Suara klakson dan deru kendaraan menemani kegiatanku setelah bangkit dari mati suri. Bukan mati suri dalam artian sebenarnya, hanya saja rasanya sama, bahkan bisa saja aku benar-benar mati jika tidak segera sadar. Banyak hal terjadi belakangan ini, dua-tiga bulan yang lalu mungkin. Rasanya semua bagian dalam kehidupanku hancur satu persatu secara bergantian. Belum sembuh atas luka sebelumnya, muncul lagi luka baru, begitu seterusnya, hingga aku tidak memiliki tenaga untuk melakukan sesuatu dengan baik. Sekalipun itu untuk bernapas.
Bagaimana aku bisa bangkit? Entahlah, aku sendiri juga masih bertanya-tanya. Mukjizat Tuhan, itu pasti. Semuanya terjadi secara tiba-tiba, kilas balik tentang ingatan-ingatan yang sangat disayangkan, perasaan bahagia, orang-orang yang membuatku ingin kembali, dan kopi. Kesemuanya bersatu dan membuatku bangkit dan pergi menuju coffee shop langgananku.
Meja lantai dua, dekat jendela yang mengarah ke jalanan. Tempat favorit untuk mencari ide jika aku sedang buntu, tempat ternyaman untuk sekedar melamun. Untuk pertama kalinya akhirnya aku kembali mengecek email, menghubungi kembali kantor tempatku bekerja sebelumnya, dan kembali menulis, walaupun aku masih tidak tahu akan menuliskan apa. Sekedar mengetik kata yang muncul dalam pikiranku. Sesekali menghela napas karena merasa lelah, padahal baru lima menit. Setelah memutuskan menyerah, aku menutup laptop dan memilih melamun melihat lalu lalang kendaraan. Berharap aku melihat hal baik, hari ini.
Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit, berlalu dengan sama. Sampai akhirnya pukul dua belas siang, seorang laki-laki memasuki area coffee shop ini. Aku tersenyum, ini hal baik yang aku maksud. Kemungkinan besar dia akan duduk di meja lantai satu, dekat pintu agar cepat keluar. Di jam makan siang seperti ini, dia akan memesan nasi goreng dan jus jeruk, ketika selesai, dia akan membawa pulang es kopi. Kalau belum berubah, itu yang aku tahu selama satu tahun bersamanya. Itu juga yang terakhir ia pesan saat masih makan siang bersamaku, saat akhirnya hubungan kami berakhir. Salah satu bagianku yang hancur dan berhasil membuatku menyerah soal cinta. Sialnya, aku masih saja ingin melihat laki-laki itu, aku selalu penasaran bagaimana kondisinya, bagaimana hari-harinya setelah kami berakhir, apakah sama menyedihkannya denganku? Atau dia baik-baik saja? Apakah pekerjaannya lancar? Apakah dia sudah dekat dengan orang lain? Atau sama denganku? Yang selalu berhenti.
Aku baru menyadari, sesuatu yang belum benar-benar sembuh dariku adalah yang selalu ingin ditemukan. Berharap orang lain menghampiriku lebih dulu, mengatakan membutuhkanku, memintaku untuk tetap tinggal. Padahal kenyataannya, akulah yang tidak ingin sendirian.
Yang aku syukuri adalah Tuhan selalu menyadarkanku, bahwa semua itu tidak akan terjadi kecuali sebuah keajaiban. Tapi aku masih perlu waktu untuk memproses dan mencari jalan keluar untuk bisa kembali percaya semua itu, percaya kepada diriku sendiri, dan percaya bahwa semua akan baik-baik saja jika aku masih bersama Tuhan-ku.
Bertahanlah! Kata yang selalu aku masukkan ke sistem otakku agar aku tidak kembali ke dalam kuburanku lagi. Di sana lebih menyesakkan dibandingkan dengan duduk di tengah-tengah orang-orang seperti ini. Padahal di sana aku sendiri, dalam sebuah ruangan yang sangat luas. Hanya saja, di sana sangatlah gelap.
Aku menghela napas lagi, kemudian segera sadar dari pikiranku. Membereskan barang bawaan dan berniat untuk pulang. Aku baru ingat, bahwa tukang yang akan membenahi pipa rumah akan datang. Selain itu, aku sudah melihat laki-laki itu keluar dan membawa satu cup es kopi. Sepertinya dia memang menjalani hidupnya lebih baik dariku.
Komentar
Posting Komentar