, harus dia' kini mulai berubah makna menjadi 'nggak harus dia'.

Penghujung tahun ini cukup mengajarkan banyak hal bagi Kania. Pengalaman jauh dari keluarga dan harus menyelesaikan masalah sehari-hari di kosan, juga drama-drama tak terduga yang harus ia temui dalam perjalanan karirnya juga perjalanan asmaranya yang masih berakhir sama seperti sebelumnya.

"Nggak papalah," gumamnya sambil mematikan layar ponselnya.

"Walaupun kita nggak punya perasaan yang sama, seenggaknya kita sama-sama ngerasa patah hati. Jadi, nggak cuma gue sendiri yang sedih di awal tahun baru ini." Imbuhnya kemudian mulai bergerak merapikan tempat tidurnya juga perasaannya yang masih berantakan.

Memang, tahun baru dimulai, tapi perasaan yang tidak mendapat balasan harus segera diakhiri sebelum makin dalam, karena pembunuhan tak berdosa namun sulit untuk dilakukan adalah membunuh perasaan yang sudah terlanjur mengakar bahkan mengikat kuat di dalam hati kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...