“Hai,” sapaku sambil melambaikan tangan.
Pukul satu siang, sebuah pertemuan kembali terjadi di tempat yang sama dengan orang yang berbeda.
“Halo, silakan duduk.” Ucapnya dengan tersenyum. Cukup manis menurutku.
“Udah nunggu lama, ya?” tanyaku, sekedar basa-basi. Dia memang cukup menunggu lama, karena gue sengaja telat.
“Yaaa...mayan. Tapi nggak papa, mau pesen apa?” tanyanya sambil memberikan menu.
“Emmm...cemilan aja, deh.” Ucapku kemudian menyebutkan nama snack dan minuman.
“Emang udah makan?” tanyanya.
“Udah, kebetulan tadi sempet kumpul keluarga dan makan siang bareng.” Jawabku. Bohong.
“Ohh, ya udah.” Dia memesan makanan dan minuman.
Baru berjalan lima menit. Tapi rasanya aku sudah ingin pulang. Rasanya sangat melelahkan, alurnya akan sama, obrolan yang lancar, bertukar media sosial, lanjut pesan di media sosial, lancar-lancar-lancar, tapi akhirnya sama, nggak jadi.
“Sebenernya saya tahu soal kamu dari Bram udah lama. Tapi katanya waktu itu, kamu udah deket sama orang.” Ucapnya membuyarkan pikiranku.
“Ohh, iya. Udah lama banget ya berarti?”
“Iyaaa, kebetulan waktu itu saya juga dikenalin sama orang juga. Tapi perempuannya nyerah duluan, hahah.”
Aku hanya mengangguk sambil tertawa kecil.
“Kalau boleh tahu, kamu kenapa nggak jadi juga?” tanyanya.
Aku terdiam sejenak, mengawang.
“Kalau belum mau cerita nggak papa loh, nggak penting juga, kan?! Hehehe” ucapnya.
“Lain kali ya, kalau ada waktu.” Ucapku. Walaupun sudah berjarak satu tahun, aku masih belum bisa menganggap biasa.
“Iya. Kalau gitu, coba ceritain soal kamu aja. Kerja dimana, sehari-hari ngapain? Orangnya kayak gimana?”
Aku tersenyum tipis. Lagi. Sebenarnya hal seperti ini yang tidak aku sukai. Rasanya sudah berkali-kali aku melakukan hal yang sama, mengenalkan diriku, menceritakan masa lalu, mengatakan hal-hal yang menjadi kekuranganku, lagi, lagi, dan terus seperti tu.
“Kerja kantoran biasa, berangkat jam 7 pulang jam 4, jalan kaki soalnya deket sama rumah.”
“Udah berapa lama?”
“5 tahun, ada kayaknya.”
“Nggak cape jalan kaki terus?”
“Rasa capenya diawal, kalau udah 5 tahun gini jadi udah kebiasa.”
“Hahaha, iya juga ya. Sibuk banget ya di sana?”
“Umumnya orang di kantor sih.”
“Kata Bram, kamu suka lembur sampai tengah malam.”
“Dulu iya, sekarang udah nggak sesering itu.”
“Tadi saya sempet mikir, takut ganggu kamu kerja kalau ngajak ketemu siang ini,”
“Nggak papa, hari ini libur kok.”
“Tapi, kamu nggak papa, kan?” tanyanya dengan hati-hati.
Aku terdiam. Kemudian ada pelayan yang datang menyajikan menu pesanan kami. Disela-sela itu, aku mencoba mencari jawaban pertanyaan itu. Tapi sampai pelayan itu pergi aku tidak mendapatkan jawabannya. Sedangkan laki-laki dihadapanku masih menatap lekat ke arahku.
“Maaf, saya terpaksa karena Bram.” Ucapku.
Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk.
“Maaf ya, sebenernya saya juga nggak nyuruh Bram buat maksa kamu.”
“Nggak papa, saya juga tahu maksud Bram baik, dia bantu saya untuk nggak takut lagi berurusan sama kayak gini.”
“Apa yang kamu takutin? Buat jaga-jaga, biar saya nggak melakukan hal yang sama.”
Aku kembali tersenyum.
“Nggak perlu ngomong muluk-muluk, kalau tujuannya nggak sesuai sama apa yang diomongin.”
“Contohnya ngajak serius?”
“Mungkin,”
“Hahaha, kamu kerjanya apa sih?”
Kami melanjutkan obrolan lagi. 1 jam, 2 jam, sampai aku tidak sadar dan mulai menikmati obrolan dengannya.
“Gimana kalau kita bikin kesepakatan,” ucapnya sebelum pulang. “Kalau secara kebetulan kita ketemu, berarti saat itu juga kita jalan.” Lanjutnya.
Aku diam sebentar. Kemungkinan kecil sekali kami akan bertemu secara kebetulan, mengingat tempat kerja kami yang berbeda dan tempat tinggal yang berlawanan arah.
“3 detik, kalau nggak jawab dihitung sepakat.” Dia mulai menghitung dan aku tidak sempat menjawab.
“Okeee, semoga hari ini dan seterusnya menyenangkan ya.” Ucapnya sambil melambaikan tangan dan berlalu lebih dulu.
Komentar
Posting Komentar