Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2025

OTEM : SIAL!

Waktu berjalan sangat cepat. Lebih cepat daripada dugaanku. Banyak hal pula terjadi, yang terasa tiba-tiba, padahal yang sebenarnya karena memang sudah waktunya terjadi. Tapi karena aku adalah manusia dengan penuh dengan ketidaksiapan sekalipun sudah mempersiapkan, sekalipun sudah diberi tahu lebih awal. Ada banyak hal menyenangkan, ada juga yang menyedihkan. Jika aku boleh mengutip sebuah kalimat dari drama korea yang sempat aku tonton, bahwa hal yang menyenangkan dan menyedihkan itu hadir secara seimbang. Jadi, ketika yang terjadi saat ini adalah sesuatu yang menyedihkan, percayalah bahwa akan ada hal yang menyenangkan setelahnya. Aku berusaha untuk mempercayai kalimat itu, bahkan dalam keyakinanku pun memang dijelaskan juga bahwa setelah ada kesulitan pasti akan ada kemudahan. Tapi sekali lagi, aku adalah manusia, yang baru sekali hidup dan penuh dengan keluhan. Aku bersyukur dibalik kekuranganku yang keras kepala, tidak sabar, kurang bisa mengontrol emosi, aku memiliki kelebihan ya...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...

Sepenggal Cerita : Bertahanlah!

Suara klakson dan deru kendaraan menemani kegiatanku setelah bangkit dari mati suri. Bukan mati suri dalam artian sebenarnya, hanya saja rasanya sama, bahkan bisa saja aku benar-benar mati jika tidak segera sadar. Banyak hal terjadi belakangan ini, dua-tiga bulan yang lalu mungkin. Rasanya semua bagian dalam kehidupanku hancur satu persatu secara bergantian. Belum sembuh atas luka sebelumnya, muncul lagi luka baru, begitu seterusnya, hingga aku tidak memiliki tenaga untuk melakukan sesuatu dengan baik. Sekalipun itu untuk bernapas. Bagaimana aku bisa bangkit? Entahlah, aku sendiri juga masih bertanya-tanya. Mukjizat Tuhan, itu pasti. Semuanya terjadi secara tiba-tiba, kilas balik tentang ingatan-ingatan yang sangat disayangkan, perasaan bahagia, orang-orang yang membuatku ingin kembali, dan kopi. Kesemuanya bersatu dan membuatku bangkit dan pergi menuju coffee shop langgananku. Meja lantai dua, dekat jendela yang mengarah ke jalanan. Tempat favorit untuk mencari ide jika aku sedang bun...