Langsung ke konten utama

SEPENGGAL CERITA #1 PERTEMUAN

 “Hai,” sapaku sambil melambaikan tangan.

Pukul satu siang, sebuah pertemuan kembali terjadi di tempat yang sama dengan orang yang berbeda.

“Halo, silakan duduk.” Ucapnya dengan tersenyum. Cukup manis menurutku.

“Udah nunggu lama, ya?” tanyaku, sekedar basa-basi. Dia memang cukup menunggu lama, karena gue sengaja telat.

“Yaaa...mayan. Tapi nggak papa, mau pesen apa?” tanyanya sambil memberikan menu.

“Emmm...cemilan aja, deh.” Ucapku kemudian menyebutkan nama snack dan minuman.

“Emang udah makan?” tanyanya.

“Udah, kebetulan tadi sempet kumpul keluarga dan makan siang bareng.” Jawabku. Bohong.

“Ohh, ya udah.” Dia memesan makanan dan minuman.

Baru berjalan lima menit. Tapi rasanya aku sudah ingin pulang. Rasanya sangat melelahkan, alurnya akan sama, obrolan yang lancar, bertukar media sosial, lanjut pesan di media sosial, lancar-lancar-lancar, tapi akhirnya sama, nggak jadi.

“Sebenernya saya tahu soal kamu dari Bram udah lama. Tapi katanya waktu itu, kamu udah deket sama orang.” Ucapnya membuyarkan pikiranku.

“Ohh, iya. Udah lama banget ya berarti?”

“Iyaaa, kebetulan waktu itu saya juga dikenalin sama orang juga. Tapi perempuannya nyerah duluan, hahah.”

Aku hanya mengangguk sambil tertawa kecil.

“Kalau boleh tahu, kamu kenapa nggak jadi juga?” tanyanya.

Aku terdiam sejenak, mengawang.

“Kalau belum mau cerita nggak papa loh, nggak penting juga, kan?! Hehehe” ucapnya.

“Lain kali ya, kalau ada waktu.” Ucapku. Walaupun sudah berjarak satu tahun, aku masih belum bisa menganggap biasa.

“Iya. Kalau gitu, coba ceritain soal kamu aja. Kerja dimana, sehari-hari ngapain? Orangnya kayak gimana?”

Aku tersenyum tipis. Lagi. Sebenarnya hal seperti ini yang tidak aku sukai. Rasanya sudah berkali-kali aku melakukan hal yang sama, mengenalkan diriku, menceritakan masa lalu, mengatakan hal-hal yang menjadi kekuranganku, lagi, lagi, dan terus seperti tu.

“Kerja kantoran biasa, berangkat jam 7 pulang jam 4, jalan kaki soalnya deket sama rumah.”

“Udah berapa lama?”

“5 tahun, ada kayaknya.”

“Nggak cape jalan kaki terus?”

“Rasa capenya diawal, kalau udah 5 tahun gini jadi udah kebiasa.”

“Hahaha, iya juga ya. Sibuk banget ya di sana?”

“Umumnya orang di kantor sih.”

“Kata Bram, kamu suka lembur sampai tengah malam.”

“Dulu iya, sekarang udah nggak sesering itu.”

“Tadi saya sempet mikir, takut ganggu kamu kerja kalau ngajak ketemu siang ini,”

“Nggak papa, hari ini libur kok.”

“Tapi, kamu nggak papa, kan?” tanyanya dengan hati-hati.

Aku terdiam. Kemudian ada pelayan yang datang menyajikan menu pesanan kami. Disela-sela itu, aku mencoba mencari jawaban pertanyaan itu. Tapi sampai pelayan itu pergi aku tidak mendapatkan jawabannya. Sedangkan laki-laki dihadapanku masih menatap lekat ke arahku.

“Maaf, saya terpaksa karena Bram.” Ucapku.

Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk.

“Maaf ya, sebenernya saya juga nggak nyuruh Bram buat maksa kamu.”

“Nggak papa, saya juga tahu maksud Bram baik, dia bantu saya untuk nggak takut lagi berurusan sama kayak gini.”

“Apa yang kamu takutin? Buat jaga-jaga, biar saya nggak melakukan hal yang sama.”

Aku kembali tersenyum.

“Nggak perlu ngomong muluk-muluk, kalau tujuannya nggak sesuai sama apa yang diomongin.”

“Contohnya ngajak serius?”

“Mungkin,”

“Hahaha, kamu kerjanya apa sih?”

Kami melanjutkan obrolan lagi. 1 jam, 2 jam, sampai aku tidak sadar dan mulai menikmati obrolan dengannya.

“Gimana kalau kita bikin kesepakatan,” ucapnya sebelum pulang. “Kalau secara kebetulan kita ketemu, berarti saat itu juga kita jalan.” Lanjutnya.

Aku diam sebentar. Kemungkinan kecil sekali kami akan bertemu secara kebetulan, mengingat tempat kerja kami yang berbeda dan tempat tinggal yang berlawanan arah.

“3 detik, kalau nggak jawab dihitung sepakat.” Dia mulai menghitung dan aku tidak sempat menjawab.

“Okeee, semoga hari ini dan seterusnya menyenangkan ya.” Ucapnya sambil melambaikan tangan dan berlalu lebih dulu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...