Nggak papa. Lamaran pekerjaan ditolak, draf design sampai revisi 10 kali, nggak papa, kan masih bisa diem-diem ngeracunin HRD-nya, masih bisa ngasih tumpukan revisiannya ke yang ngerevisi, sambil bilang, minta tolong AI aja yang kayaknya lebih bisa ngertiin kamu. Capek emang kalau harus selalu memenuhi standar manusia lain, tapi kalau nggak berusaha mengimbangi permintaan pasar yang ada kita duluan yang beneran mati. Bukan mati dalam arti yang sebenarnya, hanya saja gambaran pahitnya kita dihadapan dunia itu kayak orang mati, karena nggak bisa ngapa-ngapain. Kayaknya semakin ke sini selain teknologi yang berkembang, manusia juga harus mengembangkan mentalnya untuk menerima positif dan negatif dari berkembangnya teknologi.
Salah satunya AI, yang memang sudah luas digunakan baik oleh para pelajar/mahasiswa maupun pekerja. Gue juga setuju kalau teknologi itu sangat membantu, sekarang bisa kok ngerjain tugas di H-5 menit pengumpulan, kalau dulu sih lebih milih izin sakit kalau nggak bolos daripada nyalin jawaban temen tapi cuma dikasih waktu 5 menit. Bisa bikin kesimpulan tanpa harus baca teksnya. Bisa bikin design tanpa aplikasi ini-itu, spek komputer gede, semua bisa dengan AI.
Dari awal kemunculan teknologi, memang ia sudah menjadi pisau bermata dua. Sangat bermanfaat di tangan yang tepat tapi akan mematikan ketika yang memakai tidak beretika. Ternyata tukang pandainya juga jago, karena akhirnya pisau yang berhasil ia ciptakan semakin lama semakin tajam. Tinggal pemakainya aja yang kira-kira bisa makai dengan baik atau justru gaya-gayanya biar nggak ketinggalan zaman.
Komentar
Posting Komentar