Sesi jalan-jalan kali ini aku mendatangi pasar loak, tempat yang menjual barang-barang bekas, barang antik, dengan harga yang murah. Ditemani Timy, kamera digital yang sudah aku andalkan untuk mencari uang, aku berkeliling melihat-lihat, berharap bisa menemukan barang yang berkesan.
Hampir 30 menit aku masih belum menemukan sesuatu yang menarik. Aku memutuskan untuk berhenti di pedagang makanan dan minuman untuk beristirahat sebentar. Hal yang paling menyenangkan berada di tempat seperti ini adalah bertemu dengan manusia yang sangat ramah. Aku tahu itu teknik marketing, strategi mereka menarik pembeli, tapi dibodohi hal seperti itu, bagiku menyenangkan. Perasaan disapa, diajak berbincang, kadang dipuji secara berlebihan. Entah hanya aku atau orang lain juga, bagiku itu sangat menyenangkan, selain itu aku merasa keberadaanku dihargai meskipun tidak membeli.
Ada kurang lebih 10 menit aku berbincang dengan penjual makanan dan minuman tersebut. Dia menceritakan alasannya berjualan di sini selama 10 tahun bahkan pada masanya ia harus membawa anak balitanya ke pasar agar tetap bisa menghidupkan api di dapur rumahnya. Saat itu suaminya merantau. Tapi kelahiran anak keduanya ini, ia tidak memberi kabar juga tidak mengirimkan uang seperti biasanya. Setelah dicari tahu, ternyata suaminya menjadi korban peluru salah sasaran dan mayatnya sengaja dibuang, juga mereka membungkam pihak yang berkaitan dengan mayat agar tidak melaporkan kepada keluarganya. Kepedihan ibu tersebut tidak berhenti disitu, karena keterbatasan kondisi, fasilitas hidup, anak keduanya meninggal diusia 1 tahun. Sedangkan anak pertamanya juga meninggal, diusia 17 tahun karena bunuh diri. Ada teman di sekolahnya yang melakukan perundungan hingga membuat dia enggan sekolah dan menyerah dengan hidupnya.
“Nasib orang nggak ada yang tahu, Neng.” Ucap si ibu diakhir ceritanya. “Ibu cuma berharap bisa hidup cukup dan mati selayaknya.” Tambahnya.
Aku mengangguk mengiyakan, sambil mengusap punggung si ibu yang terasa rapuh dan dingin, berharap bisa memberikan ketenangan walaupun tidak seberapa. Akhirnya aku mencoba membantu beliau dengan membeli beberapa dagangannya, lumayan bisa untuk makan siang atau dibagikan kepada orang lain.
Setelah dari sana, aku kembali berkeliling dan langkahku kembali terhenti diujung pasar tersebut. Ada sebuah toko mainan yang sangat menarik. Di sana ada berbagai macam jenis mainan baik dari zaman dulu, ketika aku masih kecil, hingga mainan zaman sekarang. Koleksi mainan zaman dulu tentu saja termasuk barang bekas yang sebagian juga sudah tidak berfungsi dan hanya digunakan sebagai pajangan. Sampai akhirnya aku menemukan sebuah kotak persegi panjang mirip papan catur, hanya saja ini adalah papan ular tangga. Ukurannya cukup besar, bidaknya seperti pada permainan monopoli dengan magnet dibagian bawahnya, masih lengkap juga dengan dadunya.
Sudah lama sekali aku tidak memainkan permainan tersebut. Bahkan aku juga jarang melihat anak-anak zaman sekarang memainkannya. Akhirnya aku memutuskan untuk membelinya ditambah dengan pernak-pernik lain yang sebenarnya kurang nilai manfaatnya, hanya saja aku senang melihat benda-benda tersebut.
Sekitar pukul 11 siang, aku memutuskan untuk pulang dengan membawa 1 kantong plastik berisi 12 bungkus nasi beserta air minum dan 1 kantong lagi berisi belanjaanku dari toko mainan itu. Aku cukup kualahan bahkan sesekali aku berhenti. Bahkan ada juga yang tidak sengaja menyenggol bawaanku dan membuatku tidak seimbang. Untung saja entah ketidaksengajaan yang entah ke berapa kalinya, ada seseorang yang membantu menahanku. Yang setelah aku cermati lagi laki-laki dengan badan tinggi itu adalah bagian dari masa lalu ku. Ini adalah pertemuan pertama kami setelah 3 tahun. Ia menawarkan bantuan untuk membawa sampai keluar pasar. Kami tidak banyak bicara, kondisi pasar yang masih riuh juga aku tidak tahu harus membicarakan apa.
“Kenapa beli nasi bungkus banyak banget?” Tanyanya setelah diam yang cukup lama.
“Tadi ketemu pedagang, aku kasihan aja, mau bantu secara cuma-cuma takutnya ditolak, jadi bantu larisin dagangannya aja. Lumayan bisa buat makan siang atau dibagiin ke orang lain.” Jawabku.
Dia hanya mengangguk dan kami kembali diam. Sampai di pintu keluar pasar, kami berhenti di lapak yang sudah tutup. Aku memberinya 1 bungkus nasi beserta minumannya. Dia hanya tersenyum kemudian memilih minum lebih dahulu.
“Aku bagiin ini dulu ya,” ucapku.
“Ya udah sekalian aku bantuin bawa aja,” dia kembali mengambil alih kantong plastik itu dan bersiap untuk jalan.
Tidak sampai 5 menit, nasi bungkus selesai dibagi dan kami kembali ke lapak tempat kami berhenti tadi.
“Makasih ya udah dibantuin.”
“Iya sama-sama, mumpung ada kesempatan, lagian bantuin hal baik juga.”
“Iya. Kamu apa kabar?” Tanyaku.
“Baik, kamu sendiri?”
“Sama, makanya bisa sampai di sini.”
“Iya, ya. Tapi ada juga kok yang ke sini karena nggak baik baik aja. Niatnya kabur dulu.”
Aku tidak langsung menanggapi, tapi dari raut wajahnya terlihat bahwa dia membicarakan dirinya sendiri. Jujur saja, aku penasaran, aku juga masih mengingat jelas tentang hubungan kami sejak mulai hingga berakhir. Tidak ada yang buruk menurutku walaupun hubungan kami selesai.
“Sibuk nggak?” Tanyaku.
“Kenapa emangnya?”
“Mau main ular tangga? Kebetulan tadi gue beli dari toko mainan di pasar.”
Entah keberanian dari mana, yang jelas menunggu jawaban dari pertanyaan sepele itu, membuat detak jantungku cukup bergemuruh. Selang beberapa detik kemudian, dia tersenyum dan mengiyakan ajakanku. Akupun ikut tersenyum dan bersiap mengambil papan ular tangga tersebut. Layaknya dua orang yang sudah lama tidak bertemu, selama bermain kami saling bertukar cerita. Walaupun sempat canggung, pada akhirnya kami seperti teman lama yang kembali bertemu lagi.
Komentar
Posting Komentar