Langsung ke konten utama

Sepenggal Cerita : Nasib #2

“Nasib orang nggak ada yang tahu, Neng.” Kalimat itu kembali terngiang dalam kepalaku, ketika aku melihat dua orang di atas panggung megah dengan hiasan bunga-bunga ini adalah dia dan sepupuku.

Selang 1 bulan sejak pertemuanku dengannya di pasar loak, kami tidak lagi ada komunikasi atau secara kebetulan bertemu. Diwaktu yang sama aku mendapat kabar bahagia bahwa sepupuku akan menikah. Aku diam sejenak dan mencoba merunut kejadian-kejadian yang aku ingat. Saat dia mengatakan bahwa alasan dia pergi ke tempat ramai justru karena ia sedang tidak baik-baik saja. Yaa...secara sekilas dia menceritakan bahwa dia sedang bimbang tentang sesuatu, yang waktu itu aku tangkap sebagai ragu dengan perasaannya sendiri. Mungkin yang sebenarnya dia maksud adalah keputusan ini, tentang menikah, tentang yakin atas perasaannya.

Aku masih memandang lurus ke arah panggung itu yang beberapa detik kemudian disambut oleh pandangannya. Kami sempat bertatap untuk beberapa detik yang aku akhiri dengan tersenyum dan memalingkan ke arah lain.

Benar kalimat ibu di pasar loak itu, nasib tidak ada yang tahu. Aku yang sempat kembali berharap bisa bertemu dan kembali menjalin hubungan dengannya. Nyatanya memang kami bertemu dan memiliki hubungan, yaitu sebagai saudara.

Layaknya tamu undangan lainnya, aku menemui mereka untuk memberi selamat dan berfoto dengan raut yang aku buat sebaik mungkin agar semua juga berjalan baik-baik saja. Selamat, atas kekalahanku sendiri untuk yang kesekian kalinya. Sepertinya masih banyak hal yang harus aku kenali lagi dalam diriku sendiri, tentang hubunganku dengan Penciptaku. 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...