Langsung ke konten utama

Sepenggal Cerita : Bertahanlah!

Suara klakson dan deru kendaraan menemani kegiatanku setelah bangkit dari mati suri. Bukan mati suri dalam artian sebenarnya, hanya saja rasanya sama, bahkan bisa saja aku benar-benar mati jika tidak segera sadar. Banyak hal terjadi belakangan ini, dua-tiga bulan yang lalu mungkin. Rasanya semua bagian dalam kehidupanku hancur satu persatu secara bergantian. Belum sembuh atas luka sebelumnya, muncul lagi luka baru, begitu seterusnya, hingga aku tidak memiliki tenaga untuk melakukan sesuatu dengan baik. Sekalipun itu untuk bernapas.

Bagaimana aku bisa bangkit? Entahlah, aku sendiri juga masih bertanya-tanya. Mukjizat Tuhan, itu pasti. Semuanya terjadi secara tiba-tiba, kilas balik tentang ingatan-ingatan yang sangat disayangkan, perasaan bahagia, orang-orang yang membuatku ingin kembali, dan kopi. Kesemuanya bersatu dan membuatku bangkit dan pergi menuju coffee shop langgananku.

Meja lantai dua, dekat jendela yang mengarah ke jalanan. Tempat favorit untuk mencari ide jika aku sedang buntu, tempat ternyaman untuk sekedar melamun. Untuk pertama kalinya akhirnya aku kembali mengecek email, menghubungi kembali kantor tempatku bekerja sebelumnya, dan kembali menulis, walaupun aku masih tidak tahu akan menuliskan apa. Sekedar mengetik kata yang muncul dalam pikiranku. Sesekali menghela napas karena merasa lelah, padahal baru lima menit. Setelah memutuskan menyerah, aku menutup laptop dan memilih melamun melihat lalu lalang kendaraan. Berharap aku melihat hal baik, hari ini.

Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit, berlalu dengan sama. Sampai akhirnya pukul dua belas siang, seorang laki-laki memasuki area coffee shop ini. Aku tersenyum, ini hal baik yang aku maksud. Kemungkinan besar dia akan duduk di meja lantai satu, dekat pintu agar cepat keluar. Di jam makan siang seperti ini, dia akan memesan nasi goreng dan jus jeruk, ketika selesai, dia akan membawa pulang es kopi. Kalau belum berubah, itu yang aku tahu selama satu tahun bersamanya. Itu juga yang terakhir ia pesan saat masih makan siang bersamaku, saat akhirnya hubungan kami berakhir. Salah satu bagianku yang hancur dan berhasil membuatku menyerah soal cinta. Sialnya, aku masih saja ingin melihat laki-laki itu, aku selalu penasaran bagaimana kondisinya, bagaimana hari-harinya setelah kami berakhir, apakah sama menyedihkannya denganku? Atau dia baik-baik saja? Apakah pekerjaannya lancar? Apakah dia sudah dekat dengan orang lain? Atau sama denganku? Yang selalu berhenti.

Aku baru menyadari, sesuatu yang belum benar-benar sembuh dariku adalah yang selalu ingin ditemukan. Berharap orang lain menghampiriku lebih dulu, mengatakan membutuhkanku, memintaku untuk tetap tinggal. Padahal kenyataannya, akulah yang tidak ingin sendirian.

Yang aku syukuri adalah Tuhan selalu menyadarkanku, bahwa semua itu tidak akan terjadi kecuali sebuah keajaiban. Tapi aku masih perlu waktu untuk memproses dan mencari jalan keluar untuk bisa kembali percaya semua itu, percaya kepada diriku sendiri, dan percaya bahwa semua akan baik-baik saja jika aku masih bersama Tuhan-ku.

Bertahanlah! Kata yang selalu aku masukkan ke sistem otakku agar aku tidak kembali ke dalam kuburanku lagi. Di sana lebih menyesakkan dibandingkan dengan duduk di tengah-tengah orang-orang seperti ini. Padahal di sana aku sendiri, dalam sebuah ruangan yang sangat luas. Hanya saja, di sana sangatlah gelap.

Aku menghela napas lagi, kemudian segera sadar dari pikiranku. Membereskan barang bawaan dan berniat untuk pulang. Aku baru ingat, bahwa tukang yang akan membenahi pipa rumah akan datang. Selain itu, aku sudah melihat laki-laki itu keluar dan membawa satu cup es kopi. Sepertinya dia memang menjalani hidupnya lebih baik dariku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...