Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak.
"Kita bakalan asing ya?" tanyanya.
"Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku.
"Lo mau kita asing?" tanyanya lagi.
"Nggak." jawabku.
"Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya.
"Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku.
Hening kemudian.
"Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian.
"Biar apa?" tanyaku.
"Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya.
"Kalau lo yang ketemu orang lain, bakal ngasih tahu gue?" tanyaku.
"Iyalah, buat pamer."
"Lah, curang!"
"Lo berapa lama di sana?" tanyanya.
"Nggak tahu, di kontrak setahun, tapi kalau perpanjangannya di tempat yang sama yang bisa dua tahun."
"Jelekin aja kinerja lo, biar disuruh balik kerja di sini."
"Itu bukan disuruh balik ke kantor sini, malah suruh balik ke rumah."
"Ya udah, tinggal cari kerjaan lain."
"Nggak gampang, Lanaaa..."
Hening lagi.
"Vin..." Panggil Lana
"Apa lagi?!" Ucapku, kemudian tersadar bahwa aku sudah lama berdiri di dekat pintu cafe.
"Sejak kapan lo disini?" tanya Lana. "Sehat, kan?!"
Aku tersenyum kemudian memeluknya. Lana hanya diam, dari dulu dia tidak pernah membalas pelukanku, hanya sekali.
"Udahhh, malu." ucapnya melepaskan pelukanku.
"Lo ngapain nggak langsung ke meja, malah jadi patung." ucap Lana.
"Nggak papa, kesambet tadi."
"Lo mau pesen apa?" tanya Lana.
"Samain aja, biar nggak repot." jawabku.
Entah kenapa aku selalu ingin tersenyum setiap kali melihat Lana. Dia masih sama, walaupun perasaannya sudah berubah.
"Lo baik-baik aja kan?" tanya Lana, mungkin memastikan lagi.
"Ya, gue sehat di sana." jawabku.
"Bukan itu, perasaan lo, maaf ya." ucap Lana. Wajahnya terlihat merasa bersalah.
Aku hanya bisa tersenyum. Sekitar 6 bulan setelah hari itu, Lana mengatakan dia bertemu orang lain. Jujur saja, hari itu cukup berat buatku. Tapi demi kebahagiaannya aku menegarkan hatiku berulang kali. Bahkan untuk bertemu dengannya hari ini, setelah perpanjangan satu tahun, aku masih merasa belum begitu siap.
"Lo jadi ngajak calon lo ketemu gue?" tanyaku.
"Nggak dulu, lagi marahan." jawabnya.
"Gimana, sih. Orang udah mau nikah malah masih kayak orang pacaran."
"Namanya juga hubungan."
"Kalau misalnya kali ini gagal lagi, lo mau nyoba sama gue nggak, Na?" tanyaku.
"Mungkin, tapi kasihan lo nggak sih, masa iya cuma jadi cadangan." jawabnya.
"Orang tulus, ma gitu."
"Dihh, sok iyee banget."
Ada hening beberapa detik diantara kami. Aku mencoba mengedarkan pandangan ke sekeliling cafe yang ternyata banyak perubahan.
"Gue jahat banget sama lo, Vin. Maaf, ya."
Aku tidak bisa langsung menanggapi, kami hanya saling menatap satu sama lain.
"Bahkan setelah gue tahu perasaan lo ke gue."
"Nggak papa, perasaan emang bisa berubah-ubah."
"Tapi lo masih mau temenan sama gue, bahkan dengerin curhatan gue soal orang lain."
"Ya, karena gue dari dulu temen lo satu-satunya."
"Iya, sih. Tapi lo bisa bilang aja kalau lo nggak mau."
"Terus lo mau cerita sama siapa?"
"Ya biar itu jadi urusan gue. Udah waktunya lo peduli sama diri lo sendiri."
"Hahahaha, iya ya. Lagian lo udah ada yang peduliin."
"Bukan gitu, kasihan aja kalau lo..."
"Biar itu juga jadi urusan gue. Entah gue mau peduli atau nggak sama lo, entah gue marah atau nggak, bahkan soal perasaan gue, biar itu jadi urusan gue."
"Tapi, gue jadi makin ngerasa salah."
"Kalau lo makin ngerasa salah, tunjukin ke gue kalau lo emang udah nggak butuh gue."
"Gimana?"
"Nahh...masih bingung, kan?! Bahkan setelah lo bilang ketemu sama orang lain aja, lo bingung gimana caranya nggak ketergantungan cerita sama gue."
"Gue rasa kita cuma perlu nunggu aja, suatu hari nanti lo akan berdiri di depan gue dengan kedewasaan lo, dan gue dengan ikhlas juga akan nerima kenyataannya."
"Gue denger lo juga ketemu orang lain, di sana." ucap Lana.
"Kata siapa?"
"Raihan, gue sesekali dateng ke kantor lama lo."
Aku terdiam. Mencoba mengingat lagi kejadian mana yang menyebabkan Raihan menyimpulkan hal itu.
"Waktu itu Raihan nunjukin foto lo pergi berdua sama cewek."
"Ohh, Sintia."
"Ohhh, namanya Sintia."
"Hahaha, dia emang suka sama gue. Tapi pas dia nembak, gue bilang kalau gue udah punya cewek. Iya, waktu itu, dia minta tolong buat nemenin beli hampres lebaran kantor. Kebetulan pesennya banyak, jadi perlu temen ngebawa itu."
"Dia cantik loh."
"Iya, baik juga. Tiap hari bawain bekel makan siang buat gue. Lumayan ngirit jadinya."
"Kok nggak diterima aja?"
"Yaaa...gimana, nggak suka."
"Kok nggak cerita kalau ada Sintia nembak lo."
"Ya buat apa, nggak penting."
