“Nasib orang nggak ada yang tahu, Neng.” Kalimat itu kembali terngiang dalam kepalaku, ketika aku melihat dua orang di atas panggung megah dengan hiasan bunga-bunga ini adalah dia dan sepupuku.
Selang 1 bulan sejak pertemuanku dengannya di pasar loak, kami tidak lagi ada komunikasi atau secara kebetulan bertemu. Diwaktu yang sama aku mendapat kabar bahagia bahwa sepupuku akan menikah. Aku diam sejenak dan mencoba merunut kejadian-kejadian yang aku ingat. Saat dia mengatakan bahwa alasan dia pergi ke tempat ramai justru karena ia sedang tidak baik-baik saja. Yaa...secara sekilas dia menceritakan bahwa dia sedang bimbang tentang sesuatu, yang waktu itu aku tangkap sebagai ragu dengan perasaannya sendiri. Mungkin yang sebenarnya dia maksud adalah keputusan ini, tentang menikah, tentang yakin atas perasaannya.
Aku masih memandang lurus ke arah panggung itu yang beberapa detik kemudian disambut oleh pandangannya. Kami sempat bertatap untuk beberapa detik yang aku akhiri dengan tersenyum dan memalingkan ke arah lain.
Benar kalimat ibu di pasar loak itu, nasib tidak ada yang tahu. Aku yang sempat kembali berharap bisa bertemu dan kembali menjalin hubungan dengannya. Nyatanya memang kami bertemu dan memiliki hubungan, yaitu sebagai saudara.
Layaknya tamu undangan lainnya, aku menemui mereka untuk memberi selamat dan berfoto dengan raut yang aku buat sebaik mungkin agar semua juga berjalan baik-baik saja. Selamat, atas kekalahanku sendiri untuk yang kesekian kalinya. Sepertinya masih banyak hal yang harus aku kenali lagi dalam diriku sendiri, tentang hubunganku dengan Penciptaku.
Komentar
Posting Komentar