"Ya kan..."
"Na...udah ya. Itu nggak penting."
"Ya...tapi..."
"Apa? lo jadi ragu sama pasangan lo?"
"Gue jadi salah paham. Gue kira lo beneran ketemu orang lain tapi nggak mau jujur sama gue, karena lo nggak mau kehilangan dua-duanya. Jadi...gue ngarang cerita kalau gue udah ketemu sama orang lain."
"Gimana...gimana?"
"Iya, nggak ada. Gue nggak pernah ketemu sama orang lain."
"Terus foto-foto itu?"
"Temen gue di kantor, dia agak ngondek, terus gue biasanya diajak jalan sama dia, buat nemenin beli skin care. Kebetulan dia juga...jeruk makan jeruk."
"Wahhh...nggak habis pikir gue. Kayaknya selain pinter nulis artikel, lo juga pinter bikin skenario deh."
"Yaa...gimana,"
"Kenapa lo nggak langsung nanya ke gue sih?"
"Mana kepikiran,"
"Oh, iya. Dari dulu otak lo kan cuma formalitas ada ya."
"Vinnn!!! Tega bener!"
"Hahaha, emang sama lo tuh ada aja ya ceritanya."
Lana terdiam dan menghela napas.
"Jadi gimana tawaran gue tadi?" tanyaku kemudian.
"Soal apa?"
"Nggak usah pura-pura nggak tahu."
"Dih, goblok juga! Coba deh lo pikir-pikir lagi."
"Apa, sih?! Malah ngatain."
"Kan udah gue jawab di depan, gue nggak ketemu sama orang lain. Berarti gue juga masih berharap sama lo."
Aku tersenyum, lega.
"Makasih ya, udah bikin drama ini. Gue jadi tahu seberapa dalem gue suka sama lo. Makasih juga kalau itu bohong. Gue nggak perlu nangis pas pulang nanti."
"Emang kemarin-kemarin lo nangis?"
"Ya, nggak sih. Tapi gue nggak pernah siap ketemu lo langsung. Makanya gue setuju lanjutin kontrak kerja di sana, gue selalu nolak kalau lo mau video call. Gue takut kalau gue nangis saat itu."
"Gilak!!! Baru kali ini gue ketemu orang gila kayak lo."
"Sama, setahu gue Allah nyiptain jodoh itu cerminan diri kan?! Ya udah, kita sama-sama gila."
Kami tertawa.
"Terus rencana lo gimana sekarang?" Tanya Lana.
"Emmm...gue masih ada tiga hari di sini. Nanti gue bilang ke ibu deh, soal kita, terus gue lamar lo."
"Ha?!"
"Rencana soal kita kan?"
"Nggak...maksud gue...lo nggak ngerasa itu kecepetan? Gini..."
"Mau sampai kapan? Lo masih ragu sama gue? Gini deh, kita selesain sekarang juga bagian mana yang bikin lo ragu."
"Lo..."
"Gue masih lanjutin sisa kontrak di sana, dua tahun. Ya kali, kalau nggak gue iket duluan, bisa-bisa beneran lo ketemu orang lain."
"Hahahaha, iya, sih. Lama ya?!"
"Gimana, ide gue? cocok nggak?"
"Yaa...cocok sih, tapi emang sempet."
"Bisa, gue bisa lakuin itu. Kalau gitu pulang sekarang aja gimana, gue bilang ke ibu dan persiapan semuanya, besokannya langsung ke rumah lo."
"Vinnn, sumpah ya!!"
"Janji!!!"
"Nggak gitu, maksud gue. Lo....emang nekat sih!"
"Hahaha, iya, semenjak gue sadar soal perasaan gue ke lo. Pikiran gue jadi nekat."
Aku mengeluarkan sebuah cicin. "Gue beliin ini buat lo, sebelum tahu kalau lo ketemu sama orang lain. Harganya, lumayan. Sayang kalau gue buang gitu aja. Gue mikir lagi, kalau ini bisa dipakai nyokap lo. Soalnya kalau buat ibu, kekecilan. Tapi karena semua bohongan, ya udah, ini jadi milik lo, bukti kalau gue emang serius dan nggak mau kehilangan lo."
"Ini ada kamera ya?"
"Apa, sih?! CCTV?"
"Kayak main film, tahu!"
"Hahaha, lo yang mulai drama-dramaan."
"Ya udah, ngasihnya pas lamaran aja."
"Ya, nggak papa ngasih sekarang, besok pas lamaran balik ke gue lagi,"
"Repot banget, sih!"
"Hahaha, yang penting lo udah lihat."
"Ini, beneran ya, Vin?"
"Gue peluk lagi, gimana?"
"Ehhh, gila! nggak-nggak."
"Coba, deh gue pasangin." Aku meraih tangan Lana dan memasangkannya di jari manis tangan kirinya. "Nyata, kan?" tanyaku.
"Iya, makasih, ya Vin."
Lana tersenyum sambil menggenggam tanganku.
"Gue anter pulang ya, sekalian ijin sama ibumu, kalau besok bakalan ngelamar."
"Iya, ayokk!!"
Kami pulang. Lebih tepatnya aku mengantarkan Lana seperti rencana tersebut. Semuanya lancar bahkan hingga acara pernikahan kami, empat bulan setelah lamaran. Setelah pernikahan tersebut, Lana tinggal bersama ku. Ia mengajukan untuk bekerja jarak jauh, seminggu sekali dia akan ikut meeting secara online. Semua berjalan cukup menyenangkan, mungkin karena kami sudah memahami satu sama lain, jadi tidak begitu masalah ketika tiba-tiba Lana badmood dan menyebalkan. Begitulah akhir cerita kami, sebuah pertemanan yang berakhir ke pelaminan.
Komentar
Posting Komentar